Blog

Beranda Blog

Jangan Sekali-sekali Meninggalkan Sejarah

Добавил: edy 25 June 2018 в 6:24 AM в категорию «Di Bawah Bendera Revolusi - II»

<<sebelumnya..... Seorang pemimpin yaitu Abraham Lincoln berkata, one cannot escape history, orang tak dapat melepaskan diri dari sejarah. Saya pun berkata demikian. Tetapi saya tambah, bukan saja one cannot escape history, tetapi saya tambah, never leave history, janganlah sekali-kali meninggalkan sejarah! Jangan sekali-kali meninggal-kan sejarah! Jangan meninggalkan sejarahmu yang sudah, hai bangsaku, karena jika engkau meninggalkan sejarahmu yang sudah, engkau akan berdiri di atas vacuum, engkau akan berdiri di atas kekosongan, dan lantas engkau menjadi bingung, dan perjuanganmu paling-paling hanya akan berupa amuk, amuk belaka! Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap.

Dalam pidatoku pada 17 Agustus 1953 telah kunyatakan bahwa kita semua tanpa perkecualian tidak dapat melepaskan diri dari sejarah-sejarah yang dalam abad ke-20 ini makin nyata dan makin tampak menunjukkan coraknya dan arahnya. Kita bangsa Indonesia di waktu yang lampau telah benar-benar ikut berjalan dalam corak dan arahnya sejarah itu, tetapi akhirnya kita datang kepada tempat yang sekarang ini. Tetapi sejarah tidak berhenti, sejarah tidak pernah berhenti, sejarah selalu berjalan terus – dan kita hendak berhenti, kita hendak mengingkari sejarah kita yang lampau, kita hendak putar haluan? Mari kita berjalan terus dengan sejarah itu, dan jangan berhenti, sebab siapa yang berhenti toh akan diseret oleh sejarah itu sendiri samasekali.

Dengan berpegang terus kepada sejarah itu, maka dengan kekuatan baru, dengan selalu bertambah semangat baru, dengan selalu bertambah mantap dan kokoh keyakinan, bertambah cerah harapan-harapan baru, mari kita menggembleng terus persatuan dan kesatuan untuk perjuangan kita selanjutnya. Dan pada waktu sekarang ini juga untuk menyelesaikan Dwi Dharma dan Catur Karya-nya pemerintah, yang baru saja telah saya bentuk bersama-sama Jenderal Soeharto sesuai dengan perintah MPRS dalam Ketetapannya No XIII/1966.

Ya, masih bertumpuk-tumpuk tugas-tugas yang terletak di hadapan kita. Menggunung pekerjaan yang harus kita selesaikan. Tidak mungkin tugas-tugas itu diselesaikan oleh pemerintah sendiri tanpa ikutsertanya secara aktif membantu dari seluruh kalangan rakyat, dari semua suku, dari semua golongan, dari semua corak partai, dari semua isme yang ada.

Pelaksanaan program stabilisasi politik dan stabilisasi ekonomi yang telah diperinci menjadi 4 program –

a. Memperbaiki peri-penghidupan rakyat, terutama di bidang sandang-pangan;

b. Melaksanakan Pemilihan Umum selambat-lambatnya pada tanggal 5 Juli 1968;

c. Melaksanakan politik luar negeri yang bebas dan aktif untuk kepentingan nasional;

d. Melanjutkan perjuangan anti imperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, –

adalah merupakan tantangan bagi pembantingantulang daripada seluruh rakyat kita di bawah pimpinan Kabinet Ampera sekarang ini, dan entah kabinet apa yang kemudian. Sekali lagi, berhasil dan tidaknya pelaksanaan empat program itu bukanlah semata-mata merupakan tantangan terhadap kepada pemerintah saja, tetapi pada hakekatnya adalah merupakan tantangan bagi seluruh rakyat kita yang berjuang dari Sabang sampai Merauke.

Dengan selalu secara konsekuen menumbuhkan dan mengembangkan jiwa Pancasila dan jiwa revolusi besar kita, rakyat Indonesia harus menjadi rakyat yang kuat, rakyat yang besar, untuk dapat melaksanakan darma baktinya kepada Ibu Pertiwi dan seluruh umat insani. Darstellung daripada kita punya deepest-inner-self dalam Dwi Tunggal Proklamasi dan Deklarasi adalah kongruen dengan kesadaran sosialnya insani di seluruh muka bumi. Kongruen dengan social conscience of man, demikian kataku berulang-ulang. Oleh sebab itu, segala usaha, segala gerak-gerik perjuangan kita untuk melaksanakan tuntutan hati dan jeritan jiwa kita itu, pasti selalu berkumandang di antero muka bumi.

Untuk melaksanakan Undang-Undang Dasar 1945 secara konsekuen, kita akan segera menyempurnakan susunan lembaga-lembaga negara kita menjelang terlaksananya Pemilihan Umum. Dan berdasarkan Ketetapan-ketetapan MPRS hasil Sidang Umum ke-4 yang baru lalu, kita akan melangkah maju dalam menyesuaikan dan menyempurnakan hidup kehukuman kita, serta mengatur pembagian wewenang serta tempat kedudukan lembaga-lembaga negara kita secara konstitusional.

Dengan Keputusan-keputusan MPRS di bidang ekubang, kita akan meletakkan dasar-dasar pokok untuk menguatkan hidup sosial ekonomi kita. Bahwa tuntutan akan kesejahteraan, kebahagiaan, hidup layak, hidup enak adalah tuntutan insani yang universal, itu adalah jelas! Apalagi buat bangsa kita yang berabad-abad lamanya, terutama sekali di bawah pemerintahan kolonial, selalu menderita itu. Maka juga pemerintah kita dan rakyat Indonesia harus bertekad memeras keringat dan memutar otak untuk menggali dan mengolah kekayaan-kekayaan nasional kita guna memenuhi keperluan dan tuntutan sendiri, di samping akan disumbangkan pula hasilnya kepada seluruh umat manusia di muka bumi.

