• Nurmansyah Muda

Mencapai Indonesia Merdeka

Hanya Rakyat yang mau merdeka bisa merdeka.

Tilak

Selatan dari Bandung adalah satu tempat-pegunungan yang bernama Pangalengan. Di tempat itu saya, sekembali saya dari saya punya tournee tempo hari ke Jawa Tengah yang membangkitkan Rakyat sejumlah 89.000 orang, bervakansi beberapa hari melepaskan kelelahan badan. Di dalam vakansi itu saya menulis ini risalah, ini vlugschrift.


Isinya buat kaum ahli-politik tidak baru, tapi buat orang yang baru menjejakkan kaki di gelanggang perjoangan ada faedahnya juga.

Untuk menjaga jangan sampai risalah ini menjadi terlalu tebal, – dus juga jangan sampai terlalu mahal harganya – , maka hanya garis­-garis besar sahaja yang bisa saya guratkan. Mitsalnya fatsal "Di seberang Jembatan-emas" kurang jelas. Tetapi Insya Allah ,akan saya bicarakan nanti spesial di dalam risalah lain, yang juga akan bernama

"Di seberang Jembatan-emas".

Moga-moga risalah ini banyak dibaca oleh Marhaen.

SUKARNO

Maret 1933


1. SEBAB-SEBABNYA INDONESIA TIDAK MERDEKA

Professor Veth pernah berkata, bahwa sebenarnya Indonesia tidak pernah merdeka. Dari zaman purbakala sampai sekarang, dari zaman ribuan tahun sampai sekarang, – dari zaman Hindu sampai sekarang, maka menurut professor itu Indonesia senantiasa menjadi negeri jajahan: mula-mula jajahan Hindu, kemudian jajahan Belanda.

Dengan per­setujuan yang sepenuh-penuhnya, maka di dalam salah satu bukunya ia mencantumkan syairnya seorang penyair yang berbunyi

"Aan Java's strand verdrongen zich de volken;

Steeds daagden nieuwe meesters over ‘t meer:

Zij volgden op elkaar, gelijk aan ‘t zwerk de wolken

De telg des lands alleen was nooit zijn heer."


syair mana berarti:

"Di pantainya tanah Jawa rakyat berdesak-desakan;

Datang selalu tuan-tuannya setiap masa:

Mereka beruntun-runtun sebagai runtunan aware;

Tapi anak-pribumi sendiri tak pernah kuasa."


Pendapat kita tentang pendirian ini? Pendapat kita ialah, bahwa professor yang pandai itu, yang memang menjadi salah satu "datuk"nya penyelidikan riwayat kita, ini kali salah raba. Ia lupa, bahwa adalah per­bedaan yang dalam sekali antara hakekatnya zaman Hindu dan hakekatnya zaman sekarang. Ia lupa, bahwa zaman Hindu itu tidak terutama sekali berarti suatu pengungkungan oleh kekuasaan Hindu, yakni tidak terutama sekali berarti suatu machtsusurpatie dari fihak Hindu di atas pundaknya fihak Indonesia. Ia lupa, bahwa di dalam zaman Hindu itu Indonesia sebenarnya adalah merdeka terhadap pada Hindustan, sedang di dalam zaman sekarang Indonesia adalah tidak merdeka terhadap pada negeri Belanda


Merdeka terhadap pada Hindustan? Toch raja-raja zaman purbakala itu mula-mula bangsa Hindu? Tokh kaum ningrat zaman purbakala itu mula-mula bangsa Hindu? Toch kekuasaan zaman purbakala itu ada di tangannya orang-orang bangsa Hindu? Tokh dus, Rakyat jelata zaman purbakala itu diperintah oleh orang-orang bangsa Hindu? Ya! Merdeka terhadap pada Hindustan, oleh karena kaum yang kuasa di dalam zaman Hindu itu tidaklah terutama sekali kaum "usurpator", tidak terutama sekali kaum "perebut kekuasaan", tidak terutama sekali kaum penja­jah. Mereka bukanlah kaum yang merebut kerajaan, tetapi mereka sendirilah yang mendirikan kerajaan di Indonesia! Mereka menyusun staat Indonesia, yang tahadinya tidak ada staat Indonesia,. Mereka "mene­mukan" masyarakat Indonesia tidak sebagai suatu masyarakat yang sudah berupa "negeri", tetapi suatu masyarakat yang belum ketinggian susunan. Mereka mendirikan di sini suatu keadaban, suatu cultuur, yang bukan suatu cultuur "dari atas", bukan suatu "imperialistische cultuur", – tetapi suatu cultuur yang hidup dan subur dengan masyarakat Indonesia. Mereka pu­nya perhubungan dengan Hindustan bukanlah perhubungan kekuasaan, bukanlah perhubungan pemerintahan, bukan perhubungan macht, – tetapi ialah perhubungan peradaban, perhubungan cultuur. Raja-raja zaman purbakala itu hanya di dalam permulaannya sahaja orang-orang bangsa Hindu, – raja-raja itu kemudian adalah orang-orang Hindu-Indonesia, dan kemudian lagi orang-orang Indonesia-Hindu, yang adat-istiadatnya, cara-hidupnya, agamanya, cultuurnya, kebangsaan-nya, darahnya, rasnya berganda-ganda kali lebih Indonesia daripada Hindu, ya, akhirnya samase‑kali Indonesia dan hanya "berbau" sahaja Hindu. Pendek-kata, di dalam zaman purbakala itu negeri Indonesia bukanlah "koloni" dari negeri Hindu, bukan "kepunyaan" negeri Hindu, bukan jajahan negeri Hindu. Negeri Indonesia di zaman itu adalah merdeka terhadap pada negeri Hindu adanya!


Negeri Indonesia ketika itu merdeka, – tetapi penduduk Indonesia, Rakyat-jelata Indonesia, Marhaen Indonesia, adakah ia juga merdeka? Marhaen Indonesia tidak pernah merdeka. Marhaen Indonesia, sebagai Rakyat Marhaen di seluruh dunia, sampai kini belum pernah merdeka! Marhaen Indonesia itu di zaman "Hindu", tatkala negeri Indonesia ber­nama merdeka dari Hindustan, adalah diperintah oleh raja-rajanya secara feodalisme: Mereka hanyalah menjadi perkakas sahaja dari raja-raja itu dengan segala bala-keningratannya, mereka tidak mempunyai hak menentukan sendiri putih-hitam nasibnya, mereka senantiasa ditindas oleh "kaum atasan" daripada masyarakat Indonesia itu, sebagai­mana kaum Marhaen di mana-mana negeri di muka bumi di zaman feodal­isme juga menderita nasib tertindas dan terkungkung. Mereka haruslah hidup dengan selamanya ingat bahwa miliknya dan nyawanya "nek awan duweke sang nata, nek wengi duweke dursila", yakni dengan selamanya ingat akan nasibnya perkakas, yang banyak kewajibannya tetapi tiada hak-haknya samasekali. 0, Marhaen Indonesia, yang dulu celaka dalam zaman feodalismenya kerajaan dan keningratan bangsa sendiri, yang kini celaka dalam zaman modern kapitalisme dan imperialisme, – berjoang­lah habis-habisan mendatangkan nasib yang sejati-jatinya merdeka!


Tetapi marilah kembali pada pokok pembicaraan: Negeri Indonesia, berlainan dengan pendapat professor Veth, dulu adalah negeri yang mer­deka. Negeri Indonesia itu kemudian hilang kemerdekaannya, kemudian menjadi koloni, kemudian menjadi bezitting, kemudian menjadi negeri-jajahan. Dan bukan negeri Indonesia sahaja! Seluruh dunia Azia kini, – kecuali satu-dua bagian sahaja, – adalah tidak merdeka. Mesir tidak merdeka, Hindustan tidak merdeka, Indo-China tidak mer­deka, Philippina tidak merdeka, Korea tidak merdeka, ya, Tiongkok tidak merdeka. Sebab-sebabnya?

Sebab-sebabnya, sumber sebab-sebabnya, haruslah kita cari di dalam susunan dunia beberapa abad yang lalu. Tiga empat ratus tahun yang lalu, di dalam abad keenam-belas ketujuh-belas, maka di dunia Barat adalah selesai suatu perobahan-susunan-masyarakat: feodalisme Eropah mulai surut sedikit-persedikit, timbullah suatu kegiatan-pertukangan dan perdagangan, timbullah suatu klasse pertukangan dan perdagangan, yang giat sekali berniaga di seluruh benua Eropah-Barat. Dan tatkala klasse ini menjadi sekuat-kuatnya, tatkala mereka punya kedudukan menjadi kedudukan kecakrawartian, tatkala seluruh masyarakat Eropah-Barat bersifat mereka punya vroeg-kapitalisme, maka benua Eropah segeralah menjadi terlalu sempit bagi perniagaannya. Terlalu sempit benua Eropah itu bagi usahanya berjengkelitan membesar-besarkan tubuh dan anggau­tanya, terlalu sempit sebagai padang-permainannya vroeg-kapitalisme itu! Maka timbullah suatu nafsu, suatu stelsel, mencahari padang-padang­permainan di benua-benua lain, – terutama sekali di benua Timur,di benua Azia!


Masih kecillah imperialismel) ini pada waktu itu, jauh lebih kecil daripada imperialisme-modern di zaman sekarang! En tokh dunia Timur waktu itu tiada kekuatan sedikitpun jua untuk menolak imperialisme yang masih kecil itu? Di manakah kekuatan Hindustan, di manakah kekuatan Philippina, di manakah kekuatan Indonesia, – di manakah ke­kuatan masyarakat Indonesia, yang dulu katanya mempunyai kerajaan­-kerajaan gagah-sentausa seperti Sriwijaya, seperti Mataram kesatu, seperti Majapahit, seperti Pajajaran, seperti Bintara, seperti Mataram kedua?


Ah, masyarakat Indonesia khususnya, masyarakat Azia umumnya, pada waktu itu kebetulan sakit. Masyarakat Indonesia pada waktu itu adalah suatu masyarakat "in transformatie", yakni suatu masyarakat yang sedang asyik "berganti bulu": feodalisme-kuno yang terutama sekali feodalisme­nya Brahmanisme, yang tidak memberi jalan sedikitpun jua pada rasa-keperibadian, yang menginggap raja beserta bala-keningratannya sebagai titisan dewa dan menganggap Rakyat sebagai perkakas-melulu daripada "titisan dewa" itu, -feodalisme-kuno itu dengan pelahan­-pelahan didesak oleh feodalisme-baru, feodalismenya ke-Islam-an, yang sedikit lebih demokratis dan sedikit lebih memberi jalan pada rasa­ keperibadian. Pertempuran antara feodalisme-kuno dan feodalisme-baru itu, yang pada lahirnya mitsalnya berupa pertempuran antara Demak dan Majapahit, atau Banten dan Pajajaran -, pertempuran antara feodal­isme-kuno dan feodalisme-baru itulah seolah-olah membikin badan­ masyarakat menjadi "demam" dan menjadi "kurang-tenaga". Memang tiap-tiap masyarakat "in transformatie" adalah seolah-olah demam. Dan memang tiap-tiap masyarakat yang demikian itu adalah "abnormal", lem­bek, kurang-tenaga. Lihatlah mitsalnya "demamnya" dan lembeknya masyarakat Eropah di zaman abad-pertengahan tatkala masyarakat Eropah pada waktu itu "in transformatie" dari feodalisme ke-vroeg-kapitalisme, lihatlah "demam"-nya masyarakat Eropah itu juga satu-setengah-abad yang lalu tatkala "mlungsungi" dari vroeg-kapitalisme ke-modern-kapitalisme, lihatlah "demam"-nya masyarakat Tiongkok-sekarang yang juga sedang "berganti bulu" masuk ke tingkat kapitalisme. Tubuh masyarakat memang tak beda dari tubuh manusia, tak beda dari sesuatu tubuh yang hidup, yang juga tiap-tiap saat perobahannya membawa kesakitan dan kekurangan tenaga!

1) Buat jelasnya imperialisme, lihatlah saya punya pleidooi, hoofdstuk II. Sekarang "Indonesia Menggugat", Red.


Hairankah kita, kalau masyarakat Indonesia, yang pada waktu datang­nya imperialisme dari Barat itu kebetulan ada di dalam keadaan transfor­matie, tak cukup kekuatan untuk menolaknya? Kalau imperialisme Barat itu segera mendapat kedudukan di dalam masyarakat yang sedang bersakit demam itu? Kalau imperialisme Barat itu segera bisa menjadi cakra­warti di dalam masyarakat yang lembek itu? Satu-per-satu negeri-negeri di Indonesia tunduk pada cakrawarti yang baru itu. Satu-per-satu negeri­negeri itu lantas hilang kemerdekaannya. Satu-per-satu negeri-negeri itu lantas menjadi kepunyaannya Oost Indische Compagnie. Indonesia yang dahulunya, ondanks professor Veth, adalah Indonesia yang merdeka, pelahan-lahan menjadilah Indonesia yang semua daerahnya tidak mer­deka. Rakyat Indonesia yang dahulunya berkeluh-kesah memikul feodalismenya kerajaan dan keningratan bangsa sendiri, kini akan lebih-lebih lagi berkeluh-kesah memikul "berkah-berkahnya" stelsel imperialisme dari dunia Barat. Rakyat Marhaen, sebagai disyairkan oleh sahabatnya prof. Veth, boleh terus menyanyi:

"Tapi anak-pribumi sendiri tak pernah kuasa" …


Inilah asal-muasalnya kesialan nasib negeri Indonesia! Inilah pokok­ sebabnya permulaan negeri Indonesia menjadi negeri yang tidak merdeka: suatu masyarakat sakit yang kedatangan utusan-utusannya masyarakat yang gagah-perkasa, – utusan-utusan yang membawa keuletannya masyarakat yang gagah-perkasa, alat-alatnya masyarakat yang gagah-perkasa„ ilmu­ kepandaiannya masyarakat yang gagah-perkasa. Masyarakat yang sakit itu tidaklah lagi mendapat kesempatan menjadi sembuh, – masyarakat yang sakit itu malahan makin lama makin menjadi lebih sakit, makin habis semua "kutu-kutunya", makin habis semua tenaga dan energienya. Tetapi imperialisme yang menghinggapinya itu sebaliknya makin lama makin ber­sulur dan berakar, melancar-lancarkan tangannya ke kanan dan kekiri dan ke belakang dan ke depan, melebar, mendalam, meliputi dan menyerapi tiap-tiap bagian daripada masyarakat yang sakit itu. Imperialisme yang tatkala baru datang adalah imperialisme yang masih kecil, makin lama makin menjadi haibat dan besar, menjadi raksasa maha-shakti yang seakan-akan tak berhingga kekuatan dan energienya. Imperialisme-raksasa itulah yang kini menggetarkan bumi Indonesia dengan jejaknya yang seberat gempa, menggetarkan udara Indonesia dengan guruh suaranya yang sebagai guntur, – mengaut-aut di padang-kerezekian negeri Indonesia dan Rakyat Indonesia. Imperialisme-raksasa inilah yang harus kita lawan dengan keberaniannya ksatrya yang melindungi haknya!


2. DARI IMPERIALISME-TUA KE IMPERIALISME-MODERN

Tahukah pembaca bagaimana mekarnya imperialisme itu? Bagai­mana ia dari imperialisme-kecil menjadi imperialisme-raksasa, dari imperialisme-zaman-dulu menjadi imperialisme-zaman-sekarang, dari imperialisme-tua menjadi imperialisme-modern? Bagaimana imperialisme-tua itu berganti bulu sama sekali menjadi imperialisme-modern, yakni bukan sahaja berganti besarnya, tetapi juga berganti wujudnya, berganti sifatnya, berganti caranya, berganti sepak-terjangnya, berganti wataknya, berganti stelselnya, berganti sistimnya, berganti segala-galanya, – dan hanya satu yang tidak berganti padanya, yakni kehausannya men­cahari rezeki?


Kamu belum mengetahui hal ini? Pembaca, imperialisme adalah dilahirkan oleh kapitalisme. Imperialisme adalah anaknya kapitalisme. Imperialisme-tua dilahiikan oleh kapitalisme-tua, imperialisme-modern dilahirkan oleh kapitalisme-modern. Wataknya kapitalisme-tua adalah berbeda besar dengan wataknya kapitalisme-modern. Sedang kapitalisme ­tua belum kenal akan tempat-tempat-pekerjaan sebagai sekarang, belum kenal paberik-paberik sebagai sekarang, belum kenal industri-industri sebagai sekarang, belum kenal bank-bank sebagai sekarang, belum kenal perburuhan sebagai sekarang, belum kenal cara-productie sebagai seka­rang, – sedang kapitalisme-tua itu cara-productie-nya hanya kecil-kecilan sahaja dan di dalam segala-galanya berwatak kuno, maka kapitalisme ­modern adalah menunjukkan kemoderenan yang haibat sekali: tempat­-tempat-perkerjaan yang ramainya menulikan telinga, paberik-paberik yang asapnya menggelapkan angkasa, bank-bank yang tingginya mencakar langit, perburuhan yang memakai ribuan-ketian kaum proletar, pembikinan barang yang tidak lagi menurut banyaknya pesanan, tetapi pembikinan barang yang hantam-kromo banyaknya sampai bergudang-gudang. Maka imperialisme ­tua yang dilahirkan oleh kapitalisme-tua itu, – imperialismenya Oost Indische Compagnie dan imperialismenya Cultuurstelsel, – imperialisme ­tua itu niscayalah satu watak dengan "ibunya", yakni watak-tua, watak­kolot, watak-kuno. Tidaklah kenal imperialisme-tua itu akan cara-cara "modern", tidaklah kenal ia akan cara-cara "sopan". Ia menghantam ke kanan dan ke kiri, menanam dan menjaga stelsel monopoli dengan ke­kerasan dan kekejaman. Ia mengadakan sistim paksa di mana-mana, ia membinasakan ribuan jiwa manusia, menghancurkan kerajaan-keraja­an dengan kekerasan senjata, membasmi milliunan tanaman cengkeh dan pala yang membahayakan keuntungannya. Ia melahirkan aturan contin­genten1) dan leverantien2) yang sangat sekali berat dipikulnya oleh Rakyat, ia dengan terang-terangan melahirkan aturan-aturan yang memadamkan perdagangan Indonesia, ia dengan terang-terangan menjalankan politik­nya memecah-mecah. Ia menjalankan tindakan-tindakan kekerasan, yang menurut professor Snouck Hurgronje, "sukar sekali kita menahan kita punya rasa-jemu dan rasa-jijik". Ia di zaman akhir-akhirnya mela­hirkan suatu stelsel-kerja-paksa baru, yang lebih kejam lagi, lebih menguntungkan lagi, lebih memutuskan nafas lagi, yakni cultuurstelsel yang sebagai cambuk jatuh di atas pundak dan belakangnya Rakyat. Ya, pendek-kata, sangat sekali "kuno" di dalam sepak-terjang dan wataknya: paksaan dan perkosaan terang-terangan adalah iapunya nyawa!


Tetapi lambat-laun di Eropah modern-kapitalisme mengganti vroeg­kapitalisme yang sudah tua-bangka. Paberik-paberik, bingkil-bingkil, bank-bank, pelabuhan-pelabuhan, kota-kota-industri timbullah seakan-­akan jamur di musim dingin, dan tatkala modern-kapitalisme ini sudah dewasa, maka modal-kelebihannya alias surplus kapitaalnya lalu ingin dimasukkan di Indonesia, – modern-imperialisme lalu menjelma di muka bumi, ingin menggantikan imperialisme-tua yang juga sudah tua-bangka.


Tak berhenti-henti, begitulah saya tempohari menulis dalam saya punya pleidooi tak berhenti-henti modern-imperialisme itu memukul-mukul di atas pintu-gerbang Indonesia yang kurang lekas dibukanya, tak berhenti­henti kampiun-kampiunnya modern-imperialisme yang tak sabar lagi itu menghantam-hantam di atas pintu-gerbang itu, tak berhenti-henti penjaga­-penjaga pintu-gerbang itu saban-saban sama gemetar mendengar de­ngungnya pekik "naar vrij arbeid!", "kearah kerja-merdeka!" daripada kaum-kaum modern-kapitalisme yang tak mau memakai lagi sistim kuno yang serba paksa itu, melainkan ingin mengadakan sistim baru yang me­makai "kaum-buruh merdeka", "penyewaan tanah merdeka", "persaingan merdeka", d.l.s. Dan akhirnya, pada kira-kira tahun 1870, dibukalah pintu­ gerbang itu! Sebagai angin yang makin lama makin meniup, sebagai aliran sungai yang makin lama makin membanjir, sebagai gemuruhnya tentara menang yang masuk ke dalam kota yang kalah, maka sesudah Agrarische wet dan Suikerwet-de-Waal di dalam tahun 1870 diterima baik oleh Staten­Generaal di negeri Belanda, masuklah modal-partikelir di Indonesia, – mengadakan paberik-paberik gula di mana-mana, kebon-kebon teh di mana-mana, onderneming-onderneming tembakau di mana-mana, dan lain seba­gainya; tambahan lagi modal-partikelir yang membuka macam-macam perusahaan tambang, macam-macam perusahaan kereta-api, tram, kapal, atau paberik-paberik yang lain-lain. Imperialisme-tua makin lama makin layu, makin lama makin mati, imperialisme-modern mengganti tempat­-tempatnya: Tjara-pengambilan rezeki dengan jalan monopoli dan paksa makin lama makin diganti cara-pengambilan rezeki dengan jalan per­saingan-merdeka dan buruh-merdeka, cara-pengambilan rezeki yang menggali untung bagi "negeri" Belanda makin lama makin mengerut, terdesak oleh pengambilan rezeki secara baru yang mengayakan modal­ partikelir.


1) Contingent = Serupa pajak, dibayar dengan barang-barang hatsil-bumi oleh Kepala-kepala.

2) Leverantien = Kepala-kepala dipastikan setor barang-barang hatsil-bumi yang dibeli oleh Compagnie. Tetapi banyaknya dan harganya barang itu Compagnie-lah yang menentukan!


Cara pengambilan berobah, sistimnya berobah, wataknya berobah, – tetapi banyakkah perobahan bagi Rakyat Indonesia? Banjir-harta yang keluar dari Indonesia bukan semakin surut, tetapi malahan makin besar, drainage Indonesia malahan makin makan! "Tak pernahlah untung-bersih itu mengalirnya begitu deras sebagai justru di bawah pimpinannya exploi­tant baru itu; aliran itu7hanyalah melalui jalan-jalan yang lebih tenang", begitulah seorang politikus pernah menulis.


Memang, bagi Rakyat Indonesia perobahan sejak tahun 1870 itu hanyalah perobahan caranya pengambilan rezeki; bagi Rakyat Indone­sia, imperialisme-tua dan imperialisme-modern dua-dua tinggal imperial­isme belaka, dua-dua tinggal pengangkutan rezeki Indonesia keluar pagar, dua-duanya tinggal drainage. Dan drainage inipun di dalam zaman modern-imperialisme makin membanjir! Raksasa-imperialisme-modern itu tidak tinggal raksasa sahaja, raksasa-imperialisme-modern itu di kemu­dian hari menjadilah raksasa yang bertambah kepala dan bertambah tangannya: Sejak adanya opendeur-politiek" di dalam tahun 1905, maka modal yang boleh masuk ke Indonesia dan mencari rezeki di Indonesia bukanlah lagi modal Belanda sahaja, tetapi juga modal Inggeris, juga modal Amerika, juga modal Jepang, juga modal Jerman, juga modal Perancis, juga modal Italia, juga modal lain-lain, sehingga imperialisme di Indonesia kini adalah imperialisme yang internasional karenanya. Raksasa-"biasa" yang dulu berjengkelitan di atas padang kerezekian Indo­nesia, kini sudah menjadi raksasa Rahwana Dasamuka yang bermulut sepuluh!


Dan bukan sahaja bermulut sepuluh! Juga jalannya mencari rezeki kini bukan satu jalan sahaja, tetapi jalan yang bercabang­cabang tiga-empat. Bukan lagi Indonesia hanya menjadi tempat pengambilan barang-barang-biasa sebagai di zamannya imperialisme-tua, bukan lagi Indonesia hanya menjadi tempat pengambilan pala atau cengkeh atau merica atau kayu-manis atau nila, tetapi kini juga menjadi pasar penjualan barang-barang keluarannya kepa­berikan negeri asing, juga menjadi tempat penanaman modal asing, yang di negeri asing sendiri sudah kehabisan tempat,pendek-kata: juga menjadi afzetgebied dan exploitatiegebied-nya surplus kapitaal.


Terutama "jalan" yang belakangan inilah, yakni "jalan" penanaman modal asing di sini, adalah yang paling haibat dan makin bertambah haibat: paberik-paberik-gula bukan puluhan lagi tapi ratusan, onderneming teh dibuka di mana-mana, onderneming karet tersebar ke semua jurusan, onderneming kopi, onderneming kina, onderneming tembakau, onderne­ming sereh, tempat-tambang timah, tempat-tambang emas, tempat penge­boran minyak, tempat-perusahaan-besi, bingkil-bingkil, kapal-kapal dan tram-tram, -semua itu adalah penjelmaannya penanaman modal asing di sini, semua itu adalah menggambarkan bagaimana haibatnya raksasa itu memperusahakan Indonesia menjadi exploitatiegebied-nya surplus kapi­taal. Ribuan, tidak, milyunan kekayaan yang saban tahun meninggalkan Indonesia, mengayakan modern-kapitalisme di dunia Barat. Perhatikanlah angka-angka di bawah ini, perhatikanlah angka-angka daripada besarnya impor dan ekspor buat 1924-1930′).

1924 impor f 678.268.000 ekspor f 1.530.606.000

1925

f 818.372.000

f 1.784.798.000

1926

f 865.394.000

f 1.568.393.000

1927

f 871.732.000

f 1.624.975.000

1928

f 969.988.000

f 1.580.043.000

1929

f 1.072.139.000

f 1.446.181.000

1930

f 855.527.000

f 1.159.601.0002)

Apa yang ternyata dengan angka-angka ini? Dengan angka-angka ini ternyatalah apa yang saya katakan di atas: bahwa Indonesia adalah terutama sekali tempat penanaman modal asing, yang niscaya barang-hatsilnya lalu dibawa keluar; bahwa Indonesia dus dihinggapi imperialisme yang teru­tama sekali mengekspor, imperialisme yang di dalam masa yang "normal" rata-rata dua kali jumlah harganya rezeki yang ia angkuti keluar daripada yang ia masukkan kedalam; bahwa Indonesia dus sangat sekali menderita drainage.

1) Impor = baring yang dimasukkan (Indonesia afzetgebied). Ekspor = barang yang dibawa keluar (Indonesia exploitatiegebied).

2) Malaise!

3) Politik "pintu terbuka".


Amboi, rata-rata dua kali gandanya ekspor daripada impor!- begitu­lah saya tempohari menulis dalam "Suluh Indonesia Muda"–, rata-rata dua kali gandanya ekspor daripada impor, bahwasanya, memang suatu ban­dingan yang celaka sekali, suatu bandingan yang memang memegang rekor daripada semua drainage yang ada di seluruh muka bumi! Indonesia yang celaka! Sedang bandingannya ekspor/impor di negeri-negeri jajahan yang lain-lain ada "mendingan", sedang bandingan itu di dalam tahun 1924

buat Afrika Selatan adalah 118,7/100

buat Philippina 123,1/100

buat India 123,3/100

buat Mesir 129,9/100

buat Ceylon 132,8/100,


maka buat Indonesia ia menjadi yang paling celaka, yakni 220,4/100! Dua ratus dua puluh koma empat prosen besarnya ekspor dibandingkan dengan impor, – hairankah kita, kalau seorang ahli ekonomi sebagai Professor van Gelderen tersia-sia mencari angka yang lebih tinggi, dan berkata bahwa "kalau dibandingkan angka-angka di Hindia dengan angka­-angka negeri lain, maka ternyatalah bahwa tidak ada satu negeri di muka bumi ini yang prosentasenya begitu tinggi seperti Hindia-Belanda"? Hairan­kah kita, kalau seorang komunis C. Santin, yang toch biasa melihat angka­-angka yang "kejam", menyebutkan iniperialisme di Indonesia itu suatu imperialisme yang "mendirikan bulu"?

Dua ratus dua puluh koma empat prosen besarnya ekspor, – dan apakah yang diekspor keluar itu? Yang diekspor keluar ialah terutama sekali "hatsil-onderneming" dan minyak. Yang diekspor ialah gula, karet, tembakau, teh, minyak-tanah, bensin, dan lain sebagainya, yang menurut angka-angka di atas tahadi total-jenderalnya di zaman "normal" paling "apes" f 1.500.000.000. – zegge: seribu lima ratus juta rupiah setahun­-tahunnya, sebagaimana buat percontohan saya sajikan di bawah ini:

Hatsil-hatsil minyak tanah total

f 149.916.000

Arachides

4.335.000

Korot

417.055.000

Damar

9.911.000

Kopra

73.083.000

Gambir

1.194.000

Getah-Per,tj a

1.895.000

Jelutung

2.073.000

Topi

2.405.000

Kaju

9.106.000

Kulit

16.067.000


1) Angka-angka buat tahun 1937.

Babakan kina

5.454.000

Pil kina

1.821.000

Kopi

74.376.000

Jagung

4.033.000

Kain-kain

5.425.000


Minyak-minyak (dari tanaman) total

14.766.000

Pinang

7.307.000

Rotan

8.521.000

Beras

2.373.000


Rempah-rempah total

33.409.000

Spiritus

3.125.000

Arang-batu

5.019.000

Gula total

365.310.000

Tembakau total

113.926.000

Tepung ketela

21.423.000

Teh

90.220.000

Timah total

93.864.000

Bungkil

4.132.000

Kapuk, serat nanas, dll.

38.250.000

Lain-lain hal

42.484.000

Total-jenderal

f 1.622.278.000


Inilah daftar daripada "makan jalan" di dalam pesta untu merayakan "beschaving-en-orde-en-rust" yang jadi cangkingannya imperialisme modern di Indonesia! Perhatikanlah nama-nama dan angka-angka yang dicetak dengan huruf tebal: Kecuali minyak-tanah dan timah, maka nama-nama itu adalah semuanya nama-nama hatsil "onderneming land‑bouw", dan semuanyapun angka-angka yang paling gemuk. Karet sekian milyun, kopra sekian milyun, kopi sekian milyun, minyak-minyak-tanaman sekian milyun, gula sekian milyun, … tembakau, teh, kapuk, serat nanas sekian milliun, – dari delapan macam hatsil onderneming landbouw ini sahaja jumlah ekspor sudah f 1.186.986.000, atau kurang lebih 75% dari semua jumlah ekspor yang f 1.622.278.000 itu! Konklusi? Konklusi ialah, bahwa imperialisme-modern yang mengaut-aut di padang perekonomian Indonesia itu ialah terutama sekali imperialisme-pertanian, atau lebih tegas: landbouw-industrieel imperialisme. Konklusi ialah, bahwa bagi perjoangan kita adalah sangat sekali pentingnya kita antara lain-lain mengadakan sarekat sarekat-tani, sebagai nanti akan kita terangkan dibagian 8 dari ini risalah.


