Melihat Yang Ingin Dilihat - 15 October 2018

Beranda Melihat Yang Ingin Dilihat - 15 October 2018

9:31 PM
Melihat Yang Ingin Dilihat

"Kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat, mendengar apa yang ingin kita dengar"  ~Kecenderungan~

Terlebih-lebih di masa Pilpres ini, kelihatan sekali relevansi qoute di atas dengan realita yang kita lihat.

K
ita banyak melihat orang-orang aneh yang entah bagaimana semua hal tentang kandidat pilihannya tidak peduli itu baik apa baruk, yang jelas buat dia semua bagus semua benar.

Sebaliknya kalau udah soal kandidat yang bukan pilihannya, tidak peduli juga benar salahnya, pokoknya yang jelas buat dia yang ada jelek semua salah semua.

Ini sebenarnya masalah atau penyakit yang berbahaya menurut saya. Atau setidaknya ini harus dipandang sebagai kecendrungan yang buruk yang harus diluruskan.

Orang yang seperti ini tidak akan bisa adil dalam menilai. Yang dia lihat sebenarnya bukan realita; yang dia lihat hanya persepsi yang diproyeksikan ego atas pilihannya. Etika dan nilai-nilai sering kali juga menjadi tidak duduk pada tempatnya lagi kalau sudah begini.

Orang yang seperti ini juga tidak tertarik untuk menyeimbangkan data dan informasi yang dia punya. Dia kehilangan minatnya atas kebenaran. Satu-satunya minat yang dia punya adalah membuktikan pilihannya benar. Dan kalau pun dia mencari data dan informasi, ya hanya untuk tujuan tersebut.

Umumnya juga orang-orang seperti ini cenderung mengedepankan emosi ketimbang logika. Kebenarannya hanya bertumpu pada rasa suka atau tidak suka. Dan akhirnya hanya menjadi fanatisme buta.

Padahal,
Qur'an memerintahkan: "Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS.5:8)


Padahal,
Tuhan memberi kita dua mata sebagai isyarat supaya kita adil dan berimbang dalam melihat. Jadi, jangan jadi orang bermata satu yang tidak mau melihat kedua sisi dari satu perkara dan tidak mau menilai dengan adil.


Padahal,
Pilpres ini sebenarnya adalah bentuk penyelenggaraan GOTONG ROYONG kita bersama untuk mencari pemimpin terbaik bagi negeri ini. Jadi suasananya itu harusnya suasana GOTONG ROYONG.


Kalau pun ini harus kita anggap sebagai sebuah perlombaan, sudah sepatutnya ia menjadi ajang perlombaan di dalam kebajikan. Di dalam frame KELUHURAN.

Jadi, seperti apapun sukanya kita atas kandidat pilihan kita, haruslah PERSATUAN dan KESATUAN bangsa kita tempatkan di setinggi-tingginya. Dan percayalah ketika penyelenggaraan Pilpres ini kita lakukan secara adil dan beradab pastilah apapun hasilnya adalah hasil yang sebaik-baiknya untuk kita bersama.

Janganlah kamu seperti seorang perumpuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat... (QS.16:92

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara... (QS.3:103)

SATU TANAH AIR, SATU BANGSA, SATU BAHASA - INDONESIA

Category: Seputar Indonesia | Views: 57 | Added by: edy | Tags: Adil, Pilpres, Nasionalisme Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar