Membawa Indonesia Kembali ke Ajaran Bung Karno Lewat Ajang Lomba Pidato Meniru Gaya Bung Karno - 9 July 2018

Beranda Membawa Indonesia Kembali ke Ajaran Bung Karno Lewat Ajang Lomba Pidato Meniru Gaya Bung Karno - 9 July 2018

2:55 PM
Membawa Indonesia Kembali ke Ajaran Bung Karno Lewat Ajang Lomba Pidato Meniru Gaya Bung Karno

Di tahun 2018 ini Rumah Kebangsaan Pancasila akan kembali menggelar ajang Lomba Pidato Meniru Gaya Bung Karno untuk yang ke 4 kalinya. Namun berbeda dengan 3 lomba yang sebelumnya yang dilakukan secara swadaya dan hanya untuk wilayah Jabodetabek saja, lomba kali ini akan diadakan dalam skala yang jauh lebih besar, yaitu dalam skala nasional dan akan melibatkan banyak pihak baik swasta ataupun pemerintah untuk mensukseskan acara ini.

Digelarnya Lomba Pidato Meniru Gaya Bung Karno dalam skala nasional kali ini karena RKP meniatkan agar lomba pidato kali ini benar-benar dapat menjadi trigger; menjadi pemicu untuk membawa Indonesia kembali kepada ajaran Bung Karno.

Membawa Indonesia kembali kepada ajaran Bung Karno dapat kita katakan sebenarnya adalah sama halnya dengan membawa Indonesia kepada jati dirinya. Karena Bung Karno dan bangsa Indonesia adalah dua entitas yang padu dan tidak bisa dipisah-pisahkan.

Dengan tidak bermaksud mengesampingkan peran dan jasa para pejuang dan pendiri bangsa Indonesia lainnya, harus kita pahami bahwa sejak awal bangsa ini terbentuk, kemudian menjadi bangsa yang merdeka dan kemudian menyusun serta menyelenggarakan kehidupan berbangsa dan bernegaranya, rangkaian dari pada proses yang terjadi itu benar-benar bersentral kepada gagasan dan ajaran-ajaran Bung Karno sebagai Pemimpin Besar dari pada Revolusi Indonesia.

Sepanjang hayatnya, seluruh pikiran dan potensi yang dimilikinya, benar-benar Bung Karno curahkan untuk kemajuan dan pertumbuhan bangsa dan negara ini. Tidak terkira dan sangat sulit jika kita harus menghitung besarnya jasa Bung Karno atas bangsa dan negara ini. Yang dari semua itulah hari ini kita mewarisi sesuatu yang amat mahal berupa konsepsi atau ajaran-ajaran tentang bagaimana bangsa dan negara ini harus diselenggarakan.

Bukan saja Bung Karno mewarisi Pancasila kepada kita yang hari ini kita jadikan dasar dari pada kehidupan berbangsa dan bernegara, lebih jauh lagi dari itu Bung Karno juga mewarisi konsepsi yang dasyat untuk mewujudkan Dunia Baru. Dunia tanpa eksploitasi manusia atas manusia bangsa atas bangsa. Dunia yang benar-benar bebas dari penjajahan dalam segala bentuknya.

Itulah hal yang sekali-kali kita tidak boleh lupa, bahwa bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang terlahir dari sebuah revolusi dan terikat kuat dengan revolusi tersebut. Dan sebagaimana yang pernah Bung Karno katakan, bahwa revolusi kita belum selesai; bahwa revolusi kita itu bukan hanya sekedar mengusir penjajah dari bumi Indonesia, melainkan mewujudkan dunia baru itu. Mewujudkan dunia yang sepenuhnya bebas dari eksploitasi manusia atas manusia bangsa atas bangsa itu.

Tentang idealisme Revolusi Dunia Baru tersebut, sebenarnya pun tertera dengan jelas di dalam konstitusi kita. Dimana di Pembukaan UUD’1945 telah kita nyatakan: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." Inilah komitmen sekaligus amanat sejarah dari pada Bangsa Indonesia. Inilah jiwa dari pada revolusi Indonesia itu. Inilah ajaran yang memberi arah dan menjadi tujuan dari pada penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara kita itu. 

Jelas bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang kecil. Bangsa Indonesia adalah bangsa memikul amanat sejarah untuk mewujudkan sebuah dunia baru. Dan kita juga tidaklah perlu berkecil hati, karena sebenarnya konsepsi untuk mewujudkan dan menuntaskan dari pada Revolusi Dunia Baru tersebut telah ada bersama kita. Bung Karno, Pemimpin Besar Revolusi Indonesia telah meninggalkan kepada kita ajaran-ajaran yang komprehensif untuk menjadi panduan bangsa ini menyelesaikan revolusinya yang belum selesai itu.

