RKP MEMBANGUN DESA – Consolidate Bottom of Pyramid

Diperbarui: 28 Okt 2019

Gerakan Rumah Kebangsaan Pancasila Membangun Desa adalah salah satu program inti dari 8 program utama RKP. Program ini berangkat dari kesadaran bahwa NKRI bukan saja merupakan kumpulan ribuan pulau-pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, melainkan juga adalah kumpulan dari ribuan desa yang tumbuh di dalam ribuan pulau dari Sabang sampai Merauke tersebut.



Indonesia adalah negara yang besar. Kurang lebih terdapat 75.000 desa di negeri ini. Dan yang menariknya, jika dulu desa adalah objek pembangunan, dimana desa cenderung pasif dan hanya menunggu uluran tangan dari negara, kini desa melalui Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 diberi kedaulatan oleh negara untuk secara kreatif dan mandiri membangun desanya. Dan bukan hanya itu, pemerintah juga menggelontorkan anggaran yang sangat besar untuk membantu desa membangun kemandirian desanya. Sebesar 400 triliun dana yang dianggarkan pemerintah di tahun 2019 – 2024 ini. Yang dengan itu setiap desa akan mendapatkan dana lebih dari 1 milyar rupiah.


Disinilah RKP melihat terbuka lebar pintu kebangkitan Indonesia. RKP dengan pengalaman panjangnya selama lebih dari 15 tahun di dunia pendidikan, manajemen, pembedayaan masyarakat, penyelenggaran wisata, penglelolaan UMKM, marketing dan penerapan teknologi informasi, memantapkan diri untuk mendedikasikan pengalaman dan pengetahuannya untuk membantu desa mewujudkan desa yang mandiri. RKP melihat ini sebagai jalan untuk mengejawantahkan nilai-nilai Pancasila dalam suatu tatanan masyarkat. Tatanan Masyarakat Bhinneka Tunggal Ika – Masyarkat Pancasilis – Masyarakat Gotong Royong menuju terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Menuju terwujudnya cita-cita Proklamasi – terwujudnya Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.


Jika kita berbicara tentang mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur sebagaimana dicita-citakan dalam AMPERA (Amanat Penderitaan Rakyat) atau yang dikenal juga dengan Tiga Kerangka Revolusi Indonesia, pertanyaannya apakah ada kemakmuran di negeri ini? Jawabannya tentu saja ada! Hanya saja kemakmuran tersebut masih hanya menjadi milik segelitir orang saja. Belum menjadi milik dari pada seluruh rakyat Indonesia. Padahal kemakmuran itu adalah hak setiap orang dan bahkan kemakmuran itu adalah fitrahnya manusia. Sebab Tuhan memang telah mendesain alam semesta ini dalam kelimpahan yang sangat.


Gambaran realitas kemakmuran hari ini memang masih seperti piramida yang runcing di atas dan lebar di bawah. Data yang menunjukan 10% orang terkaya di Indonesia menguasai 74,8% kekayaan nasional adalah indikator dari perlunya upaya keras kita bersama untuk memastikan pemerataan kemakmuran. Dan syukurnya hal ini disadari betul oleh pemerintah yang darinya lahirlah gerakan “MEMBANGUN INDONESIA DARI DESA”. Dan ini adalah sebuah program yang luar biasa. Karena melalui program inilah consolidate bottom of pyramid dapat terjadi. Artinya melalui gerakan membangun Indonesia dari desa ini, kita berada dalam gerakan konsolidasi bagian bawah piramida kemakmuran agar kemakmuran lebih merata di kalangan rakyat Indonesia. Sehingga bentuk piramida lebih menyerupai tugu Jabal Rahmah peninggalan nabi Ibrahim ketimbang menyerupai piramida mesir peninggalan Fir’aun.


Program RKP membangun desa ini adalah respon antusias RKP untuk mendukung program pemerintah “Membangun Indonesia dari Desa”. Dan langkah tersebut kami mulai dari sebuah desa di Lombok Tengah NTB yaitu Desa Jango. Di desa Jango inilah kami bersama masyarakat membentuk koperasi untuk menjadi wadah pergerakan yaitu Koperasi Masyarakat Bhinneka Tunggal Ika dan membangun sebuah sentra edukasi dan ekonomi masyarakat di areal seluas 28 hektar yang kami beri nama Taman Wisata Edukasi Jabal Raham Desa Jango. Dimana gerakan membangun desa ini tentunya didesain dalam sinergi penuh dan terintegrasi dengan pemerintah serta masyarakat desa itu sendiri.


Kami sadar bentul bahwa kunci penting dari keberhasilan membangun desa ini adalah Gotong Royong. Gotong royong yang adalah esensi dari pada Pancasila itu, tidak bisa tidak, hanya dapat terjadi dalam masyarakat bhinneka tunggal ika. Masyarakat yang merasa dirinya satu. Masyarakat yang menerima satu sama lain sebagai saudaranya sebangsa tanpa melihat perbedaan suku, agama, ras dan golongan. Dan masyarkat Pancasila ini, masyarakat Gotong Royong inilah yang dapat menjalankan model ekonomi Pancasila. Ekonomi Gotong Royong. Ekonomi yang dibangun dengan melibatkan dan memberdayakan seluruh potensi yang ada dalam masyarakat yang digerakan oleh semangat kerja bersama untuk kesejahteraan bersama.


“Gotong Royong” adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan”, saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu faham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karyo, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama! Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong! Prinsip Gotong Royong diatara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.” ~ BUNG KARNO ~

0 tampilan

© 2019 Rumah Kebangsaan Pancasila