Dengan tetap berpegang teguh dan tidak boleh melepaskan kepada mahkota kemerdekaan kita yang berwujud prinsip Berdikari, kita mengusahakan dan mencari kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan dengan kawan-kawan di seluruh dunia – terutama sekali kawan-kawan bangsa seperjuangan – untuk memper-kembangkan dan memajukan kehidupan sosial ekonomi kita. Hendaknya kita selalu ingat bahwa prinsip Berdikari menolak kebijaksanaan minta-minta, menolak kebijaksanaan mengemis, apalagi mengemis kepada musuh yang hanya akan merendahkan martabat dan harkat kebangsaan kita sebagai rakyat yang merdeka! Ya! Go to hell adalah tetap semboyan kita menghadapi tantangan tindakan-tindakan kaum monopoli dunia dengan taktik-taktiknya yang kotor, misalnya menjatuhkan harga daripada beberapa produk ekspor kita di pasaran dunia.

Dalam usaha pemerintah untuk segera dapat memenuhi kebutuhan pokok sandang-pangan kita, kita akan menggerakkan dan memperkembangkan terutama usaha produksi sendiri. Di samping itu kita juga akan mengusahakan tambahan-tambahan dari luar, manakala produksi sendiri itu belum mencukupi. Memperbesar dan memperkembangkan produksi dalam negeri itulah dasar dan sumber kemakmuran yang harus kita wujudkan. Sebab, memang usaha memperbesar produksi sendiri itulah kunci, kunci untuk menyehatkan perekonomian kita memberantas inflasi. Dalam usaha untuk segera dapat meringankan beban hidup kita sehari-hari, kita harus memusatkan segala perhatian dan segala kemampuan pemerintah serta rakyat kepada sektor-sektor usaha pangan dan sandang, dengan antara lain usaha-usaha penertiban dan pengaturan kembali serta rehabilitasi infrastruktur kita, yang di waktu-waktu belakangan ini kadang-kadang malah kita rusak sendiri.

Simultan, serentak bersama-sama, simultan dengan usaha-usaha kita untuk memenuhi kebutuhan material itu, pemerintah dan rakyat kita akan bertekad untuk memenuhi tuntutan Pemilihan Umum dalam jangka waktu 2 tahun yang akan datang. Berulang-ulang kali saya sendiri tandaskan bahwa Pemilihan Umum ini harus kita adakan secepat mungkin, karena justru Pemilihan Umum itulah alat demokrasi satu-satunya untuk mengetahui kehendak rakyat, untuk mengetahui hati nurani rakyat, untuk menjernihkan dan memurnikan tuntutan-tuntutan yang dicetuskan “atas nama rakyat”, dan untuk menyempurnakan lembaga-lembaga negara kita yang sekarang.

Dalam pada itu pagi-pagi saya telah mengeluarkan peringatan kepada bangsa dan rakyat akan bahaya gontok-gontokan dan jegal-jegalan dalam menyelenggarakan Pemilihan Umum.

Dalam segala hal, dalam segala situasi yang bagaimanapun juga, peliharalah dan pegang teguhlah prinsip perjuangan kita: persatuan dan kesatuan bangsa. Menjelang dan dalam Pemilihan Umum, janganlah kita lupa daratan! Jangan kita sengit-sengitan! Jangan kita fitnah-fitnahan! Jangan kita jegal-jegalan! Jangan kita gontok-gontokan! Musuh revolusi selalu menghendaki ini, musuh dari luar, ya musuh dari dalam juga.

Memandang perkembangan dunia internasional dewasa ini dengan jiwa Proklamasi dan Deklarasi Kemerdekaan, mau tidak mau kita harus merasa sedih dan cemas melihat meningkatnya kebiadaban imperialisme terhadap rakyat-rakyat dan negara-negara yang menjadi korban kebuasannya atau hendak dijadikan korban kebuasannya. Misalnya di benua Afrika. Misalnya di benua Arab. Misalnya di Vietnam.

Oo, Vietnam! Betapa buasnya imperialisme di Vietnam itu! Dengan hak apa imperialis berbuat demikian di Vietnam itu? Dengan hak apa mereka membunuh, membakar, mengebom, meracun, membinasakan segala apa yang kumelip di beberapa daerah di sana itu? Dan jika dunia tidak waspada, jika bangsa-bangsa yang cinta damai tidak bersatupadu bertindak menentang kejahatan di sana itu, maka pastilah dunia nanti mengalami bencana yang lebih luas dan lebih ngeri lagi. Mungkin dunia akan mengalami perang atom antar-benua. Bulu romaku berdiri jikalau aku membayangkan malapetaka yang demikian itu – malapetaka tabula rasa kiamat untuk seluruh kemanusiaan. Apakah ini artinya kata-kata Injiliah; Beware, beware, after us the fire? Awas, sesudah kami akan datangkan api!

Beware, after us the fire!! Apakah ini arti perkataan Injiliah itu? Apakah ini yang dinamakan perang armageddon?

Apa gunanya Proklamasi, apa gunanya Deklarasi Kemerdekaan, apa gunanya kata-kata indah dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar kalau kita tinggal bungkam terhadap kebiadaban di Vietnam itu? Apa gunanya Mukadimah Undang-Undang Dasar atau Deklarasi Kemerdekaan kalau kita tidak tanpa tedeng aling-aling memprotes, ya lebih dari memprotes, mengutuk perang Amerika di Vietnam itu?

Apalagi perang Vietnam mempengaruhi dan melemparkan akibatnya secara langsung kepada sendi-sendi tata keamanan di seluruh Asia Tenggara, dan dengan sendirinya dus juga berpengaruh kepada keamanan di Indonesia sendiri.

Saya dengan hati bersih berseru kepada Amerika:

Amerika, keluarlah dari Vietnam!

Please America, please get out of Vietnam!

Tuan tidak akan bisa menyelesaikan soal Vietnam dengan cara yang Tuan jalankan itu. Tuan nanti yang akan babak bundas! Tuan nanti yang akan babak belur. Tuan nanti yang akan bertanggungjawab atas malapetaka dunia yang dahsyat. Kembalilah kepada Persetujuan Geneva! Atau, pakailah Sukarno-Macapagal Doctrine; Asian problems to be solved by Asian themselves, the Asia way. Soal-soal Asia dipecahkan oleh bangsa-bangsa Asia sendiri, dengan cara-cara Asia sendiri. Indonesia di sini menawarkan dirinya, menawarkan dirinya dengan jujur dan ikhlas, kalau diminta, untuk ikut menyelesaikan persoalan Vietnam itu atas dasar Sukarno-Macapagal Doctrine.

Dalam rangka mempertahankan keamanan di Asia Tenggara itu, maka perjuangan kita melawan kolonialisme dan neokolonialisme, – sesudah Irian Barat masuk kembali ke dalam kekuasaan Republik – telah mencapai puncaknya lagi seperti dikenal di dunia dalam wujud konfrontasi dengan Malaysia.

Tiga tahun kita menjalani konfontasi. Tiga tahun perjuangan yang gigih. Tiga tahun aku dimaki-maki oleh musuh dan oleh setengah orang dalam negeri sendiri. Dikatakan aku suka kepada permusuhan. Padahal Deklarasi Kemerdekaan kita sendiri mengatakan bahwa kita harus menghapuskan (dus harus berjuang menentang) kolonialisme. Padahal MPRS sendiri memerintahkan kita melanjutkan perjuangan anti imperialisme “dalam segala bentuk dan manifestasinya”. Padahal Konferensi Asia Afrika sendiri menghendaki kita menentang imperialisme “in all its forms and manifestations”. Dan tidakkah Malaysia satu British Neo-Colonialist project? Dus salah satu “bentuk dan manifestasi” kolonialisme, satu “form and manifestation” daripada si trouble maker, si tukang rewel – si war-monger! Tetapi syukur alhamdulillah, menjelang Hari Ulang Tahun Republik ke-21 ini telah dicapai persetujuan dengan Kuala Lumpur untuk menandatangani Persetujuan Bangkok yang disempurnakan. Saya berkata, alhamdulillah menjelang Hari Ulang Tahun Republik ke-21 ini telah dicapai persetujuan dengan Kuala Lumpur untuk menandatangani persetujuan Bangkok yang disempurnakan, yang akan menjadi sarana untuk mengakhiri konfrontasi secara damai atas dasar Manila Agreement.

Saudara-saudara,

Perhatikan kataku tadi;

Persetujuan Bangkok yang disempurnakan!

Sekali lagi, Persetujuan Bangkok yang disempumakan.

Apa itu yang disempurnakan?

Terus terang saja beginilah.

Bangkok yang pertama, dengarkan, Bangkok yang pertama – Bangkok hasil pembicaraan Saudara Adam Malik dengan Tun Abdul Razak tempohari – Bangkok yang pertama itu saya tidak mau terima. Dan Kogam pun tidak mau terima. Bangkok yang pertama itu masih berisi hal-hal yang bisa menjebloskan Republik. Waktu itu, dus pada waktu orang dengan gembira berkata, konfrontasi akan berakhir! Hure, perdamaian dengan Malaysia akan datang! Pada waktu itu saya dan Kogam berkata, tidak, konfrontasi berjalan terus! Geger dan gempar pada waktu itu orang-orang yang tidak mengerti! Dalam pada itu, karena kita memang lebih senang kepada penyelesaian secara damai, saya tugaskan kepada Saudara Jenderal Soeharto untuk mengadakan kontak dengan pihak Kuala Lumpur, mencari penyelesaian damai atas dasar Manila Agreement – salah satunya dasar yang bisa kita pakai untuk penyelesaian damai itu.

Jenderal Soeharto mulai bekerja. Setapak demi setapak ia mencapai hasil, sehingga ia sebagai duta perundingan, yaitu sebagai peace negotiator, berkata “optimis” dan “bahwa tidak lama lagi penyelesaian secara damai akan tercapai”.

Datanglah petir halilintar yang menyambar. Kok Sukarno pada waktu itu mencak-mencak!

Dunia gempar, kok dalam merantaknya fajar perdamaian antara Malaysia dan Indonesia itu Presiden Sukarno masih berkata, konfrontasi berjalan terus! Saya malah tambah dicap lagi, dicap lagi sebagai si gila perang. Saya dinamakan oleh surat kabar imperialis “lalat di dalam salep”, the fly in the ointment. Satu surat kabar di Bangkok malah menyebut saya the angry old man – “itu orang tua bangka yang marah-marah”.

Ha-ha, bagaimana sih duduknya perkara? Lha ini barangkali Saudara-saudara ingin tahu.

Duduknya perkara adalah begini. Saya memerintahkan Jenderal Soeharto mencari penyelesaian secara damai atas dasar Manila Agreement. Jenderal Soeharto mulai bekerja. Dan tadi saya berkata, setapak demi setapak mencapai hasil. Tapi dari laporan-laporan yang saya terima, dari beliau juga, ternyata bahwa pihak Kuala Lumpur pada perundingan itu alot sekali menerima usul-usul kita untuk memenuhi Manila Agreement itu, alot sekali menerima usul-usul dari pihak kita sesuai dengan Manila Agreement itu. Kumaha ieu, bagaimana ini?

Well, saya lantas anggap perlu untuk sedikit tarik muka angker dalam perundingan ini. Saya anggap perlu untuk memberi tulang punggung kepada Soeharto dalam perundingan ini. Saya anggap perlu memberi back bone sedikit kepadanya. Dan saya lantas berkata, kalau mereka tidak mau menerima usul-usul kita buat implementasi Manila Agreement itu, maka kita akan jalankan terus konfrontasi!

