Blog

Beranda Blog

Jangan Sekali-sekali Meninggalkan Sejarah

Добавил: edy 25 June 2018 в 6:26 AM в категорию «Di Bawah Bendera Revolusi - II»

AMANAT PRESIDEN SUKARNO PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA 17 AGUSTUS 1966 DI JAKARTA

 

Assalamu’alaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh!

Merdeka!

Saudara-saudara sekalian,

Hari ini adalah tanggal 17 Agustus 1966! Hari ulang tahun ke-21 daripada Republik kita. Pada hari ini Republik kita genap berusia duapuluh satu tahun, atau lebih dari 1.000 minggu! Kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa Ia telah melindungi dan menuntun negara dan bangsa kita, hingga kita dengan selamat telah sampai kepada hari yang berbahagia sekarang ini. Dan moga-mogalah lindungan-Nya dan tuntunan-Nya itu tetap dikurniakan kepada negara dan bangsa kita dalam memasuki tahun yang ke-22 dari kehidupannya dan selanjutnya. Lindungan dan tuntunan Tuhan itu sangat kita perlukan, dan sangat kita mohonkan. Sebab, tiada sesuatu berjalan selamat tanpa ridha-Nya Tuhan Yang Maha Kuasa dan masa depan yang akan kita masuki sudahlah menampakkan gejala-gejala yang menunjukkan akan datangnya masa yang lebih berat.

Ya, lebih berat! Bukan saja oleh karena gejala-gejala dari luar memang telah menunjukkan akan tambahnya gangguan imperialisme kepada kita sebagai bangsa dan negara, tetapi juga oleh karena dari dalam, dari dalam sebagai terjadi pada tiap-tiap revolusi, berbangkit beberapa hal yang anti. Dan oleh karena tambah beratnya barang sesuatu memang sudah kodratnya sekalian hidup. Makin kita bertambah dewasa, makin besar, dan makin beratlah tugas-tugas dan tanggungan-tanggungan yang kita pikul di pundak kita.

Karena itu, maka pagi-pagi kita harus memperbesar dan memperdalam rasa tanggungjawab kita, baik sebagai manusia maupun sebagai bangsa.Tanggungjawab terhadap kepada siapa? Sudah tentu tanggungjawab terhadap kepada bangsa kita sendiri. Tetapi juga tanggungjawab terhadap kepada kemanusiaan. Dan tanggung-jawab terhadap kepada Allah Robbul-alamin. Maka justru karena tanggungjawab itulah kita harus bekerja terus dan berjuang terus. Berjuang terus, kalau perlu mati-matian, ya berjuang terus – ever onward, never retreat.

Pada tiap-tiap 17 Agustus saya kembali berhadapan muka dengan Saudara-saudara yang berada di Jakarta ini. Dan melalui corong radio saya juga berhadapan suara dengan sekalian Saudara di seluruh tanah air dan di luar tanah air. Berhadapan suara dengan rakyat di Jawa Barat, rakyat Jawa Tengah, rakyat Jawa Timur, rakyat Bali, rakyat Kalimantan, rakyat Sulawesi, rakyat Maluku, rakyat Sumatra, rakyat Irian, dan lain-lain. Berhadapan suara dengan semua buruh dan tani, semua prajurit-prajurit daripada angkatan bersenjata, arek-arekku yang memanggul bedil. Berhadapan suara dengan semua Putera Revolusi! Berhadapan suara dengan seluruh rakyat Indonesia antara Sabang dan Merauke, dan rakyat Indonesia di perantauan! Dan saya yakin bahwa saya bukan berhadapan suara saja. Lebih daripada itu. Saya juga berhadapan semangat dengan Saudara-saudara, terlebih-lebih dengan Saudara-saudara yang benar-benar revolusioner, de echte revolutionnairen, yang benar-benar progresif revolusioner dan bukan retrogresif revolusioner. Dan karena berhadapan semangat, maka kita mencapai persatuan semangat, persatuan batin, persatuan rasa, persatuan kesadaran, persatuan tekad.

Untuk apa? Untuk mengabdi kepada kemerdekaan, untuk mengabdi kepada tanah air dan bangsa dan negara! Untuk mengabdi dan menjadi pejuangnya revolusi. Persatuan semangat, persatuan batin, persatuan rasa, persatuan kesadaran, untuk menyelesaikan revolusi kita, ya, revolusi kita, sekali lagi revolusi kita yang belum selesai ini.

Saya tidak hanya berhadapan dengan rakyat Indonesia saja, saya sekarang ini berhadapan juga dengan seluruh dunia, dengan seluruh umat manusia. Memang tiap-tiap 17 Agustus seluruh dunia dan seluruh umat manusia mengarahkan perhatiannya kepada Jakarta, karena mereka pun ingin mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Jakarta pada Hari Ulang Tahun Republiknya. Pada tiap-tiap 17 Agustus seluruh dunia mengikuti dengan cermat Pidato Ulang Tahun Republik Indonesia dari Presiden untuk dapat mengetahui perasaan bangsa Indonesia, untuk dapat menjajaki perhitungan ke belakang dan garis kebijaksanaan ke depannya daripada Republik Indonesia. Teristimewa pada hari ini, pada saat Republik Indonesia telah meninggal-kan tahun 1965 dan menjalani tahun 1966 – tahun 1965 dan tahun 1966, yang telah menggemparkan kita dan menggemparkan seluruh dunia itu -, dan terutama sekali lagi tahun 1966 ini, yang oleh orang dalam negeri malahan dinamakan “tahun gawat”. Dan pada hari ini, mata dan telinga mereka pun mengincer kepada saya, kepada saya. Pikir mereka itu, bagaimana Republik Indonesia sekarang sesudah dapat hantaman dan gempuran bertubi-tubi itu? Bagaimana Sukarno yang telah mendapatkan sodokan bertubi-tubi itu pula?

Ya, bagi kita terus terang saja, duapuluh satu tahun ini adalah duapuluh satu tahun yang penuh penderitaan dan pengorbanan, duapuluh satu tahun pergulatan dan adu tenaga, duapuluh satu tahun yang penuh pengalaman, – pengalaman yang kadang-kadang hitam dan pahit, tetapi kadang-kadang juga pengalaman yang cemerlang laksana matahari di pagi hari. Duapuluh satu tahun penggemblengan diri, duapuluh satu tahun penempaan rasa harga diri dan percaya kepada diri sendiri, duapuluh satu tahun pembajaan rasa kepada kemampuan dan kepribadian bangsa sendiri. Pendek kata, duapuluh satu tahun pembangunan bangsa dalam badai topannya ketidakdewasaan dalam negeri dan badai topannya reaksi dari luar negeri. Sudah barang tentu, sudah barang tentu, dus reaksi kini makin-makin meneropong kita, makin ’memperhatikan’ kita (memperhatikan dalam arti jahat)!

Apalagi kataku tadi, dalam tahun 1966 ini! Tahun 1966 ini, kata mereka, ha, eindelijk, eindelijk, at long last, Presiden Sukarno telah dijambret oleh rakyatnya sendiri, Presiden Sukarno telah di-coup; Presiden Sukarno telah dipreteli segala kekuasaannya, Presiden Sukarno telah ditelikung oleh satu triumvirat yang terdiri dari Jenderal Soeharto, Sultan Hamengku Buwono, dan Adam Malik. Dan itu Surat Perintah 11 Maret, kata mereka, bukankah itu penyerahan kekuasaan kepada Jenderal Soeharto? Dan tidakkah pada waktu sidang MPRS yang baru lalu, mereka – reaksi, musuh-musuh kita – mengharap-harapkan, bahkan menghasut-hasut, bahkan menujumkan bahwa sidang MPRS itu sedikitnya akan menjinakkan Sukarno, atau akan mencukur Sukarno sampai gundul samasekali, atau akan mendongkel Presiden Sukarno dari kedudukannya semula? Kata mereka, dalam bahasa mereka, ”The MPRS session will be the final settlement with Sukarno”, artinya sidang MPRS ini akan menjadi perhitungan terakhir – laatste afrekening – dengan Sukarno.

Surat Perintah 11 Maret itu mula-mula, dan memang sejurus waktu, membuat mereka bertampik sorak-sorai kesenangan. Dikiranya Surat Perintah 11 Maret adalah satu penyerahan pemerintahan! Dikiranya Surat Perintah 11 Maret itu satu transfer of authority. Padahal tidak! Surat Perintah 11 Maret adalah satu perintah pengamanan. Perintah pengamanan jalannya pemerintahan, pengamanan jalannya any pemerintahan, demikian kataku pada waktu melantik Kabinet. Kecuali itu juga perintah pengamanan keselamatan pribadi Presiden. Perintah pengamanan wibawa Presiden. Perintah pengamanan ajaran Presiden. Perintah pengamanan beberapa hal. Jenderal Soeharto telah mengerjakan perintah itu dengan baik. Dan saya mengucap terima kasih kepada Jenderal Soeharto akan hal itu. Perintah pengamanan, bukan penyerahan pemerintahan! Bukan transfer of authority!

Mereka, – musuh -, sekarang kecele samasekali. Dan sekarang pun, pada hari Proklamasi sekarang ini, mereka kecele lagi. Lho, Sukarno masih Presiden! Lho, Sukarno masih Pemimpin Besar Revolusi! Lho, Sukarno masih Mandataris MPRS! Lho, Sukarno masih Perdana Menteri! Lho, Sukarno masih berdiri lagi di mimbar ini!

Ya, Saudara-saudara, Republik Indonesia, – ia betul-betul laksana perahu yang mengarungi samudera topan yang amat dahsyat.

Tetapi saya selalu mengatakan bahwa sejarah adalah selalu seperti samudera yang dahsyat. Apalagi sejarahnya satu bangsa yang besar, sejarahnya satu bangsa yang bukan bangsa tempe, bukan bangsa peuyeum. Kadang-kadang ia dibanting ke bawah laksana hendak tenggelam samasekali, kadang-kadang diangkat ke atas puncak-puncaknya gelombang, sehingga rasanya seperti hampir terpeganglah bintang-bintang di langit.

O, bahtera kita yang berani. Duapuluh satu tahun dibanting, diangkat, dibanting, diangkat, dibanting, diangkat, tetapi tidak pernah satu detik pun tenggelam, tidak pernah satu detik pun putus asa.

Saudara-saudara kaum revolusioner sejati, kita berjalan terus, ya kita berjalan terus, berjuang terus, kita tidak akan berhenti. Kita berjalan terus, berjalan terus, menuju terus pada sasaran-tujuan seperti diamanatkan oleh Proklamasi 17 Agustus 1945 beserta anak kandungnya yang bernama Deklarasi Kemerdekaan yang tertulis sebagai Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945.

Di dalam Resopim telah saya tandaskan dan gamblangkan cetusan tekad nasional kita itu, cetusan segala kekuatan nasional secara total, cetusan isi jiwa nasional sedalam-dalamnya. Pendek kata, dalam Resopim itu saya telah memberikan Darstellung daripada deepest innerself kita. Dwitunggal Proklamasi dan Deklarasi adalah sasaran-tujuan perjuangan kita yang jelas, tandas, terang, gamblang! la adalah pegangan hidup, tujuan hidup, falsafah hidup, rahasia hidup, ya pengayoman hidup daripada revolusi kita.

Di bawah sinar suryanya Dwitunggal Proklamasi dan Deklarasi itu kita berjalan, di bawah sinar suryanya Dwitunggal Proklamasi dan Deklarasi itu kita berjuang membangun National Dignity (harga diri nasional), dan Perumahan Bangsa kita, yaitu Republik Indonesia yang kita cintai ini. Di bawah sinar suryanya itulah kita menuju kepada penyelesaian revolusi besar kita. Berkat Dwitunggal Proklamasi dan Deklarasi itulah kita, seluruh rakyat Indonesia, tidak pernah sedikit pun putus asa, tidak pernah sedikit pun patah semangat. Sebab, bermacam-macam godaan, beraneka ragam tamparan perjuangan dalam menegakkan revolusi itu, adalah memang sudah inhaerent kepada sesuatu revolusi – embel-embel daripada sesuatu revolusi.

Cobalah Saudara-saudara, kita sejenak mawas diri dan menengok ke belakang sejak kita merayakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia tahun yang lalu. Dengan terjadinya Gestok pada tahun yang lalu, betapa hebatnya palu godam cobaan dan godaan perjuangan yang telah menghantam kesatuan badan, kesatuan jiwa revolusi kita. Gelombang dahsyat telah membanting kepada keutuhan badan dan jiwa rakyat kita, sampai hampir-hampir terpecah-pecah berantakan samasekali. Revolusi kita dihadapkan kepada suatu crucial period yang hampir-hampir mengoyak-koyakkan jiwa dan semangat persatuan-perjuangan kita samasekali. Tetapi syukur alhamdulillah, segala puji kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, rakyat kita kini pelan-pelan telah kembali menemukan terang dalam batin, menemukan kembali kekuatan dalam iman, untuk kembali kepada keutuhan badan dan kemampuan jiwa kesatuan dan persatuan bangsa, hingga dapat mengelakkan akibat-akibat destruktif yang mungkin akan lebih parah lagi daripada lintasan crucial period yang lalu itu.

Bukan satu kali itu saja revolusi kita mengalami suatu period yang crucial, yaitu suatu masa yang berbahaya. Selama duapuluh satu tahun yang kita jalani ini sudah berulang-ulang revolusi kita dihadapkan kepada crucial period-crucial period yang menggempur dada kita ibarat gempurannya gelombang topan pada batu karang di tengah lautan.

Cobalah lepaskan pandangan kita lebih jauh lagi ke belakang. Marilah kita mawas diri sejak saat kita terlepas dari cengkeraman penjajah Belanda di tahun 1950, yaitu apa yang dinamakan Pengakuan Kedaulatan – recognition of sovereignty. Betapa hebatnya crucial period-crucial period yang harus kita lalui selama masa 1950-1959 itu. Free fight liberalism sedang merajalela; jegal-jegalan ala demokrasi parlementer adalah hidangan sehari-hari, main krisis kabinet terjadi seperti dagangan kue, dagangan kacang goreng. Antara 1950 dan 1959 kita mengalami 17 kali krisis kabinet, yang berarti rata-rata sekali tiap-tiap delapan bulan.

