Falsafah Jawa: Urip Iku Urup

Diperbarui: 28 Agt 2019


"Urip iku urup" begitulah bunyi salah satu falsafah hidup orang jawa yang telah diwarisi dari generasi ke generasi dan yang sarat dengan makna itu. Secara harfiah falsafah tersebut berarti "hidup itu menyala". Yang jika ditafsirkan, falsafah ini mempunyai pengertian bahwa hidup yang kita jalani ini haruslah membawa manfaat dan berkah bagi orang lain dan sekitar kita.



Ajaran yang terkandung dalam falsafah tersebut tentu saja merupakan warisan ajaran luhur yang bukan saja harus kita hormati tapi juga harus kita lakoni dalam kehidupan sehari-hari. Meski ajaran ini mungkin telah berumur sangat tua, namun kita masih melihat dan merasakan relevansinya yang kuat dengan nilai-nilai kemusiaan yang kita yakini hari ini. Ini tentu juga dikarenakan ajaran yang terkandung di dalamnya memanglah merupakan prinsip universal yang bersifat abadi. Sebuah hukum yang berlaku selamanya dan berlaku dimanapun.


Keluhuran ajaran dalam falsafah yang satu ini menjadi sebuah ajaran yang mendorong kita untuk menjadi manusia sebagaimana harusnya manusia. Menjadi manusia yang sejati. Menjadi manusia yang hidup seutuhnya dan selaras dengan fitrah penciptaannya. Dan hidup yang demikian itu bukanlah saja merupakan kodrat atau sebuah keharusan yang mesti kita capai, melainkan juga karena hal itu sangatlah berkaitan erat dengan capaian kebahagiaan dan kedamaian diri kita sendiri.


Kita manusia memanglah diciptakan oleh Sang Pencipta dalam sebuah setting kejiwaan yang hanya dapat mencapai kebahagiaan hakikinya jika kita menjadi orang baik dan berguna. Semakin banyak dan besar kebaikan yang kita buat dalam hidup ini - semakin bermanfaat diri kita - maka akan semakin dekat juga kita dengan kebahagiaan yang hakiki itu. Karenanya itulah falsafah Jawa yang satu ini dapatlah kita katakan merupakan petunjuk mendasar yang akan menuntun kita kepada kemanusiaan kita yang esensial.


Meski mungkin pada masanya dulu falsafah ini sangatlah populer, meresap dalam batin dan menjiwai prilaku hidup masyarakat nusantara pada waktu itu, namun tidaklah kita pungkiri bahwa pada saat ini terbilang sedikit orang yang mengenal dan memahami falsafah hidup ini dengan baik, terlebih lagi yang melakoninya. Dengannya menjadi hal yang penting bagi kita yang peduli kepada keluhuran budi, budaya dan masa depan bangsa kita ini - untuk menghargai, menggali nilai-nilai luhur dan kearifan bangsa ini. Yang kemudian secara sadar melakoninya dalam kehidupan sehari-hari dan mengajarkan nilai-nilai tersebut kepada masyarakat luas.


Jika ajaran yang dapat dikatakan sederhana namun luhur ini dapat terjiwai dengan baik oleh masyarakat kita dan jika setiap orang bersedia melakoninya, hal ini bukan saja akan mengeratkan persatuan dan kesatuan bangsa, bahkan akan mampu membawa bangsa kita menjadi bangsa yang adil makmur sejahtera.


Bung Karno pernah berkata bahwa salah satu kelemahan bangsa kita ialah bahwa kita kurang percaya kepada diri kita sendiri sebagai bangsa. Padahal, untuk menjadi bangsa yang kuat, mengharuskan kita untuk tumbuh mengakar di atas budaya dan jati diri bangsa kita sendiri. Karenanya haruslah ada upaya-upaya untuk membawa bangsa ini kepada rasa bangga, cinta dan gandrung kepada nilai-nilai, kearifan yang berasal dari akar budaya bangsanya sendiri. Terlebih-lebih di zaman globalisasi sekarang ini dimana arus informasi yang membawa nilai-nilai dan budaya asing sedemikian hebatnya membombardir kita.

© 2019 Rumah Kebangsaan Pancasila