TADABBUR HAJI

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ


Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah [2]:128)

Tadabbur haji adalah upaya memahami secara mendalam makna yang tersimpan dalam manasik atau rangkaian tata cara ibadah haji. Sebagaimana yang kita dapat pahami dari ayat di atas, manasik haji ini adalah satu hal yang Ibrahim mohonkan kepada Allah untuk ditunjuki. Dan tiga point di dalam doa Ibrahim sebagaimana tertera pada ayat di atas itu adalah satu kesatuan doa yang saling berkaitan. Dimana darinya kita dapatkan kesimpulan bahwa rangkaian tata cara ibadah haji yang Ibrahim mohonkan kepada Allah itu adalah adalah sebuah rangkaian peribadatan yang diharapkan dapat menjadi media untuk membentuk jiwa-jiwa yang berserah diri kepada Allah serta sekaligus menjadi jalan pertaubatan. Jalan kembali kepada fitrah.


Dan jika kita kembali mengkaji hujjah Ibrahim yang telah kita bahas sebelumnya, yaitu:

IMAN + TIDAK MENCAPURADUKAN IMAN DENGAN KEZALIMAN = AMAN


Kita mendapati terdapat beberapa narasi serupa itu di dalam Qur’an yang diantaranya:

IMAN + BERTAKWA = BERKAH DARI LANGIT DAN BUMI (QS. Al-A’raf [7]: 96)

IMAN + BERAMAL SHALEH = KEBAHAGIAAN DAN TEMPAT KEMBALI YANG BAIK (QS. Ar-Rad [13]:29)

IMAN + BERSERAH DIRI = SURGA DAN DIGEMBIRAKAN (QS. Az-Zukhruf [43]:69-70)


Yang dari itu dapat kita simpulkan bahwa seorang muslim itu; atau orang berserah diri kepada Allah itu adalah mereka yang BERAMAL SHALEH atau yang BERTAKWA atau yang TIDAK MENCAMPURADUKAN IMAN DENGAN KEZALIMAN itu. Dan sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, jika kita berbicara dalam konteks DIN atau agama atau sistem atau tatanan hidup, maka implementasi dari pada semua itu adalah membangun PERSATUAN DALAM KASIH SAYANG yang di dalamnya diwujudkan budaya saling meminta; budaya hidup; budaya bermasyarakat, dimana seluruh interaksi di dalamnya didasarkan dan disandarkan kepada nama Allah.


Lahirnya permohanan dari diri Ibrahim kepada Allah untuk dutunjukan prihal manasik haji; ditunjukan tata cara pelaksaan berhaji tahapan demi tahapannya itu, memperlihatkan kepada kita bahwa perkara manasik ini adalah sebuah perkara yang sangat penting. Ya. Karena memang rupanya di dalam peribadatan haji ini; yang sudah berlangsung beribu-ribu tahun ini, tersimpan padanya nilai-nilai dan formulasi kesuksesan dunia dan akhirat. Tersimpan padanya rahasia untuk mewujudkan persatuan dan persaudaraan umat manusia. Rahasia untuk mewujudkan perdamaian yang abadi dan menghentikan budaya pertumpahan darah dan kerusakan.


Namun dari pada itu satu hal yang harus kita pahami dengan baik terkait pelaksanaan peribadatan; baik itu shalat, puasa, zakat, haji atau yang peribadatan lainnya, bahwa semua ritual-ritual peribadatan tersebut haruslah kita pandang hanya sebuah media. Sebuah alat. Media atau alat bagi kita untuk membentuk diri. Mentraining diri kita untuk sampai kepada kualitas tertentu. Semua itu bukan untuk kepentingan Allah tapi untuk kepentingan kita manusia. Dan sungguh Allah tidak membutuhkan satu apapun dari kita. Dia Maha Kaya lagi Maha Terpuji.


Maka dari pada itu, dalam melaksanakan ibadah haji, hendaklah kita benar-benar meniatkanya sebagai jalan yang membawa kita lebih dekat kepada Allah. Lebih dekat kepada takwa. Lebih dekat kepada kesucian diri. Fokus kita adalah menyerap nilai dan pesan yang hendak Allah sampaikan melalui ibadah tersebut serta memproses diri kita menuju kualitas yang dikehendakinya dan bukan hanya sekedar menjalankan ritus-ritus kosong tanpa niat dan pemaknaan yang mendalam.

0 tampilan

© 2019 Rumah Kebangsaan Pancasila