PERSATUAN DALAM KASIH SAYANG


يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا


Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan kasih sayang. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An Nisa [4]:1)


PERSATUAN DALAM KASIH SAYANG yang dibangun di atas kesadaran bahwa kita – seluruh manusia di dunia ini – adalah diciptakan oleh Tuhan yang sama, bermula dari satu rahim yang sama, keturunan dari satu orang laki-laki dan satu orang perumpuan yang sama – Adam dan Hawa, adalah intisari dari pada seruan berhaji. Dan ini adalah bentuk sebaik-baiknya dari BERIMAN DAN BERTAKWA kepada Allah. Bentuk sebaik-baiknya dari BERIMAN dan TIDAK MENCAMPURADUKAN IMAN DENGAN KEZALIMAN. Bentuk sebaik-baiknya dari MENGESAKAN ALLAH itu.


Tidak heran karenanya jika ada disabdakan “Al-Hajj Arafah” yang maknanya bahwa inti dari berhaji itu adalah Arafah. Ya, wukuf di Arafah memang merupakan rukun haji penentu. Kegagalan kita untuk menangkap pesan penting di Arafah akan membuat keseluruhan prosesi ibadah haji yang kita lakukan menjadi tidak berarti.


Arafah itu sendiri mempunyai arti “pengenalan”. Dan di tengah padang Arafah tersebut terdapat sebuah bukit yang dinamai dengan Jabal Rahman atau Bukit Kasih Sayang yang mana di atas bukit tersebut terdapat sebuah pilar setinggi 8 meter yang disebut dengan Pilar Rahmah atau Pilar Kasih Sayang. Sehingga jelas memang bahwa prosesi wukuf atau kontemplasi yang kita lakukan di Arafah ini adalah prosesi untuk mencapai pengenalan yang paling esensial. Pengenalan akan kasih sayang sebagai esensi dari kehidupan. Esensi dari manusia dan kemanusiaan. Dan bahkan esensi dari Allah itu sendiri sebagaimana diterangankan pada QS. 6:54.


Kembali kepada PERSATUAN DI DALAM KASIH SAYANG, persatuan itu sendiri pada dasarnya adalah IMAN UNIVERSAL seluruh manusia. Kita tahu betul bahwa persatuan adalah hal yang setiap orang, kelompok, agama, golongan dan bangsa menyadari betul arti pentingnya. Setiap kelompok pasti bicara tentang persatuan dan bahkan berdiri di atas nama persatuan ini. Karena memang kita sadar betul bahwa persatuanlah yang membuat suatu kelompok dapat tetap hidup, tumbuh dan kuat. Sebaliknya kita juga sadar betul bahwa perpecahan hanya akan membawa kita kepada kerusakan, kematian dan kehancuran.


Namun demikian, sebagaimana yang juga kita ketahui bersama, di dunia yang kita tinggali hari ini tidak sedikit orang, kelompok, agama, golongan dan bangsa yang masih mengkotak-kotakan dan membatasi persatuan itu sendiri. Di satu sisi mereka bicara dan mempraktekan persatuan tapi di sisi yang lain mereka juga bicara dan mempraktekan permusuhan. Di satu sisi mereka bicara perdamaian dan persaudaraan, tapi di sisi yang lain mereka juga mengobarkan peperangan dan perpecahan.


Hal demikian itu adalah salah satu bentuk nyata dari apa yang disebut dengan MENCAMPURADUKAN IMAN DENGAN KEZALIMAN itu. Dan sebagaimana rumusan yang ada pada hujjah Ibrahim, maka dapat kita katakan dengan pasti bahwa selama kita dan dunia ini masih dalam praktek-praktek yang demikian itu, maka selama itu pula kita tidak akan pernah bertemu dengan apa yang disebut dengan KEAMANAN itu.

Maka dari pada itu, jika kita berbicara tentang persatuan yang adalah IMAN UNIVERSAL kita itu, maka sebaik-baiknya bentuk persatuan itu adalah persatuan yang tidak menyisakan celah, ruang atau alasan sedikitpun bagi kita untuk berpecah-belah dan bermusuh-musuhan. Persatuan yang tidak dibatasi oleh segala rupa perbedaan suku, kelompok, ras, bangsa, agama atau golongan.