"Makan yalan" ekspor setahun-tahunnya rata-rata f 1.500.000.000 rupiah! Tetapi berapakah besarnya untung yang didapatnya dari penjualan barang yang sekian milyun itu? Ondernemersraad, yakni serikatnya kaum modal sendiri, memberi jawab sendiri yang terus terang di atas pertanyaan ini: setahun-tahunnya mereka mendapat untung sebesar 9% a 10% dari modal-induknya, – di dalam tahun 1924 sejumlah f 490.000.000, di dalam tahun 1925 sejumlah f 540.000.000, di dalam setahun-tahunnya dus rata-rata f 515.000.000. Untung bersih lima ratus limabelas milyun rupiah setahun, dan ini adalah 9% a 10% dari mereka punya modal-induk! Men­jadi dus mereka punya modal-induk, yakni jumlahnya semua modal yang ditanam di Indonesia, adalah: 100/9 x

f 515.000.000 = f 5.722.000.000, atau hampir f 6.000.000.000 ! Amboi, semua angka-angka hanya milyunan sahaja, tidak ada yang ribuan, ya, tidak ada yang ketian atau laksaan! Jumlah modal: enam ribu milyun, jumlah harganya barang yang saban tahun diangkuti ke luar ke pasar dunia: seribu lima ratus milyun, jumlah untung bersih saban tahun: lima ratus limabelas milliun!

Sedang bagi Marhaen, yang membanting tulang dan berkeluh-kesah mandi keringat bekerja membikinkan untung sebesar itu, rata-rata di dalam zaman "normal" tak lebih dari delapan sen seorang sehari.



3. "INDONESIA, TANAH YANG MULYA, TANAH KITA YANG RAYA; DI SANALAH KITA BERADA, UNTUK SELAMA-LAMANYA,"

Ya, di dalam zaman "normal", sebelum meleset, tak lebih dari delapan sen seorang sehari. Dan inipun bukan hisapan-jempol kaum pembohong, bukan hasutannya kaum penghasut, bukan agitasinya pemimpin-agitator. Ini ialah suatu kenyataan yang nyata dan yang telah dibuktikan oleh ahli ­pengetahuan bangsa Belanda sendiri. Memang siapa yang bertulus hati dan bukan orang munafik dan durhaka haruslah mengakui keadaan itu. Memang hanya orang munafik dan durhaka sahajalah yang tak berhenti­henti berkemak-kemik: "Indonesia sejahtera, Rakyatnya kenyang-senang."


Tetapi angka-angka tak dapat dibantah lagi. Dr. Huender telah mengumpulkan angka-angka itu. Ia membikin perhitungan dari semua inkomsten dan uitgaven-nya Kang Marhaen, dari semua masuknya-rezeki dan keluarnya-rezeki Kang Marhaen. Ia mengumpulkan angka-angka­ perhitungan itu tidak dari "kabar-kabar-bikinan", tetapi dari verslag­verslag resmi sendiri. Ia berdiri seobyektif-obyektifnya, ia sama tengah, tidak menyebelah kesana, tidak menyebelah ke sini. Ia oleh karenanya, harus dipercaya oleh tiap-tiap orang yang mau bertulus hati.


Ia membagi pendapatan Kang Marhaen itu dalam tiga bagian: pendapatan dari padinya, pendapatan dari palawijanya, pendapatan dari perkuliannya bilamana Marhaen tengah "vrij". Dan bagaimanakah menurut Dr. Huender rupanya Kang Marhaen punya "makan-jalan"? Bagaimanakah pendapatan-pendapatannya itu masing-masingnya? Lihatlah "daftar" di bawah ini:

Ia mendapat padi seharga f 103.‑

Ia mendapat palawija seharga f 30.‑

Ia mendapat hatsil-perkulian sejumlah f 25.—

Ia dus mendapat hatsiltotal jenderal f 158. – zegge:


seratus limapuluh delapan rupiah Hindia-Belanda, – di dalam zaman sebelum meleset!1) Dan inipun pendapatan kotor. Sebab dari "kekayaan" f 158 itu Kang Marhaen masih harus membayar ia punya pengeluaran: membayar iapunya landrente, membayar ia punya pajak-kepala, membayar ia punya Inlandse Verponding, membayar ia punya pajak lain-lain. Dari "kekayaan" f 158 itu Kang Marhaen menurut Dr. Huender masih harus mengeluarkan lagi total-jenderal f 22.50.2) Dua puluh dua setengah rupiah dari seratus limapuluh delapan rupiah, pendapatan bersih adalah dus

total-jenderal:

f 158 — f 22.50 = f 135.50!

f 135.50 buat duabelas bulan, dan buat makan seanak-bini!

Belum sampai f 12.- sebulan-bulannya!

Belum sampai f 0.40 sehari-harinya!

Belum sampai delapan sen seorang sehari!


Sehingga juga di dalam hal ini Indonesia pegang rekor ; di seluruh muka-bumi dari Barat sampai Timur sampai Utara sampai Selatan tidak ada angka yang begitu rendahnya; di negeri Bulgaria, negeri yang terkenal paling melarat, orang masih hidup dengan tigabelas sen sehari. Kita tidak hairan, kalau Dr. Huender berkata, bahwa Marhaen adalah Rakyat "minimum-lijdster", yaitu Rakyat yang sudah begitu keliwat melaratnya, sehingga kalau umpamanya dikurangi lagi sedikit sahaja bekal-hidupnya, niscaya ia jatuh samasekali, maut samasekali, binasa samasekali!


Dan Dr. Huender-pun tidak berdiri sendiri; puluhan orang bangsa Belanda lain yang juga berpendapat demikian; puluhan orang bangsa

1) Ini pendapatan Marhaen tani. Kalau diambil semua Marhaen, rata-rata f 161.‑

2) "Kerja-desa", – desa-diensten, mitsalnya ronda, bikin betul jalan-desa, mem­bikin jembatan-desa dll. – oleh Dr. Huender di-"rupakan uang", lalu dimasukkan di sini.

3) Marhaen, bininya dan anaknya yang rata-rata 3 orang.

4) Statistisch jaaroverzicht tahun 1928.


Belanda lain yang juga mengakui bahwa Marhaen adalah papa-sengsara. Tapi tidak ada gunanya menyebutkan nama-nama itu satu persatu di dalam risalah yang akan dibaca oleh katun Marhaen. Kaum Marhaen sendiri merasakan kepapaan dan kesengsaraan itu saban hari, saban jam, saban menit. Kaum Marhaen sendiri merasakan saban hari, bagaimana mereka kekurangan segala-galanya, – kekurangan bekal-hidup, kekurangan pa­kaian, kekurangan benda rumah-tangga, kekurangan bekal pendidikan anaknya, kekurangan tiap-tiap keperluan-manusia walau yang paling seder­hanapun jua adanya.


En toch, barangkali risalah ini dibaca oleh fihak "twijfelaars" alias fihak "ragu-ragu" di kalangan kitapunya intellectuelen yang karena ter­lampau kenyang "cekokan kolonial" tidak percaya bahwa Marhaen papa-sengsara? Buat kaum "twijfelaars" itu saya hanya tahu satu obat manjur yang akan melenyapkan segala keragu-raguannya; buat kaum "twijfelaars" itu saya punya resep hanyalah: "Pergilah ke kalangan kaum Marhaen sendiri, nyatakanlah hal itu di kalangan kaum Marhaen sendiri!" Maka kamu akan melihat dengan mats sendiri, mendengar dengan telinga sendiri, kebenarannya perkataan Professor Boeke yang berbunyi, bahwa hidupnya bapak tani adalah hidup "ellendig", hidup yang "sengsara keliwat sengsara", – atau kebenarannya perkataan Schmalhausen, bahwa masyara­kat kita adalah masyarakat "waar nagenoeg niemand iets bezit", yakni masyarakat "yang hampir tidak ada seorang juapun mempunyai milik apa-apa".


Dan barangkali ada juga faedahnya bagi kaum ini saya menyajikan lagi beberapa angka? Marilah, jikalau memang begitu, kita sajikan se­dikit angka-angka-statistik. Marilah kita mengambil angka-angka-statistik bikinan pemerintah sendiri." Maka kita di situ menjumpai angka-angka yang tidak banyak beda dari angka-angkanya Dr. Huender tahadi. Kita melihat di situ, bahwa di seluruh Indonesia jumlah Marhaen (semua angka-­angka adalah angka-angka zaman "normal") yang mempunyai perniagaan yang hatsilnya lebih dari f 120 setahun hanyalah 1.172.168 orang, dus belum 2 tiap-tiap 100; bahwa ternak Marhaen yang berupa lembu hanyalah 145 per seribu orang.

Kita melihat bahwa jikalau mitsalnya Kang Marhaen itu menjadi kuli di paberik gula, upahnya rata-rata hanyalah f 0.45 sehari, dan bahwa jikalau mBok Marhaen yang menjadi kuli, upah ini lantas menjadi rata-rata hanya f 0.37 sehari, artinya, jika dimakan seisi rumah: tak lebih dari f 0.08 a f 0.09 seorang sehari. Kita melihat bahwa lebarnya milik tanah tiap-tiap orang Marhaen rata-rata hanyalah kurang-lebih satu bahu, sedang beribu-ribu bahu diberikan erfpacht, sedang di negeri Belanda orang tani yang miliknya 5 bahu sudah disebutkan "keuterboer", "tani yang lebih kecil dari kecil". Kita melihat, bahwa tanah-pertanian yang ditanami oleh Marhaen hanyalah rata-rata 0.29 bahu, sehingga Marhaen bukanlah keuter­boer, tetap … tani-gurem. Kita melihat, – dan kini kita mengambil per­maklumannya volksraad bahwa di mana duapuluhlima tahun yang lalu 71% dari kaum Marhaen masih bisa tani-melulu, kini tinggal 52% saha­jalah yang bisa bertani-melulu. Kita melihat, … tetapi ah, marilah saya berhenti, marilah saya sudahi "daftar" ini sampai di sini sahaja, – ia menjadi menjemukan!


Marilah kita lebih baik membuka surat-surat-khabar, dan kita saban hari bisa mengumpulkan beberapa "syair megatruh" yang "menarik hati", yang melagukan betapa hidupnya Kang Marhaen, yang di dalam zaman "normal" sudah "sekarang makan besok tidak" itu, di dalam zaman meleset sekarang ini menjadi lebih-lebih ngeri lagi, lebih-lebih memutuskan nyawa lagi, lebih-lebih me­gap-megap lagi.