Pertentangan yang tidak habis-habis antara pemerintah dan oposisi, pertentangan ideologi antara partai dengan partai, pertentangan antara golongan dengan golongan. Dan dengan makin mendekatnya Pemilihan Umum 1955 dan 1956, maka masyarakat dan negara kita berubah menjadi arena pertarungan politik dan arena adu kekuatan. Nafsu individualisme dan nafsu egoisme bersimaharajalela, tubuh bangsa dan rakyat kita laksana merobek-robek dadanya sendiri, bangsa Indonesia menjadi a nation devided againts itself. Nafsu hantam kromo, nafsu serang-menyerang dengan menonjolkan kebenaran sendiri, nafsu berontak-memberontak melawan pusat, nafsu z.g. demokrasi yang keblinger, yang membuat bangsa dan rakyat kita remuk-redam dalam semangat, kocar-kacir berantakan dalam jiwa. Sampai-sampai pada waktu itu aku berseru: rupanya orang mengira bahwa sesuatu perpecahan di muka Pemilihan Umum atau di dalam Pemilihan Umum selalu dapat diatasi nanti sesudah Pemilihan Umum. Hantam kromo saja memainkan sentimen. Tapi orang lupa, ada perpecahan yang tidak dapat disembuhkan lagi! Ada perpecahan yang terus memakan, terus menggerantes, terus membaji dalam jiwa sesuatu rakyat, sehingga akhirnya memecahbelahkan keutuhan bangsa samasekali. Celaka, celaka bangsa yang demikian itu! Bertahun-tahun, kadang-kadang berwindu-windu ia tidak mampu berdiri kembali. Bertahun-tahun, berwindu-windu ia laksana hendak doodbloeden, kehilangan darah yang ke luar dari luka-luka tubuhnya sendiri. Karena itu, segenap jiwa ragaku berseru kepada bangsaku Indonesia: terlepas dari perbedaan apapun, jagalah persatuan, jagalah kesatuan, jagalah keutuhan! Kita sekalian adalah makhluk Allah! Dalam menginjak waktu yang akan datang, kita ini seolah-olah adalah buta.

Ya benar, kita merencanakan, kita bekerja, kita mengarahkan angan-angan kepada suatu hal di waktu yang akan datang. Tetapi pada akhimya Tuhan pula yang menentukan. Justru karena itulah maka bagi kita sekalian adalah satu kewajiban untuk senantiasa memohon pimpinan kepada Tuhan. Tidak satu manusia berhak berkata, aku, aku sajalah yang benar, orang lain pasti salah!

Orang yang demikian itu akhimya lupa bahwa hanya Tuhan jualah yang memegang kebenaran!

Demikian kataku di waktu itu.

Berbareng dengan crucial period-nya krisis-krisis kabinet dan krisis demokrasi itu, kita juga mengalami kerewelan-kerewelan dalam urusan daerah, kerewelan-kerewelan dalam urusan tentara, mengalami bukan industrialisasi yang tepat, tetapi industrialisasi tambal sulam zonder overall–planing yang jitu, mengalami, aduh, Indonesia yang subur loh jinawi, bukan kecukupan bahan makanan tetapi impor beras terus-menerus, mengalami bukan membubung-tingginya kebudayaan nasional yang patut dibangga-banggakan, tetapi gila-gilaannya rock and roll, geger-ributnya swing dan jazz, kemajnunannya twist dan mamborock, banjirnya literatur komik.

Contoh-contoh ini adalah cermin daripada menurunnya kesadaran nasional kita dan menurunnya kekuatan jiwa nasional kita. Apakah kelemahan jiwa kita itu? Jawabanku pada waktu itu adalah, “kelemahan jiwa kita ialah bahwa kita kurang percaya kepada diri kita sendiri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang percaya-mempercayai satu sama lain, padahal kita ini pada asalnya adalah rakyat gotong royong”.

Demikianlah seruanku pada waktu itu, dan demikianlah pesan seluruh jiwa semangatku menghadapi crucial period waktu itu.

Situasi di bidang ekonomi pun pada waktu itu tidak jauh berbeda. Warisan ekonomi yang saya terima pada tahun-tahun itu barulah berupa tindakan pengambil-alihan obyek-obyek ekonomi dari tangan penjajah Belanda sahaja. Situasi ekonomi yang demikian itu sudah jelas belum memungkinkan adanya pembangunan. Malahan cita-cita pembangunan kita itu sahaja pada waktu itu sudah dihadapkan kepada crucial period – nya pertentangan pandangan dan berlawanannya konsepsi. Berkobarlah pertentangan daerah melawan pusat dalam soal pembangunan, berkobarlah rivalitas daerah yang yang satu melawan daerah yang lain. Sebagai usaha untuk mengatasi hantam-hantamam di bidang ekonomi pembangunan itu, diselenggarakan di Jakarta sini tempo hari Munas dan Munap. Tetapi kendatipun demikian, segala usaha ternyata tidak mampu menahan arus-meluncurnya disintegrasi dan dislokasi perekonomian kita yang malahan semakin menjadi-jadi.

