SALAM (PEKIK) MERDEKA

Diperbarui: 9 Des 2018

Pada tanggal 30 Agustus 1945 Bung Karno pernah mengeluarkan maklumat tentang "Pekik Merdeka” yang dimaksudkan untuk menjadi salam nasional bangsa Indonesia. Isi dari pada maklumat yang berlaku sejak 1 September 1945 itu adalah sebagai berikut:

Sejak 1 September 1945, kita memekikan pekik 'Merdeka', perjoangkan terus pekik itoe, sebagai dengoengan djiwa jang merdeka!

Djiwa merdeka, jang berdjoang dan bekerdja!

Berdjoang dan bekerdja!

Boektikan itoe!"

~Soekarno~



Kata MERDEKA ini memang mempunyai posisi yang amat penting dan bernilai tinggi bagi bangsa Indonesia. Bahkan dapat kita katakan kata MERDEKA adalah sebuah kata yang keramat. Kata MERDEKA inilah yang menjadi nyala api perjuangan kita untuk membebaskan bangsa ini dari penjajah di masa yang lalu. Dan kata MERDEKA ini pula yang kita jadikan tema dan haluan bagi lahir dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.


Jadi, kata MERDEKA yang memiliki nilai historis yang begitu tinggi di dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, serta mampu memberi daya dorong yang amat kuat bagi gerak revolusi Indonesia itu, menempatkan kata MERDEKA sejatinya menjadi kata yang tidak boleh hilang dan lepas dari pikiran dan jiwa setiap orang dalam bangsa ini.


Sebab jika kita mengkaji dengan seksama perjalanan bangsa kita ini, kita akan melihat bagaimana kata MERDEKA yang mula-mula hadir sebagai dorongan KEINGINAN LUHUR fitrati di dalam pikiran dan jiwa bangsa Indonesia, seiring sejalan melalui sejarah panjang perjalanan bangsa ini, ia kemudian menempati posisi sentral sebagai IDEALISME ABADI bagi bangsa ini. Yang bahkan lebih jauh lagi dapat kita katakan bahwa Tuhan sendirilah yang telah mengkaruniai kata MERDEKA tersebut untuk menjadi idealisme abadi bagi bangsa Indonesia. Menjadi cita-cita, menjadi prinsip, menjadi dasar nilai dan ajaran yang membentuk KELUHURAN bangsa ini.


Secara garis besar bagaimana kata MERDEKA muncul dan berproses di dalam jiwa bangsa Indonesia dari sebuah ide yang lahir melalui dorongan KEINGINAN LUHUR untuk menjadi sebuah bangsa yang MERDEKA dari penjajah sampai kemudian ia menjadi IDEALISME SENTRAL yang menjiwai sendi-sendi perikehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, dapat kita lihat dalam rangkuman singkat berikut ini:


KATA MERDEKA SEBAGAI IDE (DORONGAN LUHUR)

Hidup sebagai satu bangsa yang terpecah belah dan terjajah selama ratusan tahun telah membawa bangsa ini ke dalam satu alam kehidupan yang diliputi penderitaan dan keterkungkungan. Tekanan yang demikian besar dalam waktu yang sangat lama itu akhirnya memunculkan letupan dari dalam diri bangsa ini untuk terbebas dari segala penderitaan dan keterkungkungan tersebut.


Dorongan untuk menjadi satu bangsa yang MERDEKA pun semakin lama semakin kuat sebagai sebuah ide yang hidup di dalam diri tiap-tiap orang dalam bangsa ini dan pada akhirnya bertemu dengan sebuah mementum yang menghasilkan sebuah gerakan yang kita kenal dengan sebuatan “Kebangkitan Nasional”. Masa kebangkitan Nasional itulah masa dimana kita dapati IDE untuk menjadi satu bangsa yang MERDEKA muncul sebagai sebuah DORONGAN LUHUR KOLEKTIF bangsa ini untuk terbebas dari penjajahan.


KATA MERDEKA SEBAGAI DASAR PEMERSATU BANGSA

DORONGAN LUHUR KOLEKTIF bangsa ini untuk MERDEKA kemudian berangsur-angsur membawa bangsa ini pada satu gagasan penyatuan kekuatan yang terpecah belah. Kata MERDEKA yang telah menjadi dorongan luhur kolektif; menjadi cita-cita dan kehendak bersama itu pun terus tumbuh dan memunculkan tuntutan-tuntutan yang membawa bangsa ini pada keharusan untuk menjadi satu kesatuan bangsa.


Kesamaan nasib sekaligus kesamaan kehendak itu melahirkan dorongan yang menggerakan bangsa ini kepada gagasan persatuan dan kesatuan bangsa yang waktu demi waktu terus mengkristal menjadi satu kesadaran bersama yang membawa bangsa ini pada satu tekad yang darinya terlahir apa yang kita kenal dengan “SUMPAH PEMUDA”.


Sumpah Pemuda inilah satu moment dimana kata MERDEKA tumbuh menjadi dasar-dasar nilai yang berhasil mempersatukan bangsa yang penuh perbedaan ini. Kata MERDEKA telah melahirkan dasar nilai yang memungkin kita untuk menerima perbedaan-perbedaan yang kita miliki itu menjadi sebuah sintesa: SATU TANAH AIR, SATU BANGSA, SATU BAHASA. INDONESIA.