Dan taktik ini, Saudara-saudara, berhasil. Kuala Lumpur lantas mau menerima usul-usul kita itu. Sehingga sekarang Bangkok yang dulu (yang kita tidak mau terima) menjadi Bangkok yang disempurnakan (yang kita mau terima). Dan apakah Bangkok yang disempurnakan itu? Bangkok yang disempumakan itu adalah Bangkok asli + annex buatan kita. Plus annex buatan kita. Itulah Bangkok yang disempurnakan. Ini yang kita mau terima. Dan ini, Saudara-saudara, yang ditandatangani beberapa hari yang lalu. Dan ini saya sambut dengan perkataan syukur alhamdulillah, sekarang ada dasar perdamaian dengan Kuala Lumpur.

Beberapa hari yang lalu kita di Jakarta telah menandatangani Bangkok yang disempurnakan itu. Yang penting dalam Bangkok yang disempurnakan itu, sebagai kukatakan tadi, annex-nya, di mana tertulis bahwa kita mengakui Malaysia, sesudah, dengarkan, sesudah diadakan Pemilihan Umum di Sabah dan Serawak. Sesudah, sekali lagi sesudah Pemilihan Umum di Sabah dan Serawak! Dus, tidak “begitu Persetujuan ditandatangani, begitu Malaysia kita akui”. Nee, tidak! Tidak begitu persetujuan ditandatangani, begitu kita mengakui Malaysia, tidak!

Adakan Pemilihan Umum lebih dulu di Sabah dan Serawak. Dan sesudah itu, baru kita mengakui Malaysia sebagai hasil daripada Pemilihan Umum itu.

Dengan keterangan ini maka jelaslah bahwa antara Presiden dan Jenderal Soeharto tidak ada perbedaan atau penjegalan, melainkan malah ada pemberian tenaga dari Presiden/Panglima Tertinggi kepada peace negotiator-nya.

Saudara-saudara, maka demikianlah Manila Agreement yang dulu ditanda-tangani dengan khidmat di Manila itu, dengan saya sebagai salah seorang pengambil inisiatifnya yang aktif, ternyatalah membawa manfaat besar kepada perjuangan melawan neo-kolonialisme dan kepada perikehidupan di Asia Tenggara. Kepada rakyat di Kalimantan Utara saya sekarang berseru, kalau Saudara-saudara benar-benar ingin merdeka – dan saya yakin demikian – pergunakanlah sebaik-baiknya ketentuan dalam Manila Agreement dan ketentuan dalam Persetujuan Bangkok yang disempurnakan ini bahwa di daerah Saudara-saudara akan diadakan Pemilihan Umum, dan jagalah, jagalah bahwa Pemilihan Umum ini – Pemilihan Umum di Sabah dan Serawak itu betul-betul dijalankan secara demokratis.

Saudara-saudara,

Hubungan kita dengan Singapura pun sedang kita atur. Memang Republik Indonesia ingin bersahabat dengan sebanyak mungkin bangsa di bawah kolong langit ini yang sejiwa dengan kita. Apalagi dengan tetangga kita sendiri. Itulah salah satu sebabnya kita tidak mau ikut-ikut dalam konfliknya bangsa-bangsa yang lain. Itulah intisari daripada politik kita yang bernama bebas dan aktif, yang sejak dari hari Proklamasi 21 tahun yang lalu memang selalu menjadi pegangan kita, dan sekarang memang juga diamanatkan oleh MPRS kepada Kabinet Ampera sebagai salah satu daripada Catur Karya.

Dunia sekarang makin lama makin mengerti, apa baiknya politik bebas dan aktif itu. Dulu misalnya Amerika sangat tidak menyukainya. Dulu Amerika malahan sangat menghinanya.

John Foster Dulles, Menteri Luar Negeri Amerika dulu itu, terang-terangan berkata kepada saya, neutralism is immoral, yang artinya netralisme adalah immoral. Yang ia maksudkan ialah politik bebas aktif adalah immoral. Politik bebas aktif adalah politiknya orang yang tidak mempunyai budi. Itu dulu.

Sekarang, sekarang Menteri Luar Negeri Amerika yang sekarang, Tuan Dean Rusk, menyatakan bahwa Amerika menghargai benar politik bebas dan aktif kita itu. Saya membaca itu dalam surat kabar-surat kabar beberapa hari yang lalu, dan saya amat bersyukur dan bergembira. Saya hargai benar ucapan Mr Dean Rusk itu. Mr Dean Rusk, I appreciate your statement very much! Saya mengharap saja bahwa Mr Dean Rusk dan seluruh rakyat Amerika mengerti juga bahwa politik bebas dan aktif kita itu adalah politik bebas dan aktif.

Bebas dan aktif! Aktif, sekali lagi aktif! Bukan bebas sambil tidak berbuat apa-apa. Bukan bebas sambil in-aktif.

Kalau kita dinamakan orang bahwa kita ini netral, okay, okay! Kita dinamakan netral, okay! Tetapi janganlah orang mengira bahwa kita dalam kenetralan kita itu, tinggal – kataku tempo hari – diam tenguk-tenguk memeluk bahu membiarkan segala sesuatu di dunia ini berjalan semau-maunya, seperti seseorang yang duduk tenguk-tenguk di atas pagar di pinggir jalan sambil menonton saja apa yang berlalu dan berlintas di hadapannya.

Di Amerika tempo hari, tiga kali saya berkata dengan tandas, we are neutral, but we are not sitting on the fence! We are not sitting on the fence, yang artinya kita netral tetapi kita tidak duduk tenguk-tenguk di atas pagar.

Netralisme kita bukan netralisme orang yang duduk tenguk-tenguk. Kita aktif, kita berjuang! Aktif untuk apa? Berjuang untuk apa? Kita ikut serta aktif dalam perjuangannya umat manusia untuk mencapai Dunia Baru tanpa exploitation de l’homme par l’homme dan tanpa exploitation de nation par nation. Kita tidak netral dan tidak dapat netral, misalnya, dalam menghadapi imperialisme, kolonialisme, atau neokolonialisme. Kita tidak boleh membiarkan imperialisme, kolonialisme, neo-kolonialisme itu hidup. Kita harus aktif menentang imperialisme, kolonialisme, neo-kolonialisme itu. Kita tidak membiarkan sesuatu bangsa merampas kemerdekaannya sesuatu bangsa lain, mengkolonisasi atau men-neokolonisasi sesuatu bangsa lain. Kalau kita membiarkannya atau tidak menentangnya, atau lebih jahat lagi peluk-pelukan dengan imperialisme atau neoimperialisme itu, maka apakah kita ini? Apakah kita ini?

Kalau kita membiarkan imperialisme, kolonialisme, neokolonialisme hidup terus, membiarkan ia mengungkung bangsa lain atau mengungkung bangsa kita sendiri atau merongrong bangsa kita sendiri, contain bangsa kita sendiri, maka kita ingkar, Saudara-saudara, kepada jiwa kemerdekaan kita. Bahkan mengkhianati jiwa kemerdekaan itu yang tertulis dalam Deklarasi Kemerdekaan dengan kata-kata yang begitu gilang-gemilang. Apa yang tertulis dalam Deklarasi Kemerdekaan?

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan”.

Sebagai contoh saya kemukakan di sini (quand vous voulez pour Monsieur Dean Rusk – kalau Tuan mau, ya syukur, Tuan Dean Rusk) bahwa perjuangan kita menentang Malaysia adalah amanat daripada Deklarasi Kemerdekaan kita itu, oleh karena Malaysia adalah satu British neocolonialist project. Demikianlah hakekat daripada netralisme kita – satu netralisme yang dalam hal-hal demikian tidak boleh netral (dalam arti tenguk-tenguk) samasekali.

Itulah sebabnya maka kita, dalam politik kita yang bebas dan aktif itu, tidak netral pula dalam persoalan Vietnam, malah mengutuk perang Vietnam itu! Itulah pula sebabnya kita tidak mau mengakui Israel! Tidak mau membenarkan coup-coup di Afrika belakangan ini, yang buat 90% semuanya hasil usaha imperialis! Tidak mau netral terhadap beberapa kejadian di dunia Arab! Tidak mau mengutuk amarahnya bangsa Negro di Amerika – the Negro Revolution, sebagai almarhum Kennedy katakan.

Sungguh, kita harus bangga bahwa kita adalah satu bangsa yang konsekuen terus, bukan saja berjiwa kemerdekaan, bukan saja berjiwa anti imperialisme, tetapi juga konsekuen terus berjuang menentang imperialisme, konsekuen terus berjuang menentang exploitation de l’homme par l’homme dan exploitation de nation par nation! Kita harus bangga bahwa kita oleh bangsa-bangsa Asia, Afrika, Amerika Latin, bangsa-bangsa lain yang progresif, dipandang sebagai mercusuar di dalam hal perjuangan ini.

Kita, kitalah, Saudara-saudara, pembuat kata New Emerging Forces. Kitalah initiatief nemer daripada penggabungan semua New Emerging Forces. Kitalah initiatief nemer Ganefo. Kitalah initiatief nemer Conefo. Kitalah dulu salah satu initiatief nemer Konferensi Asia Afrika. Imperialisme yang pada hakekatnya internasional hanya dapat dikalahkan dan ditundukkan dengan penggabungan tenaga anti imperialisme yang internasional juga. Saya gembira bahwa MPRS mengenai Conefo berkata: a. Pada prinsipnya gagasan penggalangan kekuatan progresif revolusioner anti imperialisme dan kolonialisme adalah gagasan yang luhur, yang harus ditingkatkan realisasinya; b. Mengenai Conefo, hendaklah disesuaikan dengan kondisi dalam negeri dan kemampuan-kemampuan dalam penyelenggaraannya, dan juga kondisi internasional.

Saya gembira dengan kata-kata MPRS ini, oleh karena MPRS menentukan bahwa penggalangan segala kekuatan progresif revolusioner anti imperialisme dan kolonialisme itu harus ditingkatkan realisasinya.

Justru itulah yang saya ikhtiarkan! Justru itulah yang saya kerjakan siang dan malam. Justru itulah yang saya anggap sebagai salah satu tugas hidup saya. Justru itulah yang saya anggap sebagai salah satu life dedication saya. Bahwa mengenai gagasan Conefo itu kita harus menye-suaikannya dengan kondisi dalam negeri dan kemampuan-kemampuan dalam penyelenggara-annya – oo, itu adalah logis. Itu spreekt vanzelf. ltu adalah terang sebagai 2 x 2 = 4.

Tetapi satu hal harus saya katakan di sini. Sebagaimana Konferensi Asia Afrika tidak disenangi oleh imperialis dan dibenci oleh imperialis, dan karenanya hendak disabot oleh imperialis – ingatlah antara lain pembinasaan kapal terbang Kashmir Princess yang membawa utusan-utusan ke Konferensi Asia Afrika di Aljazair, sehingga gagal tak dapat langsung sama sekali – maka pihak imperialis juga amat tidak senang dengan penyelenggaraan Conefo, amat benci dan takut kepada Conefo itu. Bayangkan! Conefo adalah satu konferensi penggalangan semua tenaga anti imperialis dari seluruh muka bumi. Conefo adalah lebih besar daripada Asian Relations Conference yang dulu pernah diadakan di New Delhi, lebih besar daripada Konferensi Asia Afrika di Bandung! Conefo adalah bahaya yang lebih besar bagi imperialisme daripada Konferensi New Delhi atau Konferensi Bandung. Belum pernah di dalam sejarah pihak imperialis nanti menghadapi satu united front anti imperialis yang begitu besar seperti Conefo ini. United front anti imperilis yang begitu besar dari seluruh dunia, dari seluruh muka bumi.

