Bukit Kasih: Menegaskan Arti Bhinneka Tunggal Ika

Bukit Kasih yang terletak di Desa Kanonang, Minahasa, Manado, Sulewesi Utara ini adalah salah satu obyek wisata unik yang mengandung syiar-syiar Pancasila di dalamnya. Apa yang disuguhkan objek wisata ini sangat sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan dasar pembentuk peradaban bangsa Indonesia.


Tugu Toleransi di Bukit Kasih

Obyek wisata Bukit Kasih yang dibangun pada tahun 2002 memang dimaksudkan untuk menjadi tepat dimana umat beragama dapat berkumpul dan menikmati indahnya kerukunan, kebersamaan dan perdamaian.


Di areal utama bukit kasih ini terdapat sebuah tugu setinggi 22 meter dimana pada tiap-tiap sisinya terdapat simbol dan kutipan ayat dari kitab suci masing-masing agama. Tugu yang diberi nama "Tugu Toleransi" ini berdiri tegak untuk menegaskan bahwa perbedaan agama tidaklah boleh menjadi alasan yang menghalangi kita semua untuk bersatu dan bersaudara.


Di atas bukit berdiri lima tempat ibadah dari kelima agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia: Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha. Kelima tempat ibadah tersebut dibangun saling berdampingan satu sama lainnya untuk menjadi pengajaran bagi setiap orang yang berkunjung bahwa kasih, toleransi dan sikap saling menghormati kemerdekaan dan perbedaan satu sama lain adalah sikap luhur yang menjadi prasyarat bagi bangsa ini untuk sampai pada kedamaian dan kejayaannya.


Kita tentu berharap bangsa ini dapat memiliki banyak wahana dan media yang dapat mengokohkan rasa persatuan dan kesatun bangsa sebagaimana halnya obyek wisata seperti Bukit Kasih ini. Bangsa ini memang perlu untuk terus menerus diingatkan akan jati dirinya. Akan keluhuran peradabannya yang tumbuh mengakar di atas nilai-nilai Pancasila yang bersemboyankan Bhinneka Tunggal Ika.


Nation character building atau upaya untuk membangun jati diri bangsa adalah sebuah keharusan. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika haruslah mampu dilihat sebagai sebuah fitrah; sebagai sebuah kodrat bangsa; sebagai sebuah konsekuensi mutlak bagi bangsa Indonesia. Sama halnya makan minum adalah konsekuesi mutlak bagi orang yang lapar dan haus, demikian halnya dengan Pancasila - Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan konsekuensi mutlak bagi bangsa Indonesia yang terbentuk dari keragaman suku, agama dan tradisi ini.

116 tampilan1 komentar

© 2019 Rumah Kebangsaan Pancasila