HARI PAHLAWAN: PERSATUAN ADALAH KEKUATAN

Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya yang kini kita peringati sebagai hari pahlawan adalah satu peristiwa penting yang menunjukkan kepada kita bahwa Indonesia setelah proklamasi bukanlah Indonesia yang dulu. Indonesia setelah proklamasi adalah Indonesia yang tidak lagi Indonesia yang bersifat kedaerahan.

Indonesia setelah Proklamasi adalah Indonesia yang telah terikat kokoh dalam semangat satu nusa, satu bangsa, satu bahasa - Indonesia. Indonesia setelah proklamasi adalah Indonesia yang setiap jiwa dari Sabang sampai Merauke telah terbakar dalam semangat satu kesatuan kebangsaan, dalam satu kesatuan kenegaraan, satu kesatuan tekad, satu kesatuan ideologi dan satu kesatuan cita-cita sosial.

Perang terbesar sepanjang sejarah revolusi Indonesia yang menewaskan ribuan jiwa anak bangsa ini di Surabaya ini bahkan benar-benar membuat Inggris tercengang. Bagaimana tidak, Inggris yang kala itu menggempur Surabaya dari darat, laut dan udara dengan pasukan kelas dunia dan senjata modern yang dimilikinya terpaksa harus mengakui kekalahannya.


Inggris yang pada peristiwa itu harus kehilangan dua jenderal dan harus menghadapi perlawanan yang mereka sebut dengan neraka atau inferno Timur Jawa, membawa mereka pada kesimpulan yang menyakinkan bahwa Indonesia bukan lagi Indonesia yang dulu. Indonesia tidak bisa lagi ditaklukkan dengan cara paksa.


Pada peristiwa itu kita memang dapat melihat dengan jelas bahwa terdapat perbedaan yang amat besar perlawanan kepada imperialisme di Surabaya pada waktu itu dengan perlawanan-perlawanan sebelumnya. Dari pidato Bung Tomo kita mengetahui bahwa mereka yang ikut berperang di Surabaya bukan hanya arek-arek Surabaya melainkan ikut pula di dalamnya pemuda-pemuda dari Maluku, Sulawesi, Bali, Kalimantan, Sumatera, Aceh, Tapanuli, dan pemuda Indonesia lainnya.


Hal yang seperti itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Sebelum itu pun kita telah melakukan perlawanan terhadap imperialisme. Akan tetapi dulu pandangan kita tentang tanah air; tentang tanah tumpah darah masihlah sebatas daerah dimana kita dilahirkan. Dulu, bagi orang Aceh tanah air mereka ya tanah Aceh. Bagi orang Batak tanah air mereka ya tanah Batak. Bagi orang Jawa tanah air mereka ya sebatas daerah dimana mereka dilahirkan saja. Masing-masing kita di masa yang lalu berjuang untuk daerah kita masing-masing. Belum untuk Indonesia.


Inilah salah satu indikator kuat betapa semangat kesatuan nusa, bangsa dan bahasa yang dilahirkan oleh sumpah pemuda benar-benar menjadi energi yang mempersatukan kita dan menjadikan kita bangsa yang kuat. Sudah semestinya lah kita benar-benar menjadikan peristiwa Surabaya ini menjadi sebuah tanda akan betapa berharganya persatuan dan kesatuan bangsa. Mari kita letakkan penghargaan kita yang setinggi-tingginya kepada para pahlawan bangsa ini dengan menjaga dan merawat persatuan dan kesatuan bangsa dengan sebaik-baiknya.


QS.3:103: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

34 tampilan

© 2019 Rumah Kebangsaan Pancasila