"Darmokondo", 11 Juli 1932:

"Di kampung Pagelaran Sukabumi ada hidup satu suami isteri bernama Musa dan Unah, dengan ia punya anak lelaki yang kesatu berumur 5 tahun, yang kedua 3 tahun dan yang ketiga baru 1 tahun. Itu familie ada sangat melarat, dan sudah beberapa bulan ia cuma hidup saja dengan daun-daunan dalam hutan, yang ia makan buat gantinya nasi. Lama-kelamaan itu suami isteri merasa yang ia tidak bisa hidup selama-lamanya dengan cuma makan itu macam makanan saja.

Buat sambung ia punya jiwa serta anak-anaknya, itu suami isteri telah dapatkan satu fikiran, yaitu … jual saja anaknya pada siapa yang mau beli."


"Perca Selatan", 7 Mei 1932:

"Pegadaian penuh, sebab tidak ada yang menebus, semua menggadai. Sekarang gadaian kurang. Ini barang aneh! Sebab mustinya naik! Bagi saya tidak aneh. Ini tandanya barang-barang yang akan digadai sudah habis! Tandanya miskin dan habis-habisan!

Di desa orang-orang 2 hari sekali makan nasi, selainnya makan ubi, tales, singkong, jantung pisang. Sudah sebagai sapi."


"Aksi", 14 November 1931:

"Di desa Banaran dekat Tulung Agung kemarin-dulu orang sudah jadi ribut, lantaran ada orang gantung diri. Duduknya perkara begini: Sudah lama ia seanak bininya merasa sengsara sekali, malahan anaknya yang masih kecil sekali sering diemiskan nasi pada orang sedesa situ. Saben hari ia cari kerja, berangkat pagi pulang sore, tapi sia-sia, tidak ada orang yang butuh kuli. Kemarin dulu ia tidak bepergian, cuma duduk termenung di rumah saja, rupa-rupanya sudah putus-asa dan bingung mendengarkan anaknya menangis minta makan. Tahu-tahu dia sudah ketemu mati (gantung diri)."


"Siang Po", 23 Januari 1933:

"Di dekat kota Krawang sudah kejadian barang yang sanget bikin ngenes ati. Ada orang janda namanya Upi, punya anak kecil. Dia punya laki barusan mati, sebab sakit keras yang cuma satu minggu lamanya. Upi memang dari sedari hidupnya dia punya laki, ada sanget melarat sekali, tapi sesudah ia jadi janda, kemelaratan rupanya tida ada bates lagi. Lama-lama Upi sudah jadi putus-asa, dan anaknya yang ia cintain itu sudah ia tawarkan sama tuan L.K.B. di Krawang.

Ditanya apa sebabnya ia mau jual anaknya, ia tida jawab apa-apa, cuma menjatuhkan air mata bercucuran. Tuan L.K.B. sanget kasian sama dia, en kasih uang sekedarnya pada itu janda yang malang."


"Pewarta Deli", 7 December 1932:

"Di kota sering ada orang yang menyamperi pintu bui, minta dirawat dibui saja, sebab merasa tidak kuat sengsara. Dibui misih kenyang makan, sedang di luar belum tentu sekali sehari" …


"Sin Po", 27 Maart 1933:

"Mencuri ayam sebab lapar. Dihukum juga 9 bulan.

Malaise heibat yang mengamuk di mana-mana telah bikin sengsara dan kelaparan penduduk desa Trogong Kebayuran.

Penduduk di situ rata-rata suda tida bisa dapatken uang dan banyak yang kelaparan kerna tida punya duit buat beli makanan.

Salah satu orang nama Pungut juga alamken itu kasukeren yang heibat. Ia ada punya bini dan dua anak, sedeng penghasilan sama sekali telah kapempet berhubung dengen jaman susa. Sementara itu ia punya beras dan makanan suda abis.

Apa boleh buat, saking tida bisa tahan sengsara kerna suda 2 hari tida punya beras, pada satu malem ia bongkar kandang ayam dari tetangganya nama Jaya dan dari ia timpa 2 ekor ayam. Itu binatang kamudian ia jual di pasar buat 3 picis dan dari itu uwang ia beli beras 15 cent.

Blakangan Pungut ditangkep dan dibui. Pada tanggal 25 Maart ia mesti mengadep pada landraad di Mr. Cornelis dan Pungut aku saja betul telah colong itu 2 ekor ayam sebab suda 2 hari ia tida makan.

Landraad anggep ia terang bersalah ambil ayamnya laen orang dan Pungut dihukum 9 bulan. Anak bininya menangis di luar ruangan landraad! (Rep.)"

Enz., enz., enz

Aduhai, – dan di dalam zaman air-mata ini, di mana Marhaen terpaksa hidup dengan sebenggol seorang sehari, di mana beban-beban yang harus dipikul Marhaen semakin menjadi berat, di mana menurut verslag Voor­zitter Kleine Welvaartcommissie penghatsilan dari perusahaan-perusahaan­ kecil di desa-desa dan di kampung-kampung sudah turun dengan 40 sampai 70%, di mana kesengsaraan sering membikin Marhaen menjadi putus-asa dan gelap-mata, sebagai ternyata dari kabar-kabar di atas, – di dalam zaman air-mata ini Marhaen di tanah Jawa masih harus memelihara juga hidup­nya ribuan orang kuli-kontrakan, yang dipulangkan dari Deli dan lain sebagainya zonder tunjangan sepeserpun jua, yang seolah-olah untuk membuktikan isinya peribahasa: "habis manis sepah dibuang."


Ya, se­melarat-melaratnya Marhaen, maka Marhaen selamanya masih "ridla membahagi kemelaratannya itu dengan orang yang lebih melarat lagi daripadanya", – begitulah Schmalhausen menulis. Ya, imperialisme me­ngetahui ketinggian budi Marhaen itu: kuli-kuli yang ia lepas tidak usah diambil pusing, tokh nanti mereka dapat makan juga dari kawan-ka­wannya di desa-desa dan di kampung-kampung. Sedang kaum "werkloos" bangsa asing di sini mendapat tunjangan. Sedang kaum "werkloos" di hampir tiap-tiap negeri yang sopan mendapat penyambung nyawa. Se­dang kaum "werkloos" di negeri Belanda mendapat uitkering f 2. – sehari. Sedang … ya sedang Kang Marhaen, walaupun umpamanya ia tidak "werkloos", walaupun ia membanting-tulang dan mandi keringat di atas ladangnya dari syubuh sampai magrib, harus tahan nyawanya dengan sebenggol sehari …


Aduhai, kemanakah Marhaen harus menyimpankan nyawanya yang penuh dengan keteduhan itu? Yang penuh dengan ratap dan penuh dengan tangis, penuh dengan kemalangan dan penuh dengan kesedihan, penuh dengan sakit dan penuh dengan lapar? Di dalam zaman "normal", bilamana kaum imperialis berpesta dan bersuka-raya mengekspor barang kehatsilan­nya yang lebih dari f 1.500.000.000 setahunnya itu, ia hanyalah mendapat nafkah-hidup f 0.08 seorang sehari; di dalam permulaannya zaman meleset, menurut "Economisch Weekblad", ia hanyalah makan f 0.04 seorang sehari; dan di dalam tengah-tengahnya zaman meleset, tatkala menurut angka statistik ekspornya kaum imperialis setahunnya tokh masih sahaja tidak kurang dari f 1.159.000.000, ia terpaksa mempertahankan nyawanya dengan sebenggol seorang sehari! Garis-penghidupannya memang penuh dengan corek-corek kemalangan; garis-penghidupannya itu tidak pernah naik, garis-penghidupannya itu senantiasa menurun. Lebih dari seperempat abad yang lalu voorzitter "Mindere Welvaartcommissie" telah mengatakan, bahwa ia punya peri-kehidupan adalah di dalam "tuitelig evenwicht",. peri­kehidupan yang gampang terpelanting ; seperempat abad kemudian orang mengatakan bahwa ia adalah "minimum-lijder"; dan kini tiga-empat tahun kemudian lagi, Marhaen boleh hidup dengan sebenggol sehari dan … memberi juga makan pada ribuan lepasan kuli-kontrak. Di dalam tempo yang kurang dari tigapuluh tahun itu, modern-imperialisme, yang senantiasa mengagul-agulkan ia punya "kesopanan" dan "ketenteraman umum", telah melihat kans "memperbaiki" nasib Marhaen dari setengah hidup menjadi setengah megap-megap!


Tetapi, apakah memang benar, imperialisme samasekali tidak ada "berkah" sedikit juapun bagi kita bangsa Indonesia? Tidakkah ia mendatangkan beberapa kemajuan, mendatangkan pengetahuan, mendatangkan "beschaving"? Tidakkah dus modern-imperialisme itu "ada baiknya" juga? 0, memang, zaman modern-imperialisme mendatangkan "beschaving", zaman modern-imperialisme mendatangkan jalan-lorong yang indah dan jalan-jalan kereta api yang haibat, zaman modern-impe­rialisme mendatangkan perhubungan kapal yang sempurna, mendatangkan "ketenteraman", mendatangkan "perdamaian", mendatangkan telepon, mendatangkan telegrap, mendatangkan lampu listrik, mendatangkan radio, mendatangkan kedokteran, mendatangkan keteknikan, ya, mendatangkan kepandaian barang apa-sahaja sampai yang mendekati kepandaiannya jin­-peri-perayanganpun, – tetapi, adakah semua hal itu didatangkannya buat keperluan Kang Marhaen? Adakah semua hal itu, sekalipun umpamanya didatangkan buat keperluan Kang Marhaen, bisa ditimbangkan dengan bencana-hidup yang disebar-sebarkan oleh modern­imperialisme di kalangan Kang Marhaen? Adakah tidak lebih mirip kepada kebenaran, perkataannya Brailsford yang berbunyi bahwa: "anugerah­-anugerah pendidikan, kemajuan dan aturan-aturan bagus yang ia bawa itu hanyalah rontokan-rontokan sahaja dari ia punya keasyikan cari rezeki yang angkara-murka itu"?


Lagipula, adakah berhadapan dengan bencana-hidup yang disebar­-sebarkan oleh modern-imperialisme ini Marhaen mendapat cukup hak-hak dari pemerintah yang sekedar boleh dianggap sebagai "obat" bagi hatinya yang luka, fikirannya yang bingung, perutnya yang lapar? Onderwijs? Oh, di dalam "abad-kesopanan" ini, – begitulah raya tempohari menjawab—, di dalam "abad-kesopanan" ini, menurut angka-angka Kantor Statistik orang laki-laki yang bisa membaca dan menulis belum ada 7%, orang perempuan belum ada … 0,5%.


