ESENSI HAJI



وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS. Al-Hajj [22]:27)



Haji secara bahasa berasal dari kata al-Hajju yang berarti menuju. Namun menuju disini punya kekhususan – yaitu menuju sesuatu yang paling esensial. Menuju sesuatu yang paling penting dan paling kita butuhkan. Menuju yang hajat kita yang paling inti dan pokok. Menuju pengenalan mendalam prihal common interest dan common sense kita manusia – satu titik sadar universal yang menjadi syarat mutlak untuk dapat terwujudnya persatuan.


Diterangkan pula bahwa berhaji adalah kewajiban manusia kepada Allah bagi orang-orang mampu mengerjakannya. Dan sebagaimana yang diterangkan dalam QS. 22:27 bahwa seruan berhaji ini; seruan untuk berkumpul di bait Allah ini, adalah seruan yang Allah perintahkan kepada Ibrahim untuk menyerukannya kepada seluruh manusia. Sekali lagi, kepada SELURUH MANUSIA – tanpa pengecualian.


Dan adalah sebuah keniscayaan melalui seruan berhaji ini manusia dari segenap penjuru yang jauh akan datang untuk memenuhi panggilan Allah berkumpul di Bait-Nya itu. Artinya, seruan berhaji ini memang pada hakekatnya adalah seruan untuk mempersatukan umat manusia. Dan di dalam haji inilah tersimpan sebuah rahasia yang dengannya seluruh manusia dapat dipersatukan. Dipersatukan dalam hajat dan hujjah yang sama. Dalam common interest dan common sense yang tunggal.


اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًا ۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ

Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (yaitu) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya amanlah dia. Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam. (QS. Al-Imran [3]: 96)


Ka’bah atau Baitullah adalah rumah pertama yang dibangun untuk manusia. Ka’bah inilah yang kemudian menjadi kiblat bagi manusia, menjadi tempat berkumpul umat manusia untuk beribadah, tawaf, ruku dan sujud memuji keesaan dan kebesaran Allah.


Baitullah atau rumah Allah ini adalah tempat yang diberkahi yang dibangun untuk menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Yang artinya, terdapat sebuah petunjuk penting di dalamnya; terdapat sebuah pelajaran; sebuah rahasia yang dapat membawa kita pada titik sadar universal prihal common interest dan common sense kita. Prihal hajat dan hujjah esensial yang memungkinkan kita bersama berpegang padanya dan bekerja untuknya.


Dijelaskan pula pada ayat di atas bahwa pada Baitullah itu terdapat tanda-tanda yang jelas, yaitu maqam Ibrahim. Nah, di sinilah Allah letakan tanda atau ayat atau petunjuk yang jelas itu. Pada maqam Ibrahim itulah kita dapat menemukan petunjuk dasar yang jelas yang dapat menghantarkan kita kepada titik sadar universal akan hajat dan hujjah; akan common interest dan common sense kita.


Maqam dalam bahasa Arab berarti “kedudukan”. Bentuk fisik maqam Ibrahim berupa batu yang padanya terdapat bekas tapak kaki Ibrahim. Yang dalam kisahnya batu inilah yang menjadi pijakan Ibrahim ketika ia membangun Ka’bah bersama Ismail.


Secara hakikat maqam Ibrahim bermakna kedudukan atau titik pencapaian spiritualas Ibrahim. Yang mana di dalam Qur’an kita dapat temukan banyak sekali sebutan yang memuliakan kedudukan Ibrahim. Ia disebut seorang yang lurus, yang shaleh, yang berserah diri, imam seluruh manusia dan bahkan disebut juga kesayangan Allah. Pertanyaanya kemudian adalah apa yang membawa Ibrahim sampai kepada kedudukannya yang semulia itu?


Dan ayat berikut ini menerangkan kepada kita tentang sebuah hujjah yang Allah berikan kepada Ibrahim untuk mengurus kaumnya. Hujjah yang dengannya Allah meninggikan derajat orang-orang yang dikehendaki-Nya.



اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ اٰتَيْنٰهَآ اِبْرٰهِيْمَ عَلٰى قَوْمِهٖۗ نَرْفَعُ دَرَجٰتٍ مَّنْ نَّشَاۤءُۗ اِنَّ رَبَّكَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ

“Orang-orang yang BERIMAN dan TIDAK MENCAMPUR ADUKKAN IMAN MEREKA DENGAN KEZALIMAN, mereka itulah orang-orang yang mendapat KEAMANAN dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk mengurus kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am [6]: 82-83)


Ya, itulah hujjah yang dengan hujjah itu Allah meninggikan derajat orang-orang yang dikehendaki-Nya itu. IMAN + TIDAK MENCAMPURADUKAN IMAN DENGAN KEZALIMAN = AMAN. Jadi, hujjah ini – TIDAK MENCAMPURADUKAN IMAN DENGAN KEZALIMAN – adalah sebuah formula untuk mencapai kondisi yang aman. Dan mereka yang berpegang kepada hujjah tersebut, mereka itulah orang-orang yang mendapat petujuk.


Kembali kepada QS. 3:96 dimana dikatakan bahwa barang siapa yang memasuki Baitullah maka menjadi amanlah dia. Menjadi aman dalam berbagai hal - lahir dan batin. Dan keamanan itulah sebenarnya hajat esensial kita sebagai manusia. Itulah common interest kita bersama. Dimana formula untuk mencapai keadaan yang demikian itu terjelaskan dalam hujjah Ibrahim itu.


Jadi, setelah kita pahami bahwa hajat esensial kita – seluruh umat manusia – adalah mewujudkan keamanan, dan setelah juga kita temukan bahwa hujjah untuk mencapai keamanan itu adalah dengan jalan TIDAK MENCAMPURADUKAN IMAN DENGAN KEZALIMAN, maka selanjutnya point penting yang harus kita pahami secara mendalam adalah tentang makna dari TIDAK MENCAMPURADUKAN IMAN DENGAN KEZALIMAN itu.

Untuk itu mari kita perhatikan ayat berikut ini:


وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A’raf [7]: 96)


Dari ayat tersebut kita menemukan narasi lain dari pada,

IMAN + TIDAK MENCAMPURADUKAN IMAN DENGAN KEZALIMAN = AMAN itu.


Yaitu:

IMAN + BERTAKWA = BERKAH DARI LANGIT DAN BUMI


Yang dari itu kita dapat memahami lebih jauh bahwa narasi lain TIDAK MENCAMPURADUKAN IMAN DENGAN KEZALIMAN itu adalah BERTAKWA. Dan narasi lain dari KEAMANAN itu adalah dilimpahkannya BERKAH DARI LANGIT DAN BUMI. Yang dengan itu untuk memahami prihal apa yang dimaksud dengan TIDAK MENCAMPURADUKAN IMAN DENGAN KEZALIMAN itu adalah dengan jalan memahami apa itu KETAKWAAN.


Dan melalui ayat berikut ini,


يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan kasih sayang. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisa [4]:1)


Terjelaskan kepada kita bahwa jalan bertakwa kepada Allah itu adalah jalan PERSATUAN DI DALAM KASIH SAYANG yang kita wujudkan dengan membangun BUDAYA SALING MEMINTA; budaya hidup; budaya bermasyarakat, dimana seluruh interaksi kita di dalamnya kita dasarkan dan sandarkan kepada nama-Nya.


Kata أَرْحَامَ yang diterjemahkan dengan “hubungan kasih sayang” pada ayat tersebut bermakna hubungan kasih sayang yang di dasarkan pada kenyataan bahwa kita semua – seluruh manusia di dunia ini – bermula dari satu rahim yang sama. Bahwa kita adalah keturunan dari satu orang laki-laki dan satu orang perumpuan yang sama. Dari Adam dan Hawa. Kita semua adalah keluarga.


Maka mantap kita simpulkan bahwa esensi dari pada haji adalah menyeru manusia kepada PERSATUAN DALAM KASIH SAYANG. Inilah pokok dari hujjah Ibrahim itu. Inilah common sense yang akan menjadi dasar kita untuk mewujudkan common interest kita. Mewujudkan hajat esensial kita. Mewujudkan keadaan yang aman dalam berbagai hal.


Jadi, keberhasilan seorang manusia dalam berhaji adalah ketika ia berhasil mengenali dan menghidupkan cahaya kasih sayang yang tertanam di inti dirinya sejak hari kelahirnya itu. Melalui haji ini kita memproses diri kita untuk sampai kepada kesejatian dan kesucian diri. Untuk kembali kepada fitrah penciptaan kita. Untuk hidup seutuhnya di dalam nama-Nya – di dalam ajaran kasih sayang.





56 tampilan

© 2019 Rumah Kebangsaan Pancasila