Secara garis besar metode untuk membangun karakter yang kita temukan di dalam haji itu berisi empat tahapan inti: MENGENAL (mengerti seutuhnya arti kasih sayang), MENYADARI (bertekad untuk hidup dalam kasih sayang), MEMPERJUANGKAN (berjuang menjadi pribadi yang pengasih penyayang), MENIKMATI (hidup sepenuhnya dalam kasih sayang Allah).

A. FASE ARAFAH - Mengenal Tuhan Mengenal Diri

Arafah2.png

“Katakanlah, “Milik siapakah apa yang di langit dan di bumi?” Katakanlah, “Milik Allah.” Dia telah menetapkan kasih sayang pada diri-Nya. Dia sungguh akan mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak diragukan lagi. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman.” (QS. Al-An’am [6]:12)

  1. Sebagaimana makna dari Arafah yang berarti mengenal, tujuan dari pada wukuf di Arafah pun adalah mencapai pengenalan. Pengenalan yang sebenar-benarnya kepada Allah dan kepada diri sendiri. Tugu Jabal Rahmah yang menjadi “the center of Arafah” adalah penanda tentang divine value yang harus kita kenali dengan sebaik-baiknya.                                                                                                                         

  2. Keberhasilan kita pada fase Arafah ini ketika kita sampai kepada pengenalan bahwa kasih sayang adalah fitrah Allah dan adalah juga merupakan fitrah penciptaan manusia. Maka kasih sayang adalah segalanya. Ia adalah kunci untuk menggapai kesuksesan dunia dan akhirat.                                                

  3. Wukuf yang bermakna berdiam diri ini adalah jalan kita masuk ke inti diri untuk menemukan divine value kita di sana. Kita harus mencapai tingkat keheningan yang dalam untuk dapat melihat dan mendengar suara divine value kita itu sebagaimana detak jam yang baru akan terdengar dalam keheningan malam.

  Praktek Pelaksanaan:

 

  1. Berpakaian ihram dan mengambil niat haji – pada titik ini kita harus benar-benar hadir dalam niat yang tulus dan pikiran terbuka untuk menuju Allah. Menuju kepada kualitas diri yang diridhoi-Nya. Kita tanggalkan segala rupa atribut keduniawiaan kita dan hadir dengan segala kerendahan hati di hadapan Allah.                                                                                                                                                                 

  2. Mendengarkan khutbah Arafah (Kisah Nabi Adam dan Hawa) – melalui kisah penciptaan Nabi Adam dan Hawa sampai dengan ditempatkanya mereka di atas bumi inilah kita diharapkan memahami dengan baik maksud penciptaan dan keberadaan kita di muka bumi.                                                                                

  3. Menuju Arafah sambil membaca talbiyah – membaca talbiyah menjadi satu tanda akan pentingnya untuk senantiasa menjaga kesadaran kita bahwa perjalanan hidup kita di atas dunia ini adalah perjalanan menuju kepada-Nya. Tidak ada satu apapun yang boleh memalingkan kita dari-Nya.                                                                                                                  

  4. Wukuf di Arafah – di titik inilah kita berdiam diri, berkontemplasi mencapai kekhusyuan dan kemudian menyelam ke inti diri kita unutk menemukan hakekat diri kita yang sebenarnya di sana. Menemukan kasih sayang

B. FASE MUZDALIFAH - Menetapkan Tekad Secara Sadar

jumrah.png

“Hai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. At Tahrim [66]:8)

  1. Sebagaimana makna dari Muzdalifah yang berarti kesadaran, tujuan dari pada mabit atau bermalam di Muzdalifah ini adalah untuk mencapai kesadaran. Kesadaran yang kuat yang melahirkan tekad yang bulat untuk memperjuangkan kesejatian kita sebagai manusia. Kesadaran inilah cahaya yang akan menerangi jalan kita. Ia adalah energi yang menggerakan langkah perjuangan kita dan menguatkan diri kita atas segala apa yang kita hadapi di dalamnya.                                                                                        

  2. Pada titik ini kita melakukan introspeksi diri secara mendalam. Melihat utuh rancang bangun self concept yang kita punya dan kemudian menselaraskannya dengan ajaran kasih sayang sebagai divine value bagi kehidupan kita. Kemudian dari itu kita menetapkan rancang bangun self concept kita yang baru.                                                                                                    

  3. Mengumpulkan kerikil kita lakukan bersamaan dengan membulatkan tekad dalam diri kita untuk menyingkirkan segala hal yang menghambat kita untuk mencapai kesejatian diri kita. Butir-butir kerikil yang kita kumpulan layaknya butir-butir idealisme atau butir-butir prinsip yang akan menjadi alat pelontar syaitan.