Pajak-pajak enteng? Menurut penyelidikannya Institute of Financial Investigation di negeri Tiongkok, Indonesia di dalam hal pajak …juga pegang rekor! Kesehatan Rakyat atau hygiene? Di seluruh Indonesia hanyalah ada 343 rumah sakit guper­men, kematian bangsa Bumiputera tak kurang dari 20/1000, di kota besar kadang-kadang sampai 50/1000. Perlindungan kepentingan kaum buruh? Peraturan sociale arbeidswetgeving yang melindungi kaum buruh terhadap pada kaum modal tak ada semasekali, arbeidsinspectie tinggal namanya sahaja, hak-mogok, yang di dalam negeri-negeri yang sopan bukan soal lagi, dengan adanya artikel 161 bis dari buku hukum siksa musnalah sama­sekali daripada realiteit, terkabutkan samasekali menjadi impian belaka! Kehakiman yang sempurna? Batcalah sahaja pendapatnya Mr. Sastro­mulyono tentang hal ini tatkala membela perkara saya, atau bandingkanlah cara-bekerjanya landraad dan Raad van Justitie. Kemerdekaan drukpers dan hak-berserikat-dan-bersidang? Amboi, adakah di sini hak kemerdekaan drukpers dan hak berserikat-dan-bersidang? Adakah di sini hak-hak itu, di mana buku hukum siksa masih mentereng dengan artikel-artikel sebagai 153 bis-ter, 154, 155, 156, 157, 161 bis d.l.s., di mana hak "pen-Digul-an" masih ada, di mana perkataan "berbahaya bagi keamanan umum" terdengar sehari-hari, di mana ada persbreidel-ordonnantie, di mana rapat tertutup "kalau perlu" juga boleh dihadliri oleh polisi, di mana stelsel-mata-mata boleh dikata sempurna samasekali, di mana di waktu yang akhir-akhir ini puluhan openbare vergadering dibubarkan?


"Tidak! Di sini tidak ada hak-hak itu!" Dengan macam-macam halangan dan macam-macam ranjau demikian itu, maka kemerdekaan itu tinggal namanya sahaja kemerdekaan, hak itu tinggal namanya sahaja hak; dengan macam-macam serimpatan yang demikian, maka kemer­dekaan-drukpers dan hak-berserikat-dan-bersidang itu menjadi suatu bayangan belaka, suatu impian!

Hampir tiap-tiap journalist sudah pernah merasakan tangannya hukum, hampir tiap-tiap pemimpin Indonesia sudah pernah merasakan bui, hampir tiap-tiap orang bangsa Indonesia yang mengadakan perlawanan-radikal lantas sahaja terpandang "berbahaya bagi keamanan umum".

0, Marhaen, hidupmu sehari-hari morat-marit dan kocar-kacir, beban-bebanmu semakin berat, hak-hakmu boleh dikatakan tidak ada samasekali!

Bahwasanya, kamu boleh menyanyi:

"Indonesia, tanah yang mulya, Tanah kita yang kaya;

Di sanalah kita berada,

Untuk selama-lamanya!" .


4. "DI TIMUR MATAHARI MULAI BERCAHYA, BANGUN DAN BERDIRI, KAWAN SEMUA"

Tetapi hal-hal yang saya ceritakan di atas ini hanyalah kerusakan lahir sahaja. Kerusakan bathinpun ternyata di mana-mana. Stelsel imperialisme yang butuh pada kaum buruh itu, sudah memutarkan semangat kita menjadi semangat perburuhan samasekali, semangat perburuhan yang hanya senang jikalau bisa menghamba. Rakyat Indonesia yang sediakala terkenal sebagai Rakyat yang gagah-berani, yang tak gampang-gampang suka tunduk, yang perahu-perahunya melintasi lautan dan samodra sampai ke India, Tiongkok, Madagaskar dan Persia, – Rakyat Indonesia itu kini men­jadilah Rakyat yang terkenal sebagai "het zachtste yolk der aarde", "Rakyat yang paling lemah-budi di seluruh muka bumi". Rakyat Indonesia itu kini menjadi suatu Rakyat yang hilang kepercayaannya pada diri sen­diri, hilang keperibadiannya, hilang kegagahannya, hilang ketabahannya samasekali. "Semangat-harimau" yang menurut katanya professor Veth adalah semangat Rakyat Indonesia di zaman sediakala, semangat itu sudah menjadi semangat-kambing yang lunak dan pengecut.


Dan itupun belum bencana-bathin yang paling besar! Bencana-bathin yang paling besar ialah bahwa Rakyat Indonesia itu percaya, bahwa ia memang adalah "Rakyat-kambing" yang selamanya harus dipimpin dan dituntun. Sebagai juga tiap-tiap stelsel imperialisme di mana-mana, maka stelsel imperialisme yang ada di Indonesia-pun selamanya menggembar-­gemborkan ke dalam telinga kita, bahwa maksudnya bukanlah maksud mencari rezeki, tetapi ialah "maksud suci" mendidik kita dari kebodohan ke arah kemajuan dan kecerdasan. Sebagai juga tiap-tiap stelsel im­perialisme, ia tak jemu-jemu meneriakkan ia punya "mission-sacree"1). Di atas panji-panjinya imperialisme selamanya adalah tertulis semboyan­-semboyan dan anasir-anasir "beschaving" dan "orde en rust",—"kesopanan" dan "keamanan umum".


"Kesopanan" dan "keamanan umum"! Tidakkah kita-ini katanya Rakyat yang masih bodoh dan biadab, yang perlu mendapat guru dan perlu mendapat bapak? Amboi, seolah-olah benar kita pada saat datangnya imperialisme masih bodoh, seolah-olah benar kita zaman dulu Rakyat biadab! Seolah-olah Rakyat kita tidak pernah mempunyai cultuur yang membikin tercengangnya dunia! Jikalau benar stelsel imperialisme tidak buat mentcari rezeki, tidak buat "urusan-fulus", tidak buat memenuhi nafsu perbendaan, jikalau benar stelsel imperialisme dahaga sekali akan "kerja menyopankan", apakah sebabnya stelsel imperialisme datang lebih dulu pada Rakyat-Rakyat yang justru berketinggian cultuur, sebagai Indonesia, sebagai India, sebagai Mesir, dan tidak pergi sahaja ke negerinya bangsa Eskimo yang ada dikutub Utara!

Tidak, memang tidak! Itu "suruhan suci" hanyalah omong-kosong belaka, itu "mission-sacree" hanyalah buat menjaga kedudukannya im­perialisme sahaja. Sebab tidak ada satu imperialisme di muka bumi yang

1) Mission-sacree = Suruhan suci.

bisa terus-menerus mengambili rezeki sesuatu Rakyat, sehingga Rakyat itu tahu dan Insyaf bahwa rezekinya diambili dan diangkuti; tidak ada satu imperialisme yang "tahan lama", bilamana Rakyat insyaf bahwa badannya adalah sebagai pohon yang dihinggapi kemadean yang hidup daripada ia punya zat-zat-hidup. Maka oleh karena itulah Rakyat lantas di-injeksi tak berhenti-henti, bahwa imperialisme datangnya ialah buat memenuhi suatu "suruhan yang suci" mendidik Rakyat itu dari kebodohan ke arah kecerdasan, mendidik Rakyat itu dari kemunduran ke arah kema­juan.

Dan Rakyat lantas percaya akan "suruhan suci" itu; imperial­isme tidak lagi dipandang olehnya sebagai musuh yang harus dienyahkan selekas-lekasnya, tidak sebagai kemadean yang menghinggapi tubuhnya, imperialisme lantas dipandang olehnya sebagai sahabat yang harus diminta terima kasih …


Jawaharlal Nehru, itu pemimpin Hindustan yang kenamaan, pernah berkata: "Kebesarannya negeri dan Rakyat kita adalah sudah begitu dalam terbenamnya oleh kabut-kepurbakalaan, dan kebesarannya imperialisme adalah begitu sering kita lihat sehari-hari, sehingga kita lupa bahwa kita bisa besar, dan mengira bahwa hanya kaum imperialisme sahaja yang bisa pandai." Perkataan Jawaharlal Nehru ini, yang menggambarkan ke­rusakan bathinnya Rakyat Hindustan, satu persatunya bolehlah juga dipakai untuk Rakyat Indonesia sekarang ini. Juga kita lupa bahwa kita bisa menjadi besar, juga kita lupa bahwa kemunduran kita ialah karena kita terlalu lama sekali kena pengaruh imperialisme, juga kita lupa bahwa kemunduran kita itu bukan suatu kemunduran yang memang karena natuur, tetapi ialah suatu kemunduran yang karena imperialisme, suatu kemunduran bikinan, suatu kemunduran "cekokan", suatu kemunduran injeksian yang berabad-abad.


Juga kita mengira, bahwa hanya kaum imperialisme sahaja yang bisa pandai, bahwa hanya mereka sahaja yang bisa berilmu, bisa membikin jalan, bisa membikin kapal, bisa membikin listerik, bisa membikin kereta-api dan auto dan bioskop dan kapal-udara dan radio, – dan tak pernah satu kejap mata kita bertanya di dalam bathin, apakah kita kini juga tidak bisa mengadakan semua hal itu, umpamanya kita tidak tigaratus tahun di "sahabati" imperialisme? Ya, juga kita percaya, bahwa kita sekarang ini belum boleh merdeka dan berdiri sendiri …


Bahwasanya, memang sudah "makan" sekali injeksian imperialisme itu. Kita kini sangat gampang dilipat-lipat, – "plooibaar" en "gedwee" – "buntutnya tekanan yang berabad-abad", sebagai Schmalhausen mengata­kannya. Kita kini sudah 100% menjadi Rakyat kambing. Kita kini kaum putus-asa, kita kaum zonder keperibadian, kita kaum penakut, kita kaum pengecut Kita kaum berokh budak, kita banyak yang jadi penjual bangsa. Kita hilang samasekali kelaki-lakian kita, kita hilang sama‑sekali rasa-kemanusiaan kita. Oleh karena itu, jika terus-menerus begitu, kita akan binasa samasekali tersapu dari muka-bumi, dan pantas binasa di dalam lumpur perhinaan dan nerakanya kegelapan.


Tetapi … Alhamdulillah, di Timur matahari mulai bercahya, fajar mulai menyingsing!