Pengeluaran uang menjadi terus-menerus meningkat, antara lain dan teristimewa karena diperlukan untuk operasi politik, operasi militer, dan operasi administrasi. Biaya yang meningkat-ningkat ini mengakibatkan inflasi yang sungguh sukar dapat dibendung. Harga-harga dan tarif-tarif terus menaik, pendapatan dari para buruh dan pegawai sebaliknya terus-menerus merosot dalam nilainya karena uang kita semakin kehilangan kekuatan nilai tukarnya. Tibalah sebagai puncak dalam crucial period-nya ekonomi keuangan itu tindakan pengguntingan uang, yang ternyata malah menambah hebatnya inflasi dan menambah beratnya penderitaan dan pengorbanan rakyat.

Saudara-saudara,

Demikianlah warisan ekonomi yang saya terima di waktu itu. Ketambahan lagi dalam suasana politik yang penuh pertentangan dan tabrakan itu, serta situasi ekonomi moneter yang terus-menerus meluncur ke dalam kemerosotan itu, muncullah petualangan-petualangan militer yang menjelma dalam pemberontakan-pemberontakan PRRI di Sumatra, Permesta di Sulawesi, Darul Islam di Jawa dan beberapa daerah di luar Jawa, pemberontakan Ibnu Hadjar di Kalimantan, dan lain-lain petualangan juga di bidang politik serta ekonomi, yang sungguh menempatkan rakyat dan negara kita dalam suatu crucial period yang lebih berbahaya lagi.

Toh rupanya belum cukup! Konstituante hasil Pemilihan Umum telah bersidang, tetapi rakyat harus menyaksikan dan menanggung akibat perdebatan yang tele-tele tanpa mem-perlihatkan ujung dan akhir. Malahan lebih parah lagi daripada itu! Muncullah usaha-usaha di waktu itu dari beberapa z.g. tokoh yang mau mengorek jiwa proklamasi dengan hendak mengubah bendera nasional Sang Merah Putih, dan dengan hendak mengubah lagu kebangsaan kita, yaitu Indonesia Raya.

Dan sebagai titik terdalam dalam crucial period pada waktu itu, sebagai genjotan yang paling nggenjot, rakyat dan bangsa kita dihadapkan kepada pergulatan sengit melawan usaha-usaha beberapa tokoh yang ingin mengganti dasar negara kita, yaitu Pancasila.

Itulah semua warisan yang saya terima dari zaman 1950-1959. Retak-goyahnya kesatuan bangsa Indonesia pada waktu itu, hampir-hampir berantakanlah seluruh tubuh revolusi kita! Gonjang-ganjinglah kemerdekaan kita terancam oleh bahaya! Apa yang saya perbuat waktu itu untuk menyelamatkan kemerdekaan, untuk menyelamatkan revolusi?

Konstituante yang ternyata tidak mampu menyelesaikan soal yang dihadapinya, Konstituante itu saya bubarkan, dan saya pada tanggal 5 Juli 1959 mengeluarkan Dekrit Presiden yang terkenal: Kembali kepada UndangUndang Dasar 1945, kembali kepada Undang-Undang Dasar Revolusi!

Demikianlah, Saudara-saudara, tinjauan ke belakang dalam garis-garis besarnya mengenai crucial period-crucial period selama windu pertama sesudah kita terlepas dari cengkeraman penjajahan Belanda, yaitu dari tahun 1950-1959, sebagai bahan mawas diri atau instropeksi, untuk menyadari segi-segi positif dan segi-segi negatif kita masing-masing sebagai pertanggunganjawab kita kepada Ibu Pertiwi dan revolusi. Justru dari masa itulah berkumandang dengan tidak putus-putusnya seruanku kepada bangsa dan rakyat kita untuk menegaskan perlunya persatuan bangsa. Aku selalu berkata pada waktu itu, “Dharma Eva Hato Hanti”, “Dharma Eva Hato Hanti”, kalimat Sanskerta, yang berarti “Kuat karena bersatu, bersatu karena kuat”!

Pendek kata, pada tahun 1959 saya menerima warisan yang mendirikan bulu; warisan yang bukan hasil perbuatanku, warisan yang sebaliknya aku harus bereskan, warisan yang ik had op te knappen! Yaitu, sekali lagi saya katakan; krisis-krisis kabinet yang bertubi-tubi karena demokrasi yang gila-gilaan, inflasi karena pengeluaran uang banyak sekali untuk operasi-operasi politik dan militer untuk menindas pemberontakan-pemberontakan, inflasi yang diperhebat lagi dengan pengguntingan uang, disintegrasi dan dislokasi perekonomian yang terus-menerus, Konstituante yang tele-tele dan impoten, usaha-usaha mengganti Sang Merah Putih dan lagu Indonesia Raya, pengorekan kepada Sang Sakti Pancasila, dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain.

Ha, bagaimana tindakan saya untuk opknappen warisan ini?