  Praktek Pelaksanaan:

 

  1. Mabit di Muzdalifah – pada titik ini kita mengambil waktu sejenak untuk mengevalusi keadaan diri kita dan menata ulang self concept kita, menemukan hal-hal yang selama ini menjadi penghambat kemajuan kita dan membulatkan tekad untuk memperbaikinya. Melakukan emotional cleansing untuk mempersiapkan hati dan pikiran menerima self concept yang baru yang akan kita pasang pada diri kita. Kita mengambil waktu sejenak untuk memeriksa adakah kebencian dan kedengkian yang mengendap pada pikiran dan hati kita untuk kemudian melepaskannya agar cinta dapat hadir sepenuhnya di sana. Memeriksa adakah prasangka dan keluh kesah yang bersarang dalam pikiran dan hati kita untuk kemudian melepaskannya agar rasa syukur dapat hadir sepenunya di sana. Memeriksa adakah kemarahan dan rasa bersalah yang tidak pada tempatnya yang mengisi pikiran dan hati kita untuk kemudian melepaskannya agar rasa ikhlas dapat hadir sepenuhnya di sana.                                                

  2. Mengumpulkan batu-batu kerikil – saat kita mengumpulkan batu-batu kerikil sambil kita menetapkan tekad kita. Contoh: saya harus menjadi orang yang penuh semangat dan saya akan menyingkirkan rasa malas saya; saya harus menjadi orang yang selalu bersyukur dan saya akan menyingkirkan sifat keluh kesah saya; saya harus menjadi orang yang rendah hati dan saya akan menyingkirkan keangkuhan pada diri saya. Sesuai dengan keadaan diri kita masing-masing.

“Katakanlah, "Aku berlindung kepada Pemelihara manusia, Raja manusia, Sembahan (tujuan) manusia, dari kejahatan setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia." (QS. An Nas [114]:1-6)

C. FASE MINA - Memperjuangkan Diri Yang Ideal

Mina.png

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada-Nya, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat dan karunia dari-Nya, dan menunjukkan mereka jalan yang lurus kepada-Nya. (QS. An Nissa [4]:175)

  1. Mina yang mengandung arti cinta sejati, mengisyaratkan kepada kita bahwa tujuan dari pada prosesi lempar jumroh di Mina adalah untuk mencapai cinta sejati yang adalah fitrah kita sebagai manusia.                                                                                           

  2. Pada dasarnya cinta sejati itu telah tertanam secara permanen pada diri setiap manusia. Ia akan selalu ada di dalam jiwa terdalam kita selamannya. Hanya saja ego kita yang senang menghadirkan prasangka, keserahakan dan keangkuhan menjadi tabir yang menutupi cahaya cinta sejati yang adalah keotentikan diri kita itu.                                                                                                                                                         

  3. Melempar jumroh adalah satu prosesi memerangi syaitan yang wujudnya adalah segala rupa negativitas yang bersemayam di dalam diri kita agar kita kembali kepada fitrah kita. Kepada keaslian kita. Kepada keotentikan diri kita. Kepada divine value kita. Kepada kasih sayang sejati. Prosesi ini sekaligus menjadi satu proses afirmasi dan instalasi self concept kita yang sejati. Self concept yang sepenuhnya bersentral pada kasih sayang yang sejati.

Ketika tiga rasa utama ini hilang pada diri kita, maka itu menjadi pertanda bahwa setan tengah berkuasa atas diri kita. IKHLAS, SYUKUR DAN CINTA.

