ESENSI PANCASILA ITU GOTONG ROYONG

Dalam pidatonya pada tanggal 22 Juni 1945 ketika menawarkan Pancasila sebagai dasar negara di sidang BPUPKI, Bung Karno menjelaskan bahwa Pancasila dapat diperas menjadi Trisila dan Trisila dapat lagi diperas menjadi Ekasila. Meski nampak seakan-akan Bung Karno sedang memberi opsi lain dari pada Pancasila, yaitu Trisila dan Ekasila, yang mana ketiganya adalah sama secara subtansi, namun kita dapat mengerti bahwa maksud Bung Karno bukanlah untuk memberi pilihan. Bung Karno justru bermaksud memperkuat dan memperdalam pengenalan dan pemahaman kita akan dasar yang lima dari Pancasila itu. Dan dari itu kita mengerti bahwa bentuk akhir dari pada implementasi Pancasila itu adalah terwujudnya Masyarakat Gotong Royong.


Gotong royong inilah sebaik-baiknya sistem. Gotong royong inilah sebenar-benarnya cara kita membangun hidup. Dan Gotong royong inilah setinggi-tingginya budaya. Sebab adalah kenyataan yang memang tidak bisa kita tolak bahwa manusia benar-benar tidak bisa hidup masing-masing. Manusia tidak dapat memilih hidup bergolong-golongan, berpecah belah, bermusuh-musuhan dan saling mengalahkan. Hidup yang demikian itu telah jelas dan pasti hanya akan membawa manusia pada kehancuran dan kesengsaraan. Dan kita semua yang hidup di hari ini adalah saksi atas peradaban panjang umat manusia yang telah meninggalkan simpul hikmah amat penting, yaitu bahwa manusia hanya punya satu pilihan untuk dapat mewujudkan damai sejahtera di atas dunia ini: Gotong Royong!


Jadi sebenarnya gotong royong itu adalah kodrat hidup yang tidak bisa ditolak. Gotong royong itu adalah fitrahnya manusia. Gotong royong itu adalah kekuatan luar biasa yang ketika suatu tatanan masyarakat gotong royong ini telah terbentuk, akan banyak karya-karya besar dan hebat yang dapat dilahirkannya. Yang berat menjadi ringan dan yang sulit menjadi mudah. Namun memang perkara mewujudkan masyarakat gotong royong ini bukanlah perkara kecil meski formula untuk wujudkan itu telah ada. Yaitu Pancasila!


“Di atas landasan ideeel Pancasila ini kita bisa membangun budinya bangsa Indonesia yang setinggi-tingginya. Dan inilah keyakinan kita, hanya di atas landasan ideel yang bernama Pancasila itu kita bisa membangun kita punya budi dan daya yang sesempurna-sempurnanya.” ~ BUNG KARNO


Hal yang pasti tentang gotong royong ini adalah ia menuntut keluhuran budi. Dan masyarakat gotong royong pastilah masyarakat yang tinggi budi pekertinya. Tidak mungkin kita membangun satu tatanan masyarakat gotong royong tanpa sekaligus membangun budi pekerti atau akhlaqnya. Sebab untuk dapat bergotong royong itu dibutuhkan kerendahan hati, dibutuhkan kejujuran, dibutuhkan respek, dibutuhkan sikap saling percaya, toleransi, dedikasi, patriotisme dan dibutuhkan kesadaran Tat twam asi – engkau adalah aku, aku adalah engkau. Dibutuhkan kesadaran Bhinneka Tunggal Ika – bahwa kita yang beragam ini sejatinya tunggal adanya. Singkatnya, masyarakat gotong royong itu hanya dapat terwujud dalam masyarakat bhinneka tunggal ika.


Dan Pancasila itu sejatinya adalah hadir untuk mewujudkan masyarakat bhinneka tunggal ika itu. Masyarakat gotong royong itu. Karena itulah semboyan tetap dari pada Pancasila itu adalah Bhinneka Tunggal Ika. Bhinneka tunggal ika itulah keasilan kita. Keindonesiaan kita. Asal kita. Jati diri kita. Kodrat hidup dan fitrah kita. Sebab seberapapun besar dan banyaknya perbedaan yang kita punya, pastilah satu dan sama kesejatian kita. Diciptakan dan berada dalam naungan Tuhan yang sama dan dihidupi oleh rasa kemanusiaan yang sama. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Adakah pilihan yang lebih baik bagi kita bangsa Indonesia selain dari bersatu sebagai saudara sebangsa – bergotong royong membangun hidup bersama dalam wadah negara kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan, yang kita selenggarakan dalam permusyawaratan/perwakilan – demi satu tujuan bersama; kesejahteraan bersama; keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?


“Aku selalu berkata pada waktu itu, “Dharma Eva Hato Hanti”, “Dharma Eva Hato Hanti”, kalimat Sanskerta, yang berarti “Kuat karena bersatu, bersatu karena kuat!”” ~ BUNG KARNO

© 2019 Rumah Kebangsaan Pancasila