Hanya saja sayangnya, kita melihat bahwa hari ini kita masih nampak asing dengan ajaran-ajaran Bung Karno. Kita masih belum benar-benar menjadikan ajaran-ajaran Bung Karno sebagai rujukan; sebagai sumber dari pada perumusan-perumusan penataan dan penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Bahkan nampak ada kecenderungan kita berkiblat kepada konsepsi-konsepsi asing yang membuat kita jauh dari jati diri bangsa kita sendiri. Dan harus kita mengerti bahwa selama kita belum benar-benar berpijak kepada jati diri bangsa kita sendiri; berpijak kepada ajaran luhur bangsa kita sendiri, selama itu pula kita tidak akan pernah dapat menyelesaikan revolusi kita ini.

Karena dari pada itulah kembali kepada ajaran Bung Karno memiliki urgensi yang besar bagi bangsa ini. Karena di dalam ajaran-ajaran Bung Karno tersebutlah kita akan menemukan keluhuran, keaslian dan kesesuaian ajaran yang akan mengembalikan Revolusi Indonesia menjadi revolusi yang benar-benar berjiwa dan berkarakter Indonesia. Menjadi revolusi yang benar-benar berpijak di atas sejarah; di atas rel yang semestinya dari pada revolusi itu sendiri.

Dan mengingat adanya masa yang panjang yang pernah berlangsung dimana bangsa Indonesia benar-benar jauh dan dijauhkan dari Bung Karno serta ajaran-ajarannya, tentu tidaklah mudah untuk mendekatkan dan membawa kembali bangsa Indonesia kepada ajaran Bung Karno. Terlebih-lebih masa yang panjang desukarnoisasi tersebut bukan saja telah menjauhkan masyarakat Indonesia dari Bung Karno dan ajarannya, akan tetapi juga telah menimbulkan sikap antipati pada sebagian orang terhadap Bung Karno dan membuat Bung Karno tidak lagi di tempatkan pada posisi yang semestinya dalam hati dan jiwa bangsa Indonesia.

Namun demikian, kita tahu bahwa ajaran-ajaran Bung Karno masihlah menyala-nyala dan berkobar kobar di dalam buminya Indonesia ini. Keluruhan ajaran-ajaran Bung Karno dan keselarasannya dengan jati diri bangsa Indonesia membuat ajaran-ajaran Bung Karno tidaklah akan lekang oleh waktu. Yang dibutuhkan sekarang hanyalah momentum dan pemicu untuk membawa kembali perhatian bangsa Indonesia ini kepada ajaran Bung Karno. Kepada jati diri bangsanya sendiri.

Atas dasar itulah RKP akan menjadikan tahun 2018 ini sebagai sebuah momentum dan menjadikan Lomba Pidato Meniru Gaya Bung Karno sebagai trigger untuk membawa perhatian bangsa Indonesia kembali kepada ajaran Bung Karno, kembali kepada jati dirinya. Lomba Pidato Meniru Gaya Bung Karno yang akan digelar secara nasional ini akan dikemas sedemikian rupa untuk membawa perhatian yang seluas-luas dan sebesar-benarnya masyarakat Indonesia kepada Bung Karno dan ajaran-ajarannya.

Dan sebagai bentuk kesungguhan RKP sekaligus juga sebagai bagian dari menjunjung tinggi etika berbangsa dan bernegara, RKP telah mendaftarkan rencana penyelenggaraan Lomba Pidato Meniru Gaya Bung Karno ini ke Kementerian Dalam Negeri, yang selanjutnya akan diteruskan dengan mendaftarkannya di Mabes Polri, Kementrian Pemuda dan Olahraga serta di Kesbangpol Kabupaten Bogor. 

Category: Kegiatan RKP | Views: 192 | Added by: edy | Tags: RKP, Bung Karno, indonesia, Pidato Meniru Gaya Bung Karno | Rating: 3.7/3
Total comments: 2
avatar
0
1 mansyah • 8:45 AM, 02 August 2018
Sudah saatnya kita kembali kepada ajaran Bung Karno yang penuh dengan nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa, di dalam setiap pemikiran Bung Karno terkandung nilai-nilai dan konsepsi bagaimana kita menyelenggarakan berbangsa dan bernegara yang baik yang sesuai dengan Amanat Penderitaan Rakyar Indonesia.
avatar
0
2 edy • 3:54 PM, 28 September 2018
Benar sekali...!! Kembali kepada ajaran Bung Karno adalah langkah awal kita untuk memastikan Revolusi Indonesia berjalan sebagaimana arus sejarah kejadian bangsa Indonesia itu sendiri...
avatar