Begitu pula halnya dengan kasih sayang, kasih sayang pun pada dasarnya adalah IMAN UNIVERSAL seluruh manusia. Sebab tentu tidak ada seorang manusia pun dapat membantah bahwa kasih sayang adalah ruh; adalah energi esensial yang tertanam dalam diri setiap manusia sejak kelahirannya. Tidak juga ada suatu kelompok, agama, golongan dan bangsa yang dapat membantah bahwa kasih sayang adalah pokok utama yang menjadi penopang atau sumber dari pada kedamaian, keamanan dan kesejahteraan. Dan kita juga tahu betul bahwa kasih sayang ini bukanlah milik orang, kelompok, agama, golongan dan bangsa tertentu saja tapi milik setiap manusia tanpa terkecuali.


Namun demikian, ketika kasih sayang ini terkotak-kotakan dan terbatasi oleh bingkai kelompok, agama, golongan dan bangsa – dimana di satu sisi kita bicara dan mempraktekan kasih sayang namun di sisi yang lain kita juga bicara dan mempraktekan kebencian terhadap kelompok, agama, golongan atau bangsa lain, ketika itulah kita termasuk mereka yang disebut telah MENCAMPURADUKAN IMAN DENGAN KEZALIMAN. Dan, selama kita dan dunia ini masih dalam praktek-praktek yang demikian itu, maka adalah pasti kita tidak akan pernah bertemu dengan apa yang disebut dengan KEAMANAN itu.


Maka dari pada itu PERSATUAN DALAM KASIH SAYANG yang dibangun di atas kesadaran bahwa kita – seluruh manusia di dunia ini – adalah diciptakan oleh Tuhan yang sama, bermula dari satu rahim yang sama, keturunan dari satu orang laki-laki dan satu orang perumpuan yang sama – dari Adam dan Hawa, itulah bentuk nyata pengakuan kita bahwa TUHAN ITU ESA dan MANUSIA ITU SATU. Dan itulah sebaik-baiknya bentuk dari MENGESAKAN ALLAH itu.


Hanya di dalam persatuan yang demikian itulah kita akan mendapati tegaknya perikemanuisaan dan perikeadilan. Perikeadilan yang di dasari pada eksistensi kemanusiaan kita yang sama dan satu adanya. Keadilan yang demikian itu kita kenal dengan sebutan KEADILAN SOSIAL. Keadilan tanpa reduksi keberpihakan: suka-tidak suka, segolongan-tidak segolongan, seagama-tidak seagama atau segala bentuk reduksi keberpihakan lainnya. Keadilan sosial adalah keadilan yang ditegakan karena kebenaran – karena Allah. Keadilan yang demikian itu adalah keadilan yang disebut lebih dekat kepada TAKWA (lih. QS. Al-Maidah [5]:8)


Dan PERSATUAN DALAM KASIH SAYANG ini adalah persatuan yang tidak bersekat. Yang dalam bahasa Bung Karno disebut dengan PERSATUAN YANG BULAT MUTLAK DENGAN TIADA MENGECUALIKAN SESUATU GOLONGAN DAN LAPISAN. Ya, memang seperti itulah sejatinya persatuan itu. Sebab TUHAN ITU ESA, MANUSIA ITU SATU. Dan pada hakekatnya yang BHINNEKA itu sejatinya TUNGGAL IKA. BHINNEKA TUNGGAL IKA.

Ayat berikut ini adalah keterangan yang nyata yang mengharuskan kita untuk berdiri di atas nilai-nilai tersebut.


يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat [49]:13)


Dimana realitas keberagaman kita yang berbangsa-bangsa dan bersuku-suku serta segala rupa keragaman lainnya, tidaklah boleh membuat kita lupa kepada fakta bahwa kita – seluruh manusia di dunia ini – adalah diciptakan oleh Tuhan yang sama, bermula dari satu rahim yang sama, keturunan dari satu orang laki-laki dan satu orang perumpuan yang sama – Adam dan Hawa.