Memasuki windu pendadaran yang kedua berikutnya, dari tahun 1959 sampai sekarang, kita dapat men-traceer kembali bahwa berdasarkan Dekrit 5 Juli 1959 itu kita kembali kepada Undang-Undang Dasar Proklamasi kita, dan demokrasi liberal saya bongkar samasekali dan saya ganti dengan Demokrasi Terpimpin, yaitu Demokrasi Gotong Royong, demokrasi Pancasila, Demokrasi Indonesia Asli. Dengan Demokrasi Terpimpin itu perpecahan dan keretakan dalam tubuh alat-alat revolusi dapat saya kembalikan kepada persatuan bangsa dan kekompakan rakyat dengan memberikan dasar dan landasan kesatuan politik kepadanya.

Apa kesadaran politik itu?

Dengan landasan kesatuan politik itu, saya misalnya terapkan ketentuan perangkat Undang-Undang Dasar 1945 dalam pembentukan kabinet, yang menyebabkan pemerintahan lantas menjadi stabil, dan Insya Allah terbuanglah untuk selama-lamanya maksiat main krisis-krisisan kabinet dari masa yang sebelumnya.

Dan saya berikan kepada bangsa untuk persatuan politik itu pelbagai kelengkapan dan pelengkapan. Saya berikan pelengkapan Manipol-USDEK, saya berikan pelengkapan Jarek, saya beri pelengkapan Membangun Dunia Kembali, saya beri pelengkapan Resopim, saya beri pelengkapan Trisakti, saya beri pelengkapan Berdikari, hingga menjadi kompak-mantap-kokoh landasan idiil daripada perjuangan kita untuk menyelesaikan revolusi.

Dengan kekompakan seluruh rakyat secara demikian, yaitu secara batiniah dan lahiriah itu, pemberontakan-pemberontakan militer dan pengacauan-pengacauan di bidang politik dan ekonomi dapat kita tindas, hingga keamanan dapat dipulihkan kembali.

Alat-alat pertahanan dan keamanan kita yang berupa angkatan perang dan polisi, saya perkuat susunannya menjadi satu Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang kompak. Dan dengan kekompakan ABRI dan rakyat di bawah pimpinan tunggal, kita dapat memasukkan Irian Barat kembali ke dalam kekuasaan Republik! Ada lagi pampasan Jepang, yang sebelumnya itu telah berlarut-larut dan memakan banyak energi perjuangan kita. Dan masalah PP-10, dan dwi kewarganegaraan, yang segera kita selesaikan dalam rangka pelaksanaan Tri Program Pemerintah pada waktu itu. Demikian pula kita telah memperoleh kredit-kredit untuk pelbagai proyek besar dan kecil dalam rangka pelaksanaan Pola Pembangunan Semesta.

Semua kegiatan-kegiatan dan aktivitas-aktivitas tersebut memang benar memakan biaya, tetapi faktanya menunjukkan bahwa kita juga dapat merasakan hasilnya dengan nyata. Tidakkah keadaan lantas berlainan dengan yang dulu? Berlainan dengan waktu 1950-1959, di mana kita selalu harus mengalami kenyataan “biaya habis, hasil tidak ada”, kecuali malahan berkobar rebut-rebutan antara kita dengan kita sendiri? Oleh sebab itu, jika kita secara jujur, secara jujur, mawas diri meninjau perkembangan dari tahun 1959 sampai sekarang, ternyata bahwa banyaklah fakta-fakta yang membuktikan bahwa kebijaksanaan yang saya terapkan untuk opknappen warisan 1950-1959 itu adalah kebijaksanaan yang tepat dan benar.

Apalagi kalau kita tinjau dengan berpangkalan pada situasi warisan yang kita terima dari tangan Belanda dahulu!

Saudara-saudara. Dengan menoleh ke belakang dan menggali kembali ingatan kita tentang kiprahnya baik-buruk, kiprahnya plus-minus, kiprahnya hasil positif-kerugian negatif, yang kadang-kadang berganti-ganti, kadang-kadang campuraduk berbarengan laksana hamuknya elemen-elemen di dalam putaran angin puyuh, maka sebagai historicus dan politicus saya berpendapat bahwa kiprah ini akan berjalan terus, plus-minus, oleh karena perjuangan revolusi memang pada hakekatnya adalah kiprah hebat antara baik dan buruk, antara positif dan negatif, antara aksi dan reaksi. Di dalam bahasa falsafah ini adalah rantai these-antithese-synthese, dan demikian seterusnya – satu rantai yang tiada putusnya sampai ke akhir zaman.

Karena itu, hai bangsaku, teguh, teguhlah dalam imanmu, teguhlah dalam batinmu, meski badai topan yang bagaimanapun juga, untuk meneruskan perjuangan kita yang masih jauh ini!

Saudara-saudara sekalian,

Dalam melaksanakan Undang-Undang Dasar 1945, dalam mewujudkan pengejawantahan isi jiwa kita yang sedalam-dalamnya, maka pokok intisari mandat, pokok intisari mandat, yang saya terima dari MPRS ialah:

“Membangun Bangsa (Nation Building) dari kemerosotan zaman kolonial untuk dijadikan satu Bangsa yang berjiwa, yang dapat dan mampu menghadapi semua tantangan – satu Bangsa yang merdeka dalam abad ke 20 ini”.

Itulah intisari pokok daripada mandat MPRS kepada saya.

Sesungguhnya, toh bahwa membangun suatu negara, membangun ekonomi, membangun teknik, membangun pertahanan, adalah pertama-tama dan pada tahap utamanya membangun jiwa bangsa! Bukankah demikian? Sekali lagi, bukankah demikian?

Tentu saja keahlian adalah perlu! Tetapi keahlian saja tanpa dilandaskan pada jiwa yang besar, tidak akan dapat mungkin akan tercapai tujuannya.

Inilah perlunya, sekali lagi mutlak perlunya, Nation & Character Building! Tentu saja usaha ini pun memakan ongkos, memerlukan biaya, tetapi hasilnya sungguh berlipat-lipat ganda lebih besar dibandingkan dengan pengeluarannya.

“Memberikan selfrespect kepada bangsa sendiri, memberikan selfconfidence kepada diri bangsa sendiri, memberikan kesanggupan untuk Berdikari” adalah mutlak perlu bagi tiap-tiap bangsa, di sudut dunia manapun, di bawah kolong langit yang manapun!

Lihatlah contoh-contohnya. Lihatlah kepada bangsa Amerika, lihatlah kepada bangsa Jepang, lihatlah kepada bangsa Soviet Uni!

Amerika baru menjadi bangsa yang besar sesudah mengalami perang saudara yang hebat dan dua kali peperangan dunia. Jepang baru menjadi bangsa yang besar setelah mengalami perang dengan Rusia, perang dengan Tiongkok, dan dua kali perang dunia. Soviet Uni baru menjadi bangsa yang besar sesudah mengalami burgeroorlog yang dahsyat dari lima penjuru yang dikobarkan oleh kaum imperialis, dan dua kali perang dunia! Dan Indonesia tidak perlu dan insya Allah tidak usah mengundang peperangan, tetapi gemblengan jiwa adalah mutlak perlu untuk membangun bangsa dan negara kita.

Indonesia yang kita cita-citakan tidak dapat dan tidak mungkin dapat dibangun atas warisan atau sisa-sisa jiwa kolonialisme. Sisa-sisa jiwa kolonialisme ini harus kita bongkar samasekali.

Oleh sebab itu saripati daripada proyek-proyek Mandataris itu dapat dipertanggung-jawabkan, karena maksud dan tujuannya adalah tidak lain tidak bukan untuk memberikan jiwa kepada bangsa dan rakyat Indonesia yang merdeka! Proyek-proyek Mandataris adalah tidak lain dan tidak bukan sekadar alat, alat untuk menanamkan dan menumbuhkan kebesaran jiwa daripada bangsa dan rakyat kita.

Satu contoh lagi.

Terus terang saja, yang menghebatkan inflasi bukanlah pelaksanaan proyek Mandataris itu, akan tetapi pengeluaran-pengeluaran kita buat ABRl, untuk pembebasan lrian Barat dan untuk pengembalian keamanan. Untuk mengongkosi perjuangan pembebasan Irian Barat dan usaha penyelesaian keamanan, kita telah menggunakan lebih dari 80 persen daripada budget negara di tahun-tahun itu. Tetapi aku bertanya, apakah pembebasan lrian Barat salah? Apakah pemulihan keamanan salah? Tidak! Tidak salah, melainkan malahan perlu, perlu, perlu, sekali lagi, perlu!

Pendek kata, hasil politis, hasil ekonomis, hasil moneter, prestige, respect dunia internasional kepada kita, nation building, character building, selfrespect dan selfconfidence, semangat Berdikari, semua, semua ini dapat dipertanggungjawabkan sebagai kebijaksanaan yang saya jalankan sejak tahun 1959 itu untuk opknappen warisan jahat yang saya sebut tadi.

Bahwa perjuangan kita belum selesai, dan bahwa rakyat terutama sekali para buruh dan pegawai belum dapat hidup secara layak, itu memang benar! ltu saya akui, memang benar! Tetapi dasar-dasar kebangsaan dan dasar-dasar kenegaraan dengan jiwa baru sudah tertanam.

Sudah terang, Gestok kita kutuk, dan saya, saya mengutuk pula! Dan seperti yang sudah kukatakan berulang kali dengan jelas dan tandas, yang bersalah harus dihukum! Untuk itu kubangunkan Mahmillub!

Tetapi kenapa kita sesudah terjadinya Gestok itu harus ubah haluan? Kenapa kita sesudah terjadinya Gestok itu harus melemparkan jauh beberapa hal yang sudah nyata baik? Tidak! Pancasila, Panca Azimat, Trisakti, harus kita pertahankan terus, malahan harus kita pertumbuhkan terus!