(QS. 15:39-40, 7:17, 5:91)

wusta2.png

  Praktek Pelaksanaan:

 

  1. Jumrotul Ula - pada saat kita melakukan lempar Jumrah Ula sambil membaca bismillahi Allahu akbar, kita afirmasikan bahwa kita sedang mengusir berbagai pikiran dan perasaan negatif yang menghambat kita dari hadirnya rasa ihlas kita kepada Allah; penyesalan, rasa bersalah dan kemarahan kita kepada diri kita sendiri yang merusak self esteem kita. Kita maafkan diri kita, kita memohon ampun atas dosa pengingkaran dan pengabaian kita kepada ketetapan-Nya. Kita bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenarnya dan biarkan rasa ihlas itu terisi penuh pada diri kita. Kita tanamkan perasan bahwa kita berharga di hadapan Allah dan akan menjaga harga diri kita di hadapan-Nya.                                                                                                                      

  2. Jumrotul Wustha - pada saat kita melakukan lempar jumroh wustha sambil membaca bismillahi Allahu akbar, kita afirmasikan bahwa kita sedang mengusir berbagai pikiran dan perasaan negatif yang menghambat kita dari hadirnya rasa syukur kita kepada Allah; keluh kesah, gundah dan prasangka buruk kita kepada Allah yang merusak self image kita. Kita syukuri segala apa yang telah terjadi dalam hidup kita, kita syukuri segala apa yang Tuhan telah beri kepada kita, kita nyatakan terima kasih kita kepada Allah atas segalanya dan biarkan rasa syukur itu terisi penuh pada diri kita. Kita tanamkan perasan bahwa betapa Allah telah memberi nikmat yang banyak kepada kita dan kita tekadkan untuk selalu berterima kasih kepada-Nya di setiap waktu.                                                                                                   

  3. Jumrotul Aqabah - pada saat kita melakukan lempar jumroh aqobah sambil membaca bismillahi Allahu akbar, kita afirmasikan bahwa kita sedang mengusir berbagai pikiran dan perasaan negatif yang menghambat kita dari hadirnya rasa cinta kita kepada Allah dan kepada sesama manusia; keserakahan, kedengkian dan kebencian yang merusak self ideal. Kita tanggalkan ambisi serakah kita, kita tanggalkan kedengkian yang ada di diri kita, kita bersihkan segala bentuk kebencian yang bersarang di diri kita dan kita nyatakan kepada Allah bahwa kita akan hidup sepenuhnya dalam ajaran kasih sayang-Nya. Kita akan mencintai sesama manusia sebagai bukti cinta kita kepada-Nya.                                                                                                                                      

  4. Melakukan tahalul sugro – ketika kita melakukan prosesi mencukur rambut atau tahalul sugro, kita afirmasikan bahwa kita dengan tulus ihlas melepas segala rupa keburukan yang selama ini melekat pada kita dan kita siap untuk hidup sepenuhnya di dalam nama Allah; di dalam ajaran kasih sayang-Nya. Tahlul sugro ini menjadi kemenangan pertama kita. Kemenangan kita atas pikiran dan perasaan kita.

D. FASE BAITULLAH - Menikmati

batullah.png

"Orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (QS. Yunus [10]:63-64)

  1. Baitullah atau Rumah Allah yang disebut sebagai rumah mula-mula yang diletakan untuk manusia. Karenanya setiap rumah haruslah bernilai Baitullah. Diri kita, keluarga kita, komunitas kita, negara kita, sampai dengan tatanan dunia ini haruslah bernilai Baitullah itu. Haruslah menjadi tempat bermukim yang bersentral kepada Allah.                                                                                                                                   

  2. Dan dalam konteks personal character building ini, artinya kita harus memastikan diri kita menjadi pribadi rabbaniah. Menjadi pribadi yang bersentral kepada Allah Rabbul alamin. Menjadi pribadi yang berkarakter kasih sayang.                                                                                                                                 

  3. Setelah tahalul sugro dan kemudian bergerak ke Baitullah untuk melakukan tawaf di sana, kita tidak lagi diharuskan untuk membaca talbiyah dan beberapa larangan dalam ihram pun menjadi dibolehkan untuk kita. Hal ini mengisyaratkan bahwa kita telah sampai kepada Allah. Kita telah hadir memenuhi panggilan-Nya untuk masuk kepada kehidupan yang sepenuhnya bersentral kepada-Nya.                                           

  4. Melakukan tawaf dengan melantunkan pujian-pujian kepada Allah; subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illallah, allahu akbar. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil’aliyyil’azhim, mengisyarakatkan bahwa kehidupan yang bersentral kepada Allah, kepada ajaran kasih sayang itu, membuat seluruh kehidupan yang kita jalani menjadi kehidupan yang bernilai pengagungan kita kepada-Nya.                                         

  5. Kehidupan yang demikian itulah kehidupan yang terkandung jaminan keamanan di dalamnya itu. Kehidupan yang akan membawa kita kepada kesuksesan dunia dan akhirat itu. Karenanya di ujung putaran tawaf (dari rukun Yamani ke Rukun Hajar Aswad) kita diharuskan membaca doa: Rabbana atina fiddunya hasanah, Wa fil akhiroti hasanah waqina 'adzabannar. (Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka).