Obat tidur imperialisme yang berabad-abad kita minum, yang telah menyerap di dalam darah daging kita dan tulang sumsum kita, ya, yang telah menyerap di dalam rokh kita dan nyawa kita, obat tidur itu pelahan-­pelahan mulai kurang dayanya. Semangat-perlawanan yang telah ditidurkan nyenyak samasekali, kini mulai sadar dan berbangkit. Semangat per­budakan mulai rontok, dan timbul semi semangat baru yang makin lama makin besar dan bersirung. Bukan semangat yang mengeluh karena tahu akan kerusakan nasib lahir dan nasib bathin; tetapi semangat yang membangkitkan pengetahuan itu, menjadi kemauan ber­joang dan kegiatan berjoang. Bukan semangat yang menangis, tetapi semangat yang terus menitis menjadi wil, menjadi daad. Memang bukan waktunya lagi kita mengeluh; bukan waktunya lagi kita mengaduh, walaupun kerusakan nasib kita itu seakan-akan memecahkan kitapunya nyawa. Kita tak dapat terlepas dari keadaan sekarang ini dengan mengeluh dan menangis, kita hanyalah bisa keluar daripadanya dengan ber­cancut-tali-wanda, dengan berjoang, berjoang dan sekali lagi berjoang. Kita harus berjoang habis-habisan tenaga, berjoang walaupun nafas hampir pecat dari kitapunya dada. Kita harus meniru ajarannya itu orang Hindu yang berkata: "Kita sekarang tidak boleh ber­kesempatan lagi untuk menangis, kita sudah kenyang menangis. Bagi kita sekarang ini bukan saatnya buat lembek-lembekan-hati. Berabad-abad kita sudah lembek hingga menjadi seperti kapuk dan agar-agar. Yang dibutuh­kan oleh tanah-air kita kini ialah otot-otot yang kerasnya se­bagai baja, urat-urat-saraf yang kuatnya sebagai besi, kemauan yang kerasnya sebagai batu-hitam yang tiada barang sesuatu bisa menahannya, dan yang jika perlu, berani terjun ke dasarnya samodra!"


Alhamdulillah, kini fajar mulai menyingsing! Pergerakan memang pasti lahir, pasti hidup, pasti kelak membanjir, walaupun obat tidur yang bagaimana juga manjurnya, atau walaupun terang-terangan dirin­tangi oleh musuh dengan rintangan yang bagaimana juga, selama nasib kita masih nasib yang sengsara. Pergerakan memang bukan tergantung dari adanya seseorang pemimpin, bukan bikinannya se­seorang pemimpin, pergerakan adalah bikinannya nasib kita yang sengsara. Ia pada hakekatnya adalah usaha masyarakat sakit yang meng­obati diri sendiri.

Ia ada kalau kesakitan masih ada, ia hilang kalau kesakitan sudah hilang. Ia, sebagai dikatakan oleh seorang pemimpin Jerman "di dalam dunia yang tak adil ini selalu mengikuti musuhnya sebagai bayangan, yang akhirnya meliputi musuhnya itu sehingga mati".


"Tiap-tiap makhluk, tiap-tiap umat, tiap-tiap bangsa tidak boleh tidak, pasti akhirnya berbangkit, pasti akhirnya bangun, pasti akhirnya menggerakkan tenaganya, jikalau ia sudah terlalu-lalu sekali merasakan celakanya diri yang teraniaya oleh sesuatu daya yang angkara-murka", – begitulah saya pernah menulis. "Jangan lagi manusia, jangan lagi bangsa, – walau cacingpun tentu bergerak berkeluget-keluget kalau merasakan sakit!"


Memang; memang! Pergerakan lahir karena pada hakekatnya dilahir­kan oleh tenaga-tenaga pergaulan-hidup sendiri. Pemimpin­pun bergerak karena hakekatnya tenaga-tenaga pergaulan-hidup itu membikin ia bergerak. Bukan fajar menyingsing karena ayam-jantan berkokok, tetapi ayam-jantan berkokok karena fajar menyingsing …


Tetapi bergerak dan bergerak adalah dua. Benar pergerakan itu pada hakekatnya bikinan nasib kita, bikinan masyarakat kita, bikinan natuur,—tetapi natuur sendiri sering-sering terlalu lambat berjalannya, oleh karena kejadian-kejadian atau proses-proses di dalam natuur itu sering-sering adalah kejadian instinct yang onbewust, yakni kejadian yang "tidak insyaf ". Maka pergerakan kitapun akan terlampau lambat jalannya, pergerakan kitapun akan sebagai orang yang pada malam gelap-gulita zonder obor berjalan di atas jalan kecil yang banyak batu dan banyak tikungan, pergerakan kitapun akan "pergerakan instinct" sahaja, jikalau pergerakan kita itu hanya onbewust alias "tidak insyaf", – yakni suatu pergerakan yang "yah … bergerak karena sengsara", tetapi tidak insyaf dengan tajam akan apa yang dituju dan bagaimana harus menuju.


Baru jikalau kita berjalan membawa obor, mengetahui presis apa yang kita tuju, mengetahui presis di mana letaknya jalan yang kencang, mengetahui presis segala apa yang akan kita jumpai; baru jikalau kita tidak seolah-olah lagi di dalam malam yang gelap-gulita, tetapi seolah-olah di dalam siang hari yang terang­-benderang, – baru jikalau sudah demikian itu kita bisa mencapai apa yang kita maksud dengan sekencang-kencangnya, selekas-lekasnya, sehatsil-hatsilnya. Oleh karena itulah kita harus mempunyai bentukan pergerakan yang saksama, konstruksi pergerakan yang saksama, – bentukan atau konstruksi pergerakan yang harus cocok dan sesuai dengan hukum-hukumnya masyarakat dan terus menu­ju ke arah doelnya masyarakat, yakni masyarakat yang selamat dan sempurna.


Dengan bentukan atau konstruksi pergerakan yang saksama itu maka pergerakan kita bukan lagi suatu pergerakan yang onbewust, tetapi suatu pergerakan yang bewust sebewust-bewustnya, insyaf seinsyaf-insyafnya. Dengan ke-bewust-an dan keinsyafan yang demikian itu, maka pergerakan kita lalu berarti mempercepat jalannya proses natuur, suatu pergerakan yang memikul natuur dan terpikul natuur. Dengan ke-bewust-an dan keinsyafan yang demikian itu pergerakan kita juga lalu menjadi tidak bisa ditundukkan, tidak bisa dipadamkan, on­overwirmelijk,- sebagai natuur! Ia bisa sebentar dirubuhkan, ia bisa sebentar dibubarkan, ia bisa sebentar seolah-olah dihancurkan, tetapi saban-saban kali ia juga akan berdiri lagi dan berdiri lagi, dan maju terus ke arah maksudnya. Ia sekali­sekali seperti binasa samasekali karena terhantam dengan segala kekuatan duniawi yang musuh punya, tetapi kemudian daripada itu ia tokh akan muncul lagi dan berjalan lagi.


Sebagai mempunyai kekuatan rahasia, sebagai mempunyai kekuatan penghidup, sebagai mempunyai "aji-panca­sona" dan "aji-candabirawa", maka pergerakan yang memikul natuur dan terpikul natuur itu tak bisa dibunuh, dan malahan ia makin lama makin membanjir. Sebagai natuur sendiri, ia tidak boleh tidak pasti datang pada maksudnya!


Oleh karena itu, kaum Marhaen, besarkanlah hatimu, besarkanlah ketetapan tekadmu, besarkanlah kepercayaanmu akan tercapainya kamu­ punya cita-cita. Bukan hanya suatu peribahasa sahaja, kalau saya mengatakan fajar telah menyingsing. Pergerakan kita sudah mulai ber­bentuk, emoh akan haluan yang hanya "cita-cita" sahaja. Pergerakan kita itu sudah mulai jadi pergerakan sebagai yang saya maksudkan di atas tahadi. Garis-garis besar dari bentukan atau konstruksi itu kini terletak di hadapanmu, tergurat di dalam risalah yang kecil ini. Bacalah risalah ini dengan teliti dan saksama, simpanlah segala ajaran-ajarannya di dalam fikiran dan kalbumu, kerjakanlah segala ajaran-ajaran itu dengan ketetapan hati dan ketabahan tekad. Haibatkanlah pergerakanmu men­jadi pergerakan yang bewust dan insyaf, yang karenanya akan menjadi haibat sebagai tenaganya gempa. Fajar mulai menyingsing. Sambutlah fajar itu dengan kesadaran, dan kamu akan segera melihat matahari terbit.


5. GUNANYA ADA PARTAI

Kita bergerak karena kesengsaraan kita, kita bergerak karena ingin hidup yang lebih layak dan sempurna. Kita bergerak tidak karena "ideal" sahaja, kita bergerak karena ingin cukup makanan, ingin cukup pakaian, ingin cukup tanah, ingin cukup perumahan, ingin cukup pendidikan, ingin cukup minimum seni dan cultuur, – pendek kata kita bergerak karena ingin perbaikan nasib di dalam segala bagian-bagian dan cabang-cabangnya.


Perbaikan nasib ini hanyalah bisa datang seratus prosen, bilamana masyarakat sudah tidak ada kapitalisme dan imperialisme. Sebab stelsel inilah yang sebagai kemadean tumbuh di atas tubuh kita, hidup dan subur daripada kita, hidup dan subur daripada tenaga kita, rezeki kita, zat-zatnya masyarakat kita.


Oleh karena itu, maka pergerakan kita janganlah pergerakan yang kecil-kecilan; pergerakan kita itu haruslah pada hakekatnya suatu per­gerakan yang ingin merobah samasekali sifatnya masyarakat, suatu pergerakan yang ingin menjebol kesakitan-kesakitan masyarakat sampai kesulur-sulurnya dan akar-akarnya, suatu pergerakan yang samasekali ingin menggugurkan stelsel imperialisme dan kapitalisme. Pergerakan kita janganlah hanya suatu pergerakan yang ingin rendah­nya pajak, janganlah hanya ingin tambahnya upah, janganlah hanya ingin perbaikan-perbaikan kecil yang bisa tercapai hari-sekarang, – tetapi ia harus menuju kepada suatu transformatie yang menjungkir-balikkan samasekali sifatnya masyarakat itu, dari sifat imperialistis-kapitalistis menjadi sifat yang sama-rasa-sama-rata.


Pergerakan kita haruslah dus suatu pergerakan yang pada hakekatnya menuju kepada suatu "omme­keer" susunan sosial.

Bagaimana "ommekeer" susunan sosial bisa terjadi?

Pertama­-tama oleh kemauannya dan tenaganya masyarakat sendiri, oleh "immanente krachten" masyarakat sendiri, oleh "kekuatan-kekuatan rahasia" daripada masyarakat sendiri. Tetapi tertampak-keluarnya, lahirnya, jasmaninya, oleh suatu pergerakan Rakyat-jelata yang radikal, yakni oleh massa aksi. Tidak ada suatu perobahan besar di dalam riwayat-dunia yang ahir-akhir ini, yang lahirnya tidak karena massa-aksi. Tidak ada trans­formatie di zaman akhir-akhir ini, yang zonder massa-aksi. Massa-aksi adalah senantiasa menjadi penghantar pada saat masyarakat-tua melangkah ke dalam masyarakat yang baru. Massa-aksi adalah senantiasa menjadi paraji 1) pada saat masyarakat-tua yang hamil itu melahir­kan masyarakat yang baru. Perobahan di dalam zaman Chartisme di Inggeris di dalam zaman yang lalu, perobahan rubuhnya feodalisme di Perancis diganti dengan stelsel burgerlijke democratie, perobahan-perobahan matinya feodalisme di dalam negeri-negeri Eropah yang lain, perobahan­perobahan rontoknya stelsel kapitalisme bagian perbagian sesudah perge­rakan proletar menjelma di dunia, – perobahan-perobahan itu semuanya adalah "diparajii" oleh massa-aksi yang membangkitkan sap-sapan daripada Rakyat. Perobahan-perobahan itu dibarengi dengan gemuruhnya banjir pergerakan Rakyat-jelata.

1) Paraji – bahasa Sunda. Artinya dukun beranak.


Maka kitapun, bilamana kita ingin mendatangkan perobahan yang begitu maha-besar di dalam masyarakat sebagai gugurnya stelsel imperial­isme dan kapitalisme, kitapun harus bermassa-aksi.

Kitapun harus menggerakkan Rakyat-jelata di dalam suatu pergerakan radikal yang bergelombangan sebagai banjir, menjelmakan pergerakan massa yang tahadinya onbewust dan hanya raba-raba itu menjadi suatu perge­rakan massa yang bewust dan radikal, yakni massa-aksi yang insyaf akan jalan dan maksud-maksudnya.

Sebab, massa-aksi bukanlah sembarangan pergerakan massa, bukanlah semba­rangan pergerakan yang orangnya ribuan atau bermilyunan. Massa-aksi adalah pergerakan massa yang radikal. Dan massa-aksi yang manfaat seratus prosen hanyalah massa-aksi yang bewust dan insyaf; oleh karena itu maka-massa-aksi yang manfaat adalah dus: suatu per­gerakan Rakyat-jelata yang bewust dan radikal.


Welnu, bagaimanakah kita bisa menjelmakan pergerakan yang onbewust dan ragu-ragu dan raba-raba menjadi pergerakan yang bewust dan radikal? Dengan suatu partai. Dengan suatu partai yang mendidik Rakyat-jelata itu ke dalam ke-bewust-an dan keradikalan. Dengan suatu partai, yang menuntun Rakyat-jelata itu di dalam per­jalanannya ke arah kemenangan, mengolah tenaga Rakyat-jelata itu di dalam perjoangannya sehari-hari, – menjadi pelopor dari­pada Rakyat-jelata itu didalam menuju kepada maksud dan cita-cita.


Partailah yang memegang obor, partailah yang berjalan di muka, partailah yang menyuluhi jalan yang gelap dan penuh dengan ranjau­-ranjau itu sehingga menjadi jalan terang. Partailah yang memimpin massa itu di dalam perjoangannya merebahkan musuh, partailah yang memegang komando daripada barisan massa. Partailah yang harus mem­beri ke-bewust-an pada pergerakan massa, memberi kesedaran, memberi keradikalan.


Oleh karena itu, maka partai sendiri lebih dulu harus partai yang bewust, partai yang sedar, partai yang radikal. Hanya partai yang bewust dan sedar dan radikal bisa membikin massa menjadi bewust dan sedar dan radikal. Hanya partai yang demikian itu bisa menjadi pelopor yang sejati di dalam pergerakan massa, dan membawa massa itu dengan selekas-lekasnya kepada kemenangan dan keunggulan. Hanya partai yang demikian itu bisa membikin massa -aksi yang bewust massa-aksi yang dus dengan cepat bisa mengundurkan stelsel yang menjadi buah-perlawanannya. Orang sering mengira: kita barulah bisa menang kalau Rakyat Indonesia yang 60.000.000 jiwa itu semuanya sudah masuk suatu partai!


Pengiraan yang demikian itu adalah pengalamunan yang kosong, pengala­munan yang mustahil, pengalamunan yang memang tidak perlu terjadi. Jikalau kemenangan baru bisa datang bilamana Rakyat Indonesia yang 60.000.000 itu semuanya sudah masuk suatu partai, maka sampai lebur-­kiamatpun kita belum bisa menang. Sebab Rakyat yang 60.000.000 itu tidak bisa semuanya menjadi anggauta partai, mustahil se­muanya bisa menjadi anggauta partai.


Tidak! Kemenangan tidak usah menunggu sampai semua Rakyat­-jelata secindil-abangnya masuk suatu partai! Kemenangan sudah bisa datang, bilamana ada satu partai yang gagah-berani dan bewust menjadi pelopor-sejati daripada massa, yang bisa memimpin dan bisa menggerakkan massa, yang bisa berjoang dan menyuruh berjoang ke­pada massa, yang perkataannya menjadi undang-undang bagi massa dan perintahnya menjadi komando bagi massa. Kemenangan sudah bisa datang, bilamana ada satu partai yang dengan gagah-berani pandai me­mimpin dan membangkitkan bewuste massa-aksi!


Lihatlah mitsalnya, perjoangan di Tiongkok-dulu, lihatlah pergerakan di Mesir sepuluh-limabelas tahun yang lalu, lihatlah pergerakan kaum proletar di Eropah. Di semua negeri itu pergerakan tidak berwujud "tiap-tiap hidung menyjadi anggauta", tetapi adalah satu partai­ pelopor yang berjalan di muka memanggul bendera: di Mesir dulu partai Wafd, di Tiongkok dulu partai Kuo Min Tang, di dalam per­gerakan kaum proletar De Internationale. Partai-partai-pelopor inilah yang menjadi motor-nya massa, pengolahnya massa, kampiunnya massa, komandannya massa. Partai-partai-pelopor inilah yang mengemudikan massa-aksi.


Oleh karenanya, buanglah jauh-jauh itu pengiraan salah, bahwa lebih dulu "tiap-tiap hidung harus menjadi anggauta"! Tidak, bukan lebih dulu "tiap-tiap hidung harus menjadi anggauta", bukan lebih dulu semua Rakyat-jelata secindil-abangnya harus memasuki partai, tetapi Marhaen-Marhaen yang paling bewust dan sedar dan radikal harus menggabungkan diri di dalam suatu partai-pelopor yang gagah-berani! Marhaen-Marhaen yang paling bersemangat, Marhaen-­Marhaen yang paling berkemauan, paling sedar, paling rajin, paling berani, paling keras-hati, – Marhaen-Marhaen itulah sudah cukup untuk menggerakkan massa-aksi yang haibat dan bergelora dan yang datang pada kemenangan, asal sahaja tergabung di dalam satu partai-pelopor yang tahu menggelombangkan semua tenaganya massa.


Satu partai-pelopor? Ya, satu partai-pelopor, dan tidak dua, tidak tiga! Satu partai sahaja yang bisa paling baik dan paling sempurna, – yang lain-lain tentu kurang baik dan kurang sempurna. Satu partai sahaja yang bisa menjadi pelopor !

Memang lebih dari satu pelopor, membingungkan massa; lebih dari satu komandan, mengacaukan tentara. Riwayat-duniapun menunjukkan, bahwa di dalam tiap-tiap massa-aksi yang haibat adalah hanya satu partai sahaja yang menjadi pelopor berjalan di muka sambil memang­grul bendera. Bisa ada partai lain-lain, bisa ada perkumpulan lain-lain, tetapi partai-partai yang lain itu pada saat-saat yang penting hanyalah membuntut sahaja pada partai-pelopor itu, – ikut berjoang, ikut memimpin, tetapi tidak sebagai komandan seluruh tentaranya massa, melainkan hanya sebagai sersan-sersan dan kopral-kopral sahaja. Pada saat "historische momenten" maka menurut riwayat-dunia adalah satu partai yang dianggap oleh massa "itulah laki-laki dunia, marilah mengikut laki-laki dunia itu"!


Tetapi partai mana yang bisa menjadi partai-partai-pelopor di dalam massa-aksi kita? Partai yang kemauannya cocok dengan kemauan Marhaen, partai yang segala-galanya cocok dengan kemauan natuur, partai yang memikul natuur dan terpikul natuur. Partai yang demikian itulah yang bisa menjadi komandannya massa-aksi kita. Bukan partai burjuis, bukan partai ningrat, bukan "partai-Marhaen" yang reformistis, bukanpun ."partai radikal" yang hanya amuk-amukan sahaja, – tetapi partai-Marhaen yang radikal yang tahu saat menjatuhkan pukulan-pukulannya. Seorang pe­mimpin kaum buruh pernah berkata:

"Partai tak boleh ketinggalan oleh massa; massa selamanya radikal; partai harus radikal pula. Tetapi partai tidak boleh pula mengira, bahwa ia dengan anarcho-syndicalismel) lantas menjadi pemimpin massa. Partai harus memerangi dua haluan: ber­joang memerangi haluan reformis, dan berjoang memerangi haluan anarcho-syndicalist."


Welnu, partai yang digambarkan oleh pemimpin inilah, – yang dus tidak lembek, tetapi juga tidak amuk-amukan sahaja, melainkan konsekwen-radikal yang berdisiplin -, partai yang demikian itulah yang bisa menjadi partai-pelopor. Masyarakat sendiri akan menjatuhkan hukuman atas partai-partai yang tidak demikian: mereka akan didorong olehnya ke belakang menjadi paling mujur "partai-sersan" saha­ja, atau akan disapu olehnya samasekali, lenyap dari muka-bumi. Oleh karenanya, Marhaen, awas! Awaslah di dalam memilih partai. Pilihlah hanya itu partai sahaja, yang memenuhi syarat-syarat yang saya sebutkan tahadi!


Partai yang demikian itulah yang menuntun pergerakan Rakyat-jelata, merobah pergerakan Rakyat-jelata itu dari onbewust menjadi bewust,

1) Haluan "amuk-amukan".

memberikan pada Rakyat-jelata bentukan alias konstruksi dari­pada pergerakannya, membikin terang pada Rakyat-jelata a p a yang dituju dan bagaimana harus menuju, menjelmakan pergerakan Rakyat-jelata yang tahadinya hanya ragu-ragu dan raba-raba sahaja men­jadi suatu massa-aksi yang bewust dan insyaf,-suatu massa-aksi, yang oleh karenanya, segera memetik kemenangan. Partai yang demikian itulah partai Yang dibutuhkan oleh kaum Marhaen!


3 tampilan0 komentar

© 2019 Rumah Kebangsaan Pancasila