Pancasila – adalah seperti yang seringkali telah kukatakan – satu hogere optrekking daripada Declaration of Independence Amerika dan Manifesto Komunis. Bahkan lebih jauh daripada itu saya telah sering berkata, Revolusi Indonesia adalah satu verbeterde editie, dan insya Allah satu laatste editie daripada revolusi-revolusi di dunia sekarang ini.

Lihatlah revolusi-revolusi lain! Revolusi Amerika sudah tinggal hanya menjadi satu historis moment dan satu historis monumen saja, atau dalam bahasa asingnya, De Amerikaanse Revolutie is maar een historisch moment en een historisch monument geworden! Kenapa? Revolusi Amerika terjadi hampir dua abad yang lalu.

Revolusi Perancis sudah tinggal hanya menjadi satu historis moment dan satu historis monumen saja, atau dalam bahasa asingnya, De Franse Revolutie is maar een historisch moment en een historisch monument geworden! Kenapa? Revolusi Prancis terjadi hampir dua abad yang lalu.

Revolusi Soviet pun sudah lamat-lamat mungkin nanti menuju kepada menjadi satu historis moment dan satu historis monumen saja, atau De Soviet Revolutie, mogelijk, dreigt later ook slechts een historisch moment en een historisch monument te worden! Kenapa? Revolusi Soviet pecah setengah abad yang lalu. Atau kalau kita hitung dari tahun 1905, yang oleh Lenin dikatakan generale repetitie daripada revolusi, sudah 60 tahun yang lalu.

Sudah tentu kita mengambil keuntungan-keuntungan besar dari revolusi-revolusi tersebut. Akan tetapi Revolusi Indonesia tidak bisa dan tidak boleh hanya didasarkan atas pengalaman-pengalaman dan hasil-hasil Revolusi Amerika, Revolusi Perancis, atau Revolusi Soviet itu saja.

Cita-cita dan isi serta konsepsi daripada revolusi kita harus merupakan penggalian daripada tuntutan-tuntutan seluruh umat-umat manusia umumnya dan rakyat Indonesia sendiri pada khususnya pada waktu itu, yaitu dalam abad ke-20 ini! Bukan dua abad yang lalu seperti Revolusi Amerika, bukan dua abad yang lalu seperti Revolusi Perancis, bukan hampir tigaperempat abad seperti Revolusi Soviet. Tetapi Revolusi Indonesia haruslah mencerminkan revolusi umat manusia dan Revolusi Bangsa Indonesia sendiri pada waktu ini, pada abad ke-20.

Saya berkata bahwa Nasakom atau Nasasos atau Nasa apapun adalah unsur mutlak daripada pembangunan bangsa Indonesia.

Nasionalisme, Ketuhanan, Sosialisme (dengan nama apapun) adalah merupakan tuntutan daripada tiap jiwa manusia, tiap bangsa, tuntutan seluruh umat manusia.

Oleh sebab itu, ini harus kita pertumbuhkan secara konsekuen, tanpa dipengaruhi oleh pikiran atau doktrin yang sudah lapuk, baik dari ekstrem kanan maupun dari ekstrem kiri.

Jiwa Pancasila dan jiwa Nasasos atau Nasa apapun harus menjadi Leit-Star daripada revolusi modern sekarang ini, yaitu revolusinya umat manusia. Oleh sebab itu maka saya selalu peringatkan kepada bangsa dan rakyatku, jangan gontok-gontokan, jangan sembelih-sembelihan! Sebab, hal itu akan memecahkan kesatuan dan persatuan bangsa, memecahkan inti hakiki daripada revolusi kita. Dan kecuali daripada itu, maka ratusan ribu pembunuhan, ratusan ribu penahanan, malahan akan menjadi masalah sosial politik yang panas, yang makin meningkatkan pertentangan-pertentangan saja.

Persatuan dan kesatuan bangsa masih tetap merupakan syarat mutlak bagi kehidupan nasional kita, masih tetap merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan serta pembangunan dalam bidang materiil atau idiil apapun.

Lihatlah ke belakang! Tidakkah pada masa yang lampau, yaitu sebelum kita merdeka maupun sesudah kita merdeka, fakta-fakta menunjukkan dengan jelas bahwa perpecahan hanyalah membawa kita pada keruntuhan semata?

Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca benggalanya daripada masa yang akan datang.

Hasil-hasil positif yang sudah dicapai di masa yang lampau jangan dibuang begitu saja. Membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau tidak mungkin. Sebab, kemajuan yang kita miliki sekarang ini adalah akumulasi daripada hasil-hasil perjuangan di masa yang lampau, yaitu hasil-hasil macam-macam perjuangan dari generasi nenek moyang kita sampai kepada generasi yang sekarang ini. Sekali lagi saya ulangi kalimat ini, membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau, hal itu tidak mungkin, sebab kemajuan yang kita miliki sekarang ini adalah akumulasi daripada hasil-hasil perjuangan-perjuangan di masa yang lampau.

.....selanjutnya>>>




Total comments: 0
avatar