Lomba Pidato Meniru Gaya Bung Karno 4 - Nasional

Diperbarui: 23 Nov 2018

Pertama-tama, kami dari Rumah Kebangsaan Pancasila, memanjatkan puji syukur kehadiran Allah SWT Tuhan YME yang atas izin dari-Nya lah pad hari ini kami dapat kembali menyelenggarakan acara lomba pidato meniru gaya Bung Karno ini.

Dan kami juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu yang telah berperan dalam terselenggaranya acara ini.


Lomba pidato meniru gaya Bung Karno ini sebagaimana telah kita ketahui bersama adalah salah satu program tahunan RKP yang merupakan bagian dari program nation character buliding yang menjadi konsern kami di RKP.


Adapun maksud utama kami dari penyelenggaraan lomba pidato ini adalah bahwa kami berharap acara ini benar-benar dapat menjadi triger; dapat menjadi pemicu yang membawa perhatian masyarakat luas kepada Bung Karno. Terutama sekali tentu kepada ajaran-ajaran Bung Karno.


Bagi kami, dan semoga demikian juga bagi kita semua, upaya untuk membawa Indonesia kembali kepada ajaran Bung Karno adalah satu perkara yang amat penting. Satu perkara yang memiliki urgensi yang tinggi bagi bangsa ini. Sebab bagi kami membawa Indonesia kembali kepada ajaran Bung Karno adalah sama halnya dengan membawa Indonesia kembali kepada jati dirinya. Kepada akar ideologi dan keasliannya.

Kami setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bernhard Dahm ketika dia mengatakan: "Sejarah modern Indonesia bisa dirangkum dengan dua nama: Soekarno dan Pancasila."


Dan menurut hemat kami memang siapapun yang telah meluangkan waktunya untuk menggali perjalanan bangsa ini tentu akan setuju dan sependapat bahwa Bung Karno mempunyai posisi amat penting bagi bangsa dan negara ini. Kita tidak mungkin bicara Indonesia tanpa bicara Bung Karno. Bung Karno dan Indonesia adalah dua entitas yang tidak bisa dipisah-pisahkan.

Jadi, seperti apakah kita mengenal Bung Karno?

Pertama, kita mengenal Bung Karno sebagai Bapak Proklamator. Dan ditunjukanya Bung Karno sebagai proklamator bersama Bung Hatta tentu bukan perkara kecil. Ini menunjukan kepada kita akan kualitas dan kredibilitas Bung Karno di mata rakyat Indonesia dan rekan-rekan seperjuanganya kala itu. Ada kepercayaan dan harapan yang besar yang diletakan bangsa Indonesia kepada Bung Karno.


Kita juga mengenal Bung Karno sebagai Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Hal ini lantaran memang Bung Karno adalah pemimpin yang benar-benar dekat dengan rakyat Indonesia dan benar-benar mededikasikan hidupanya untuk kepentingan rakyat Indonesia. Bahkan Bung Karno menyebut revolusi Indonesia itu dengan sebutan Ampera. Amanat Penderitaan rakyat Indonesia.


Selain dari itu kita juga mengenal Bung Karno sebagai Penggali Pancasila. Ya, memang Bung Karno tidak mau jika dirinya disebut sebagai pencipta Pancasila. Baginya ia hanyalah seorang penggali yang menemukan dari dalam kalbunya bangsa Indonesia 5 mutiara. Lima perasaan yang kemudian ia formulasikan menjadi dasar-dasar yang kita kenal dengan nama Pancasila.


Pancasila inilah yang hingga hari ini telah mengikat kita yang berbeda-beda suku, golongan dan agamanya ini sebagai saudara sebangsa. Pancasila inilah yang bahkan dalam kondisi dimana bangsa ini belum benar-benar secara sungguh-sungguh menjalankannya, Pancasila tetap mampu mempersatukan dan menjaga keutuhan bangsa ini dari Sabang sampai Merauke. Jadi, terlebih-lebih lagi tentunya jika kita benar-benar menjalankan Pancasila ini dengan sebaik-baiknya.


Di samping itu Bung Karno juga kita tahu adalah Presiden pertama Republik Indonesia dan bahkan besarnya harapan dan kepercayaan kepada Bung Karno membuat MPRS pada waktu itu menobatkannnya sebagai Presiden seumur hidup.


Namun selain dari pada itu, satu peran dan posisi Bung Karno yang paling penting adalah sebagai Pemimpin Besar Revolusi Indonesia. MPRS sebagai penejawantahan dari rakyat Indonesia pada masa itu telah memberi mandat kepada Bung Karno untuk menjadi Pemimpin Besar Revousi Indonesia. Untuk memimpin bangsa ini menyelesaikan cita-cita revolusinya. Cita-cita dari pada Proklamasi. Cita-cita dari pada Ampera.


Sebagaimana perkataan Bung Karno yang terkenal: Revolusimu belum selesai..! Ya, sebab revolusi Indonesa itu bukan saja hanya mengusir penjajah dari bumi Indonesia, tapi revolusi indonesia itu menuju kepada dunia baru. Dunia tanpa eksploitasi manusia atas manusia bangsa atas bangsa.


Jadi sebagaimana yang telah digariskan dalam revolusi Indonesia itu bahwa selepas kita mengusir penjajah; setelah kita menjadi bangsa yang merdeka. Langkah penting yang harus kita lakukan adalah mewujudkan Negara Indonesia yang berbentuk Kesatuan dan berbentuk republik. Ya, itulah yang mesti kita perbuat. Memastikan NKRI benar-benar menjadi NKRI.


Menjadi negara Indonesia yang benar-benar kesatuan. Negara yang seluruh rakyatnya dari Sabang sampai Merauke benar-benar berada dalam satu kesatuan kebangsaan, dalam satu kesatuan kenegaraan, satu kesatuan tekad, satu kesatuan ideologi dan satu kesatuan cita-cita sosial.


Dan juga menjadi Negara Indonesia yang benar-benar Republik. Negara yang benar-benar bepihak kepada rakyat. Benar-benar memperjuangakan rakyat. Negara yang benar-benar berjuang untuk mewujudkan masyarakat Indoneisa yang adil dan makmur.

Di balik solidnya kesatuan dan republik dari pada negara Indonesia inilah, kita baru benar-benar akan menyaksikan terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur itu.


Dan hanya ketika kita telah mampu mewujudkan masyarkat Indonesia yang adil dan makmur itulah kita benar-benar akan dapat berperan untuk mewujudkan persaudaraan bangsa-bangsa. Persaudaraan umat manusia sebagaimana yang digariskan oleh revolusi kita.


Ya, Bung Karno tentu hanyalah seorang manusia biasa seperti kita yang punya kekurangan dan tentu tidaklah sempurna. Tapi terlepas dari itu semua, satu hal yang membuat bung Karno benar-benar menjadi manusia yang luar biasa adalah karena dedikasinya yang amat besar buat bangsa ini. Pada tanggal 10 September 1966 Bung Karno pernah menulis tentang penggambaran dedikasi hidupnya. Bung Karno menulis:

Saya adalah manusia biasa

Saya, dus, tidak sempurna

Sebagai manusia biasa, saya tak luput dari kekurangan dan kesalahan

Hanya kebahagiaanku adalah mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada Bangsa

Itulah dedicaiton of life-ku

Jiwa pengabdian inilah jadi falsafah hidupku, saya nikmati dan jadi bekal hidupku

Tanpa jiwa pengabdian ini saya bukan apa-apa

Akan tetapi dengan jiwa pengabdian ini, saya merasa hidupku bahagia dan membawa manfaat.


Kita juga melihat trilogi HOS Cokro Aminoto guru dari Bung Karno, yang mengajarkan murid-muridnya untuk mencapai: setinggi-tingginya ilmu, semurni-murninya tauhid dan sepintar-pintarnya siasat, benar-benar tumbuh pada diri Bung Karno. Entah apakah ada, karena sejauh yang saya tahu tidak ada orang selain Bung Karno yang dalam 14 tahun mendapatkan 26 Gelar Doktor Honauris Causa dari berbagai bidang ilmu. ilmu tehnik, hukum, sosial & politik, kemasyarakatan, sejarah, agama sampai dengan filsafat tauhid Bung Karno dapatkan dari berbagai universitas ternama baik dalam dan luar negeri.


Dan pada kesempatan ini kami sampaikan bahwa kami Rumah Kebangsaan Pancasila menyatakan diri berdiri di belakang Bung Karno. Bediri untuk melanjutkan perjuangan Bung Karno menuntaskan revolusi Indonesia ini. Bagi kami dan bagi kita semua tetaplah dan haruslah Bung Karno kita tempatkan sebagai Pemimpim Besar Revolusi Indonesia yang ajaran-ajarannya harus terus kita jadikan rujukan untuk membawa bangsa dan negara ini kepada cita-cita kemerdekaannnya. Dan kami turut memberikan diri kami kepada service of freedom sebagaimana Bung Karno pernah berkata:


"Dan saya, Saudara-saudara, telah memberikan, menyumbangkan atau menawarkan diri saya sendiri, dengan segala apa yang ada pada saya ini, kepada service of freedom, dan saya sadar sampai sekarang: the service of freedom is deathless service, yang tidak mengenal akhir, yang tidak mengenal mati. Itu adalah tulisan isi hati. Badan manusia bisa hancur, badan manusia bisa dimasukkan di dalam kerangkeng, badan manusia bisa dimasukkan di dalam penjara, badan manusia bisa ditembak mati, badan manusia bisa dibuang ke tanah pengasingan yang jauh dari tempat kelahirannya, tetapi ia punya service of freedom tidak bisa ditembak mati, tidak bisa dikerangkeng, tidak bisa dibuang di tempat pengasingan, tidak bisa ditembak mati."


Akhir kata, semoga kita benar-benar dapat mentauladani semangat dan perjuangan Bung Karno itu dan semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberkati setiap langkah kita untuk mendedikasikan diri kita kepada service of freedom.


Merdeka..!!

0 tampilan

© 2019 Rumah Kebangsaan Pancasila