Dan segala keragaman yang tentu adalah sebuah keniscayaan itu, bukan agar dengannya kita berpecah-belah dan bermusuh-musuhan melainkan agar kita saling kenal-mengenal. Agar kita mencari titik temu; bersatu di atas landasan common sense kita dan bekerja sama untuk common interest kita. Agar kita berdiri di atas hujjah yang sama untuk hajat esensial kita yang serupa.


Jadi, sebenarnya persatuan yang demikian itulah pondasi bagi دين din atau agama atau sistem atau tatanan hidup yang lurus itu.


فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada DIN Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) DIN yang lurus; tetapi KEBANYAKAN MANUSIA TIDAK MENGETAHUI, (QS. Ar-Rum [30]:30)


Ya, sebagaimana disampaikan bahwa sebenarnya KEBANYAKAN MANUSIA TIDAK MENGETAHUI prihal din yang lurus itu. Dimana ukuran yang tidak bisa ditawar berkenaan dengan din yang lurus itu adalah keharusannya untuk selaras dengan FITRAH ALLAH dan FITRAH PENCIPTAAN MANUSIA. Kepada din yang demikian itulah kita hadapkan wajah kita dengan lurus.


مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (QS. Ar-Rum [30]:31)


Dan realitas dunia yang masih tenggelam dalam mengkotak-kotakan dan membatasi persatuan; realitas dunia yang masih tenggelam dalam mengkotak-kotakan dan membatasi kasih sayang, yang itu semua telah menyebabkan tidak dapat tegaknya KEADILAN SOSIAL – keadilan yang tidak tereduksi keberpihakan: suka-tidak suka, segolongan-tidak segolongan, seagama-tidak seagama atau segala bentuk reduksi keberpihakan lainnya, mengharuskan kita untuk kembali bertaubat.


Kita harus bekerja untuk merubah keadaan yang demikian itu demi terwujudnya PERSATUAN DALAM KASIH SAYANG. Terwujudnya KEADILAN SOSIAL. Terwujudnya budaya saling meminta; budaya hidup; budaya bermasyarakat, dimana seluruh interaksi kita di dalamnya kita dasarkan dan sandarkan kepada nama-Nya. Sebagai bentuk kita bertakwa kepada-Nya dan agar dengannya itu kita termasuk orang yang MENGESAKAN ALLAH dan bukan termasuk orang yang MUSYRIK.


مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. Ar-Rum [30]:32)


Yaitu orang-orang yang berpecah belah dan bergolong-golongan dan satu sama lain saling membanggakan golongan mereka masing-masing. Saling mengunggulkan kelompok mereka masing-masing. Persatuan mereka hanya pada golongan mereka; di luar itu mereka anggap sebagai musuh mereka. Kasih sayang mereka hanya dalam sebatas golongan mereka saja; di luar itu mereka lemparkan kebencian mereka padanya. Keadilan mereka hanya dalam bingkai golongan mereka saja; di luar itu seolah mereka berhak untuk mecuranginya.


Ya, mereka itulah orang-orang yang musyrik itu. Mereka itulah orang-orang yang MENCAPURADUKAN IMAN DENGAN KEZALIMAN itu.


Maka, marilah kita penuhi panggilan Allah untuk berhaji; untuk membebaskan, melepaskan dan membersihkan diri kita dari segala rupa dan bentuk kemusyirikan. Untuk bertauhid mengesakan-Nya.


لَبَّيْكَ اَللهُمَّ لَبَّيْكَ – لَبَّيْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ – اِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ – لاَشَرِيْكَ لَكَ

“Kami memenuhi dan akan melaksanakan perintah-Mu ya Allah, Tidak ada sekutu bagi-Mu dan kami memenuhi panggilan-Mu. Sesunguhnya segala pujian, nikmat dan kekuasaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu”.


43 tampilan

© 2019 Rumah Kebangsaan Pancasila