Karena itu, pihak imperialis menjalankan semua usaha, semua muslihat, dan akan menjalankan semua usaha dan semua muslihat – terang-terangan atau gelap-gelapan – untuk menggagalkan Conefo itu. Dengan apa? Dengan segala macam jalan! Antara lain dengan jalan mengacaukan kondisi dalam negeri kita – politis maupun ekonomis – agar supaya kita tidak mampu nanti menyelenggarakan Conefo itu. Dus, waspadalah! Waspadalah! Jangan terlalu gantungkan penyelenggaraan Conefo itu dari kondisi dalam negeri, dan jangan terlalu gantungkan ia daripada kemampuan-kemampuan dalam penyelenggaraannya. Saya sendiri, insya Allah, bertekad bulat untuk menyelenggarakan terus Conefo itu. Kalau bisa di dalam Gedung Conefo yang megah yang sedang kita bangun sekarang ini dengan banyak rintangan. Kalau bisa di gedung itu, syukur! Kalau tidak bisa di gedung itu, karena ya sesuatu rintangan, marilah hei kaum progresif revolusioner, kita adakan Conefo itu di tempat lain, dalam bangunan-bangunan yang murah di tengah sawah sekalipun, terbuat dari bambu dan gedek, berjubin tanah mentah, beratap kajang dan alang-alang.

Yang penting bukan gedungnya. Yang penting bukan gedungnya. Yang penting ialah penggalangan semua tenaga anti imperialis. Di satu gedung megah syukur kalau bisa, untuk mengangkat nama Indonesia, di gubug-gubug beratap alang-alang apa boleh buat, malahan mungkin mendatangkan efek politik yang lebih hebat lagi. Di mana Isa menjatuhkan jiwa imperium Romawi? Di gubug-gubug, di kandang-kandang kambing, kadang-kadang di bawah kolong langit – hakandang langit, hakemul mego, kata orang Jawa. Di mana Muhammad menggembleng umatnya?

Di gubug-gubug, di pinggir-pinggir jalan, di bawah pohon-pohon kurma. Di mana Gandhi menyusun gerakan satya grahanya? Di Sabarmati Ashram yang amat sederhana dan dari dalam penjara. Di mana kita dulu menempa persatuan revolusioner rakyat Indonesia yang nanti menjatuhkan samasekali imperialisme Belanda? Di gedung genteng di Gang Kenari sini, Saudara-saudara, gedung genteng Gang Kenari dan di gudang gedek di Cilentah Bandung.

Kecuali itu, sebagai kemarin kukatakan di DPR-GR, kalau gedung Conefo ini bisa selesai, maka sesudah kita pakai untuk Conefo, kita dapat pakainya untuk keperluan-keperluan lain; untuk konferensi-konferensi internasional, untuk parlemen, untuk MPRS, atau untuk lain-lain yang penting. Saya sendiri, kataku kemarin, malu, malu, sampai sekarang kok Republik Besar sebagai Indonesia ini, parlemennya di gedung pinjaman, MPRS-nya di gedung pinjaman. Di negara-negara lain, gedung parlemen atau gedung Supreme Congress-nya adalah salah satu gedung yang terindah di negeri itu.

Saya ulangi lagi, perjuangan anti imperialisme harus kita jalankan terus, juga atas skala internasional.

Kita menyadari dan tahu benar bahwa perikehidupan bangsa di abad XX sekarang ini tidak mungkin lagi kita jalankan sendiri-sendirian. Dunia sekarang ini memang telah menjadi kecil. Bola dunia sekarang ini telah menjadi laksana satu kelereng kecil di dalam tangannya Si Pembuat Sejarah. Segede mrico binubut ing astane

Sang Murbeng Dumadi. John Foster Dulles dalam perdebatannya dengan saya mengatakan bahwa Amerika menjalankan satu politik dunia – menjalankan satu global policy. Well! Sekarang saya menjawab, Indonesia, terutama sekali dalam perjuangannya anti imperialisme, menjalankan strategi dunia – Indonesia menjalankan satu global strategy.

Apalagi kalau kita ingat bahwa Revolusi Indonesia hanyalah satu bagian saja daripada revolusi umat manusia, satu bagian saja daripada the universal revolution of man. Dan apakah inti daripada universal revolution of man itu? Apakah inti daripada tiap-tiap revolusi dalam abad XX ini? Inti hakiki tiap-tiap revolusi dalam abad XX ini ialah kemerdekaan bagi manusia, kemerdekaan bagi bangsa, anti imperialisme, anti-exploitation de l’homme par l’homme dan anti-exploitation de nation par nation.

Karena itulah maka sebagai salah satu mercusuar daripada universal revolution of man ini, Indonesia mempunyai universal voice – mempunyai suara sejagad, Indonesia didengarkan, dilihat, diperhatikan, sering-sering dikagumi oleh orang di lima benua dan tujuh samudera! Inilah kemercusuaran kita, berkat perjuangan kita berdasarkan Proklamasi Kemerdekaan dan Deklarasi Kemerdekaan kita itu.

Saudara-saudara, saya pemah dihadiahi dengan coretan tembok yang berbunyi: “Mercusuar politik no, mercusuar ekonomi yes”.

Wah, wah, wah, wah, hebat bener nih! Hebat bener! Tapi saya tanya:

Siapa bisa dalam abad XX ini memisahkan ekonomi dari politik, memisahkan politik dari ekonomi, baik nasional maupun intemasional? Dalam abad XX dua hal ini, ekonomi dan politik, adalah kait-mengait, kait-mengait satu sama lain, rante-rinante satu sama lain, interwoven satu sama lain. Apalagi buat kita, ekonomi kita! Sebab, ekonomi yang kita kejar ialah ekonomi atas dasar orde baru, ekonomi atas dasar orde sosialis, bukan ekonomi seperti di Amerika atau ekonomi seperti di Jepang, satu ekonomi sosialis tanpa exploitation de l’homme par l’homme. Tetapi saya tanya lagi, ekonomi tanpa exploitation de l’homme par l’homme apakah mungkin tanpa perjuangan, tanpa menghilangkan exploitation de nation par nation? Ekonomi tanpa exploitation de l’homme par l’homme tak dapat kita selenggarakan tanpa hilangnya exploitation de nation par nation, yaitu tanpa hilangnya imperialisme! Membangun ekonomi sosialis dengan bersama-sama dengan itu menggempur imperialisme, menggempur imperialisme untuk bersama-sama dengan itu membangun sosialisme, inilah rantai yang saya maksudkan, itu adalah Dwi Tunggal! Dwi Eka! Dwi Simultanisme!

Karena itulah maka Ampera bukan hanya urusan isi perut. Ampera adalah urusan isi perut dan negara merdeka bebas dari imperialisme plus Dunia Baru.

Ampera adalah Dwi Tunggal politik dan ekonomi, Dwi Tunggal ekonomi dan politik. Tidak bisa dipisah satu sama lain. Dan tidak ada ke-amberg-parama-arta-an dari yang satu di atas yang lain.

Malahan Ampera adalah Tri Tunggal, yaitu:

Negara Merdeka – politik!

Masyarakat adil dan makmur – ekonomi!

Dunia Baru – politik!

Pun di dalam Tri Tunggal Ampera ini tidak ada ke-ambeg-parama-arta-an.

Karena itulah maka saya tempo hari berkata bahwa hati saya plong, plong karena MPRS memberi kepada Kabinet Ampera tugas Catur Karya, bukan Eka Karya: satu, ekonomi, dua, gempur imperialisme; tiga, politik bebas aktif; empat, Pemilihan Umum. Ekonomi dan politik bersama-sama, ekonomi dan politik simultan, ekonomi dan politik door elkaar en aan elkaar.

Bagaimana dua hal stabilisasi ekonomi dan stabilisasi politik? Bagaimana itu Dwi Dharma yang ditugaskan oleh MPRS? ltu pun tak dapat dipisahkan satu sama lain. ltu pun interwoven satu dengan yang lain.

Kita bekerja keras untuk stabilisasi ekonomi dan stabilisasi politik, bersama-sama. Tapi stabilisasi adalah satu pengertian yang relatif. Stabilisasi adalah satu relatief begrip! Jangan takut memasuki z.g. instabilisasi, kalau instabilisasi itu sementara perlu untuk mencapai stabilisasi. Memang revolusi ia punya antithesa dan synthesa, dengan ia punya dialektika, adalah satu rantai panjang instabilisasi dan stabilisasi.

Dan terutama sekali camkan dalam hatimu dan pikiranmu, camkan secam-camnya bahwa stabilisasi yang kita perlukan sekarang bukanlah stabilisasinya kaum imperialis, bukan stabilisasinya kaum imperialis, tetapi stabilisasinya perjuangan kita yang revolusioner, sebagai batu loncatan untuk meneruskan revolusi dan memenangkan revolusi itu.

Saudara-saudara, saya bergembira pula bahwa MPRS mengenai PBB berkata, “harus meningkatkan perjuangan untuk mengadakan perombakan dalam tubuh PBB, baik struktural maupun komposisional, untuk disesuaikan dengan perkembangan zaman”. MPRS berkata pula, “dengan ikut aktif kembalinya Indonesia di dalam badan intemasional itu, perjuangan perombakan akan lebih efektif”.

Apa yang dikatakan oleh MPRS itu benar, sama saja benarnya dengan perkataan, misalnya bahwa “persoalan Malaysia harus diselesaikan dengan jalan damai, dengan perundingan atas dasar Manila Agreement”. Tapi, marilah saya pakai terus contoh perundingan dengan Malaysia itu untuk menjelaskan politik saya terhadap PBB. Perundingan dengan Malaysia memang benar, tapi nah ini, kapan, kapan kita harus mulai perundingan? Kapan? ltu adalah soal lain. Soal kapan itu adalah soal taktik dan strategi. Soal kapan adalah soal penyelenggaraan, bukan soal prinsip lagi. Taktik kita dengan Malaysia ialah – sebagai dikatakan dengan kata-kata lain oleh Jenderal Soeharto kemarin di DPR -, taktik dengan Malaysia ialah mengajak mengadakan perundingan kalau Malaysia sudah dalam keadaan minta perundingan itu. Jenderal Soeharto berkata, konfrontasi politik untuk membawa atau memaksa Malaysia masuk perundingan. Saya di sini dengan perkataan lain berkata, mengajak mengadakan perundingan kalau Malaysia sudah dalam keadaan minta perundingan itu. Karena itu maka tiga tahun lamanya kita mengadakan konfrontasi dengan Malaysia lebih dahulu, dan sesudah Malaysia meminta perundingan, baru kita memasuki perundingan dengan dia.

(Di sini ingatlah kepada tulang punggung yang saya berikan kepada Jenderal Soeharto, sebagai saya ceritakan kepadamu di muka tadi).

Demikian pula dengan PBB! Prinsip masuk kembali dalam PBB untuk melebih-efektifkan perjuangan perombakan PBB, memang benar, tapi kapannya, kapan waktunya, itu adalah soal taktik. Taktik tergantung kepada keadaan musuh, keadaan kita sendiri, alat, tempat, dan waktu.

Lantas, kapan kita masuk kembali ke dalam PBB? Dengar uraian saya berikut. Saya bergembira bahwa MPRS juga memutuskan “harus meningkatkan perjuangan untuk mengadakan perombakan dalam tubuh PBB”.

Nah, saya mau meningkatkan perjuangan perombakan PBB itu lebih dahulu di luar PBB. Antara lain, antara lain karena ada peningkatan lain juga, saya mau mengadakan Conefo lebih dahulu. Baru nanti sesudah peningkatan perjuangan perombakan itu di luar dan di dalam Conefo, baru nanti kita tetapkan kapannya atau waktunya kita kembali ke dalam PBB. Bandingkan taktik ini dengan politik saya terhadap Malaysia; konfrontasi lebih dahulu, baru kemudian perundingan. Dan perhatikan pidato saya “Membangun Dunia Kembali” di New York – To Build The World Anew. Di situ saya jelaskan bahwa PBB sekarang ini adalah sarang daripada negara-negara besar, didominasi oleh negara-negara imperialis. Sesungguhnya, perjuangan perombakan PBB adalah satu bagian daripada perjuangan anti imperialis.

Nah, Saudara-saudara, demikianlah beberapa ungkapan introspeksi dan mawas diri daripada tahun-tahun yang telah lampau. Panjang, ya 21 tahun ini penuh dengan pengalaman-pengalaman pahit dan manis, penuh dengan pengalaman-pengalaman plus dan minus. Kewajiban kita ialah mengoreksi minus-minusnya, menyempurna-kan plus-plusnya, sebagai bekal untuk perjalanan kita seterusnya, yang masih jauh dan niscaya masih berat itu. Men leert historie om wijs worden van tevoren, – ini dari seorang pujangga – pelajarilah sejarah untuk tidak tergelincir di hari depan, demikianlah Thomas Carlyle, begitu namanya ahli falsafah ini pernah berkata. Kepadamu saya berkata, pelajarilah sejarah perjuanganmu sendiri yang sudah lampau, agar supaya tidak tergelincir dalam perjuanganmu yang akan datang.

Itulah intisari daripada peringatanku tadi, Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, never leave history! Jangan sekali-kali meninggalkan sejarahmu sendiri – never, never leave your own history.

Telaah kembali, petani kembali.

Kenapa kita di masa lampau jaya?

Kenapa kita di masa lampau menderita tamparan-tamparan, menderita setbacks?

Jaya, karena kita kompak bersatu antara seluruh bangsa dan antara semua golongan revolusioner!

Jaya, karena kita samenbundelen van alle revolutionnaire krachten in de natie.

Jaya, karena semua kompak mengemban Panca Azimat Revolusi.

Jaya, karena semua kompak mengemban Pancasila.

Jaya, karena semua kompak mengemban Nasakom, atau Nasasos, atau Nasa apapun.

Jaya, karena semua kompak mengemban Manipol-USDEK.

Jaya, karena semua kompak mengemban Trisakti

Jaya, karena semua kompak mengemban Berdikari total!

Dan menderita tamparan, menderita setbacks, pada waktu kita terpecah belah dan tidak samenbundelen semua revolutionnaire krachten in onze nation!

Inilah sejarah perjuanganmu, inilah sejarah history-mu. Pegang teguh kepada sejarahmu itu – never leave your own history! Peganglah apa yang telah kita miliki sekarang, yang adalah akumulasi daripada hasil semua perjuangan kita di masa lampau, kataku tadi. Dan kataku tadi, jikalau engkau meninggalkan sejarah, engkau akan berdiri di atas vacuum, engkau akan berdiri di atas kekosongan, dan perjuanganmu nanti akan paling-paling bersifat amuk saja, seperti kera di gelap gulita.

Ada orang-orang yang tidak mau mengambil pengajaran dari sejarah, bahkan mau melepaskan kita dari sejarah itu. Itu tidak bisa. Mereka akan gagal! Sebab, melepaskan sesuatu rakyat atau bangsa dari sejarahnya adalah tidak mungkin. Nationaal biologis tidak mungkin, nationaal phychologis tidak mungkin. Dan tidak mungkin pula karena engkau, hai rakyat, hai prajurit-prajurit dari semua angkatan bersenjata, hai pejuang-pejuang progresif revolusioner, engkau tidak mau dipisahkan dari sejarahmu – sejarahmu sendiri, sejarah perjuanganmu sendiri.

Tanpa tedeng aling-aling, inilah ajaran Pemimpin Besar Revolusi (istilah Ketetapan MPRS), ajaran Bung Karno, ajaran Bung Karnomu, hai rakyat jelata, hai prajurit-prajurit arek-arekku yang memanggul bedil, hai semua pejuang progresif revolusioner, hai semua Laskar Revolusi Indonesia yang benar-benar bertekad mati-matian untuk berjuang membawa Revolusi Indonesia kepada Matahari Kemenangan yang abadi menyinari Indonesia dan seluruh jagad kemanusiaan.

Aku Pemimpin Besarmu, demikianlah kata MPRS, aku pemimpinmu, ikutilah pimpinanku ini, ikutilah semua petunjuk-petunjukku. Aku tidak punya pengongso-ongso, aku tidak punya keinginan keuntungan pribadi, aku tidak mengejar self interest. Aku hanya ingin memimpin engkau, aku hanya ingin memimpin engkau, antara lain karena juga ditugaskan MPRS, aku hanya menunjukkan jalan kepada engkau, selalu dengan engkau, tidak pernah tanpa engkau. Dengan engkau aku berdiri, tanpa engkau aku bukan apa-apa. Dengan engkau aku jaya, tanpa engkau aku gagal.

Jangan ragu-ragu, jangan bimbang! Marilah berjalan terus melanjutkan revolusi, di atas jalan yang aku tunjuk!

Ya Allah ya Robi, ridoilah Revolusi Indonesia di bawah pimpinanku ini!

Sekian, terima kasih.




Total comments: 0
avatar