KATA MERDEKA SEBAGAI KONSEPSI DASAR-DASAR PEMBENTUKAN NEGARA

Tersatukannya jiwa dan pikiran Bangsa Indonesia dalam semangat Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa itu, membawa kata MERDEKA bukan saja sekedar cita-cita bangsa melainkan juga mewujud sebagai sifat dasar dari bangsa Indonesia itu sendiri. Kata MERDEKA telah menetap di bagian terdalam dari pada bangsa Indonesia. Disadari atau tidak ia telah menempati posisi sebagai standar budaya dan standar prilaku bangsa.


Penghormatan akan nilai kemerdekaan membentuk bangsa Indonesia menjadi bangsa yang toleran atas perbedaan-perbedaaan yang ada. Kesadaran bahwa kemerdekaan adalah hak setiap bangsa, suku, golongan dan setiap individu membuat bangsa ini berdiri sebagai sebuah bangsa yang menolak penjajahan dalam segala bentuknya. Kemerdekaan semua buat semua adalah panji-panji yang bekibar disepanjang perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaannya.


Dan ketika pada akhirnya bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, ketika dengannya bangsa Indonesia terlahir menjadi satu bangsa yang MERDEKA dan mempunyaI ruang kemerdekaan untuk menyusun Negara Indonesia yang MERDEKA pun semangat kemerdekaan semua buat semua itu tetaplah menjadi tema sekaligus haluan bagi penyusunan dasar-dasar Negara Indonesia MERDEKA itu. Terlahirnya PANCASILA sebagai dasar dari pada Negara Indonesia Merdeka, merupakan satu momen perjalanan dimana kata MERDEKA tumbuh dan bertranformasi menjadi konsepsi dasar-dasar pembentukan negara.


KATA MERDEKA SEBAGAI IDEALISME PERIKEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

Jadi sebenarnya, NKRI itu sendiri merupakan penjelmaan dari pada jiwa MERDEKA. Seluruh aspek dalam tatanan NKRI mengandung arti MERDEKA di dalamnya. NKRI adalah sebuah implementasi untuk mewujudkan ajaran MERDEKA itu ke dalam perikehidupan berbangsa dan bernegara.


Dan tidak berhenti di situ, kata MERDEKA pun terus mengejawantah menjadi idealisme dalam perikehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Kata MERDEKA tumbuh mewujud menjadi suatu ajaran yang menjiwa setiap sendi sendi-sendi perikehidupan berbangsa dan bernegara kita. Hal tersebut dapat jelas kita lihat pada aline pertama Pembukaan UUD’45 yang meyatakan:


"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."


Dari apa yang dinyatakan pada alinea pertama Pembukaan UUD’45 tersebut nampak jelas bagaimana KEMERDEKAAN menempati posisi sentral dalam idealisme bangsa Indonesia. Dimana landasan yang kita gunakan untuk menyebut penjajahan di atas dunia harus dihapuskan dan landasan yang kita gunakan untuk mengukur tidak berperikemanusiaan dan berperikeadilannya penjajahan tersebut adalah KEMERDEKAAN. KEMERDEKAAN yang adalah fitrahnya setiap manusia. KEMERDEKAAN yang adalah haknya setiap bangsa, setiap golongan dan setiap individu.


KEMERDEKAAN ini pula yang kita jadikan dasar sentral bagi terwujudnya ketertiban dunia sebagaimana disebutkan pada alinea keempat Pembukaan UUD’45. KEMERDEKAAN – PERDAMAIAN ABADI – KEADILAN SOSIAL. Dimana hanya ketika bangsa-bangsa di atas dunia ini mau menerima KEMERDEKAAN sebagai idealisme; sebagai dasar keluhuran yang mengharuskannya saling menghormati KEMERDEKAAN sebagai hak tiap-tiap bangsa, barulah PERDAMAIAN ABADI yang menjadi cita-cita luhur umat manusia dapat terwujud. Dasar KEMERDEKAAN itu pula yang melahirkan sebuah keharusan bagi tiap-tiap bangsa untuk menjunjung tinggi KEADILAN SOSIAL. Keadilan yang menempatkan setiap bangsa, setiap golongan dan setiap individu setara dihadapan hukum bersama. Keadilan yang dapat menjamin tetap terpeliharanya PERDAMAIAN ABADI.


Maka, sebagaimana perkataan Bung Karno berikut ini:


“Pekik merdeka, saudara-saudara, adalah “pekik pengikat”. Dan bukan saja pekik pengikat, melainkan adalah cetusan daripada bangsa yang berkuasa sendiri, dengan tiada ikatan imperialisme—dengan tiada ikatan penjajahan sedikit pun. Maka oleh karena itu, saudara-saudara, terutama sekali fase revolusi nasional kita sekarang ini, fase revolusi nasional belum selesai, jangan lupa kepada pekik MERDEKA! Tiap-tiap kali kita berjumpa satu sama lain, pekikkanlah pekik MERDEKA!”


Marilah kita perjuangkan agar pekik MERDEKA itu agar menjadi dengungan dari jiwa-jiwa yang merdeka!


MERDEKA..!!!

0 tampilan

© 2019 Rumah Kebangsaan Pancasila