  Praktek Pelaksanaan:

 

  1. Tawaf Mengelilingi Baitullah – pada saat melakukan tawaf dengan disertai lantunan pujian kita kepada Allah subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illallah, allahu akbar. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil’aliyyil’azhim, kita benar-benar memuji-Nya sepenuh hati dengan rasa syukur yang besar kita kepada-Nya. Karena tidak ada keberuntungan yang lebih besar bagi manusia selain dari hidup di dalam nama-Nya. Afirmasikanlah bahwa kita akan sepenuhnya menjalani sisa kehidupan kita dengan hanya bersentral kepada-Nya.                                                                                                                                    

  2. Saat di Rukun Yamani Sampai ke Rukun Hajar Aswad – Di ujung putaran, dari rukun Yamani ke Rukun Hajar Aswad saat kita membaca doa keselamatan dunia akhirat. Rabbana atina fiddunya hasanah, Wa fil akhiroti hasanah waqina 'adzabannar. Lakukanlah dengan penuh pengharapan kepada-Nya. Yakinlah bahwa janji Allah itu benar. Bahwa tidak ada kekhawatiran dan kesedihan buat mereka yang benar-benar menyerahkan hidup kepada-Nya.                                                                                                                     

  3. Sumur Zam-zam – Di akhir putaran tawaf kita dimana sumur zam-zam tepat di hadapan kita, afirmasikanlah bahwa Allah adalah Maha Menepati Janji. Sumur zam-zam menjagi penanda akan anugerah nikmat yang tiada putus-putusnya yang Allah janjikan kepada orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.                                                                                                                                                      

  4. Maqam Ibrahim – Saat melihat maqam Ibrahim afirmasikan kepada diri kita bahwa kita sepenuhnya siap untuk menjadi manusia yang berserah diri sebagaimana yang diajarkan Nabi Ibrahim dan para Nabi Allah. Menjadi muslim. Kehidupan yang bersentral kepada Allah inilah jalan yang lurus itu. Jalannya orang-orang yang dianugerahi nikmat itu.                                                                                                        

  5. Hijir Ismail – Saat melihat Hijir Ismail afirmasikan kepada diri kita bahwa kita siap menjadi bagian dari orang-orang yang mengikuti ajaran Ibrahim dan para Nabi.

Balance of Life No Extreme

safa.png

Katakanlah, hai Ahli kitab janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam beragama. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad SAW) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan manusia, dan mereka tersesat dari jalan yang benar,” (QS. al-Ma’idah 77)

Sai Dari Shafa ke Marwa

Sai dari Shafa ke Marwa ini menjadi satu syiar akan pentingnya menjaga orientasi, kesabaran dan keteguhan di jalan-Nya. Dua bukit fatamorgana menjadi tanda bahwa seberapapun sudah baiknya karakter yang kita punya tetap akan ada saja cobaan dan godaan yang dapat saja memalingkan wajah kita dari-Nya. Ingatlah bukan di Shafa bukan juga di Marwa Allah letakan mata air keabadian itu. Tetaplah menghadapkan wajah dengan lurus kepada jalan mereka yang telah Allah anugerahi nikmat kepadanya. Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan jalan mereka yang sesat.

 

Allah menghendaki bagi kita keselamatan dunia dan akhirat. Allah menghendaki kita menjalani kehidupan dunia dan kehidupan akhirat yang teritegrasi. Jangan biarkan kita dipalingkan kepada kehidupan yang ekstrim ke arah materialistik atau ekstrim ke arah spiritualistik. Hiduplah utuh. Hiduplah holistik

Praktek Pelaksanaan: 

 

Lari-lari kecil dari Shafa ke Marwa – pada saat melakukan sai ini kita afirmasikan bahwa kita akan istiqomah di jalan-Nya. Bahwa kita akan sepenuh hati menjaga diri kita untuk hanya hidup di dalam nama-Nya. Tidak ada yang lebih penting dan berharga dari kita selain dari itu. Kita akan menafikan setiap godaan yang datang memalingkan kita dari Nya.

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)" (QS. Al Anaam [6]:161-163)

sujud.png

"Orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (QS. Yunus [10]:63-64)